Beranda

Futsal

Sepak Bola

Kompetisi

Galeri

Ragam




Curhat Ribka dan Tania Seputar Pengalaman Jadi Atlet Pelatnas


  •   Widya Amelia
  •   08/04/21 - 15:20
  •   1117 kali

Ribka Sugiarto dan Tania Oktaviani Kusumah berbagi cerita mengenai besarnya tantangan jadi penghuni Pelatnas Cipayung. Kedua pemain spesialis ganda putri ini dulunya adalah teman sekamar di asrama, namun kini Tania sudah tak lagi menjadi bagian dari timnas, sedangkan Ribka masih menghuni pelatnas. 

Keduanya mengakui jika sektor ganda putri adalah sektor paling rumit karena diisi oleh pemain putri yang perasaannya lebih sensitif dari pemain putra. 






“Memang benar sih, contohnya saja di kamar mandi asrama. Itu cuma anak ganda putri aja yang sering nyanyi-nyanyi di kamar mandi, yang lain kayaknya tidak ada deh, kami doang yang paling bawel,” kata Ribka dalam podcast Bolalob Badminton

“Makanya di ganda putri itu kadang ada berantemnya juga. Kalau sama partner berantemnya lebih sering di luar lapangan, tapi di dalam lapangan tetap kompak. Kalau di luar lapangan seperti punya dunia masing-masing,” tutur Tania. 

Ribka dan Tania pun sering berselisih karena masalah sepele. Misalnya saja soal kamar berantakan, Tania yang punya banyak barang, seperti sepatu dan baju seringkali memicu perdebatan di antara keduanya. 

Bicara soal pelatih, Ribka dan Tania kompak menyebut Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI, Eng Hian, sebagai pelatih yang tegas.

“Galaknya galak tegas. Koh Didi (Eng Hian) orangnya diam, tapi sekalinya ngomong langsung ngena di hati,” kata Tania.

“Tegasnya itu maksudnya kami harus lebih bertanggungjawab kalau lagi latihan,” tutur Ribka.

Ribka juga bercerita bahwa karakter Eng berbeda dengan asisten pelatih Chafidz Yusuf. Perbedaan karakter ini disebut Ribka dan Tania saling melengkapi di tim ganda putri pelatnas.
Kehidupan sebagai atlet di asrama tentunya tak lepas dengan interaksi bersama penghuni pelatnas termasuk para senior. Ribka dan Tania punya pengalaman berbeda ketika ditanya apakah mereka pernah dimarahi senior. Ribka mengaku tak pernah dimarahi seniornya, melainkan hanya diingatkan untuk lebih fokus dalam menjadi sparring partner latihan. 

Sebaliknya, Tania mengaku pernah dimarahi seniornya karena ada kesalahpahaman. Namun masalah ini sudah diselesaikan dan hubungan mereka baik-baik saja. 

Ribka dan Tania juga punya jawaban yang sama ketika ditanya apakah pernah ada orang yang membuat mereka menangis selama menjadi anggota pelatnas? Keduanya mengangguk dan hal ini sama-sama mereka alami setelah mendapat hasil pertandingan yang di luar harapan. 

“Waktu itu saya merasa diperlakukan tidak adil. Karena habis kalah tapi cuma saya yang dimarahi karena saya playmaker, padahal pasangan saya juga lagi jelek mainnya. Jadi saya nangis, saya bilang semua ke pelatih dan akhirnya pelatihnya minta maaf kalau menyinggung dan menjelaskan bahwa maksudnya baik,” ungkap Tania. 

“Kalau saya merasa sedih banget waktu kalah di leg Asia. Persiapan sudah maksimal, tapi di pertandingan kok hasilnya nol. Saya merasa nyesek banget, saya nangis waktu sampai kamar hotel dan telepon mama saya,” sebut Ribka. 

Ketika ditanya soal latihan paling berat, keduanya sama-sama mengatakan bahwa latihan di pelatnas memang cukup berat, baik latihan teknik maupun fisik. Ribka mengaku lebih suka latihan lari ketimbang latihan drilling yang dinilainya berat. 

Sebaliknya, Tania merasa lebih baik latihan drilling dibanding latihan lari di jogging track

“Saya pribadi lebih baik drilling daripada lari 40 putaran jogging track selama satu jam dengan kecepatan stabil,” kata Tania. 

Nggak sih, latihan drilling koh Didi lebih berat. Habis latihan di lapangan pasir, langsung drilling dua jam non stop dengan total lebih dari seribu shuttlecock. 40 shuttlecock dikali 20, ini baru untuk satu program. Kalau ditanya sih saya pilih lari,” ungkap Ribka.

 Terakhir diubah:  08/04/21 - 14:43