24 Mar 2017

APPI Respons Pembatasan Usia Pemain di Liga 1 dan Liga 2

Asosiasi Pesepak bola Profesional Indonesia (APPI) memberikan keterangan terkait dengan regulasi pemain yang diterapkan PSSI di kompetisi Liga 1 dan Liga 2. Respons APPI keluar menyusul keputusan PSSI yang membatasi klub memiliki dua pemain di atas 35 tahun.Selain itu, PSSI juga mewajibkan setiap klub memiliki lima pemain di bawah usia 23 tahun. Bahkan, tiga diantaranya harus dimainkan di babak pertama.Tak hanya Liga 1, respons tersebut juga adanya regulasi untuk klub-klub Liga 2 yang dibatasi mengontrak pemain dengan usia 25 tahun ke atas.[suggestedarticle]Dalam rilis resmi APPI, mereka sudah mengirimkan surat berisi pendapat dan masukan kepada PSSI. Pernyataan tersebut bertujuan untuk melindungi hak pesepak bola Indonesia.“Selanjutnya dalam waktu dekat ini, kami dan beberapa perwakilan pesepak bola senior (di atas 35) juga akan melakukan pertemuan dengan PSSI guna membahas regulasi pembatasan usia yang beberapa waktu lalu telah disampaikan oleh PSSI.”“Kami akan terus dan selalu berupaya mencari solusi yang terbaik untuk pesepak bola Indonesia terkait dengan regulasi pembatasan usia ini,"[suggestedarticle]“Oleh karenanya kami mohon kepada para pesepak bola Indonesia untuk bersabar dan menunggu hasil terbaik dari pertemuan kami dengan PSSI yang akan terselenggara dalam waktu dekat ini,” sebut rilis resmi dari APPI.Sebelumnya PSSI sudah menerapkan regulasi baru untuk pemain asing. Regulasi marquee player menjadi barang baru di kompetisi sepak bola Indonesia. Klub Liga 1 kini boleh memiliki pemain berstatus top dunia di luar kuota 2+1 atau dua pemain non-Asia dan satu pemain Asia.
24 Mar 2017

Ezra Walian di Antara 2 Legenda: Luis Milla dan Johan Cruyff

Ezra Walian menjadi naturalisasi terkini timnas Indonesia. Perannya memang belum terlihat nyata saat debutnya melawan Myanmar di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Selasa (21/3/2017). Namun, Ezra punya keterkaitan dengan Johan Cryuff dan pelatih timnas, Luis Milla.Nostalgia ‘perseteruan’ masa lalu masih diingat oleh Milla. Pelatih berambut ikal tersebut pernah merasa dicampakkan Cryuff di Barcelona. Milla pun lari ke seteru Barca, yakni Real Madrid. Dendam dengan Cryuff pun membuat Milla termotivasi membawa Madrid unggul dari klub Catalan tersebut.Tapi menariknya, saat berada di Indonesia, Milla yang sudah resmi menjadi arsitek Skuat Garuda mengatakan kepada para pelatih lokal Indonesia, bahwa Cruyff adalah sosok yang mengajarkan banyak hal bagi dirinya. Tentu mengejutkan apa yang keluar dari mulut pelatih berusia 51 tahun itu. Apakah Milla sudah melupakan masa lalunya, atau memang Milla pintar menjaga harkat dan martabat Cryuff sebagai maestro sepak bola dunia?“Enam tahun di Barcelona, beruntung saya bisa dilatih Johan Cruyff, ia mengajari nilai-nilai serta filosofi yang ia punya. Kini semua melihat Barcelona bermain indah karena itu yang ia ajarkan kepada saya, Pep Guardiola, hingga Luis Enrique,” cerita Milla.[suggestedarticle]Dari sini kita lihat, Milla pandai menutupi masa lalunya dengan sang maestro. Di hadapan pelatih-pelatih Indonesia, Cryuff di mata Milla merupakan sosok yang besar, melegenda, dan pelatih yang mengajarkan banyak hal dalam revolusi sepak bola modern Eropa.Berbicara Ezra Walian, Milla kini kembali bersinggungan dengan Cruyff. Sosok Ezra seperti Cruyff walau dalam skala yang lebih kecil. Cryuff lahir orang asli Amsterdam yang menjadi legenda sepak bola Ajax Amsterdam. Dengan prestasi 8 kali juara Liga Belanda, 5 kali juara Piala KNVB, 3 kali juara Liga Champions, 1 kali juara Piala Super Eropa, plus sekali juara Piala Interkontinental, sudah cukup membuat Cryuff jadi legenda di Amsterdam.Pada masa modern, Ezra Walian serupa dengan Cruyff. Pemain yang memulai debut bersama timnas Indonesia U-22 pada 21 Maret 2017 itu juga lahir di Amsterdam dan meniti karier sepak bola dari level akademi Ajax. Lahir di Amsterdam 22 Oktoer 1997, Ezra muncul ke bumi setahun setelah Cruyff berhenti dari kursi pelatih Barcelona.[suggestedarticle]Mau tahu lagi kesamaan Cruyff dan Ezra? Keduanya mengawali sepak bola menjadi penyerang di Jong Ajax atau tim Ajax Amsterdam II. Ezra pernah memperkuat timnas Belanda junior pada jenjang U-15, U-18, dan U-19. Meski kini sudah menjadi bagian Merah-Putih, namun keterkaitan Ezra dengan Cryuff tak lepas karena ada sosok pelatih Luis Milla, yang memiliki hubungan masa lalu Johan Cruyff.Takdir memang mempertemukan Milla dengan titisan Cruyff di Indonesia. Entah apakah Milla berpikirkan menuntaskan ‘dendam’ masa lalunya dengan sang maestro, atau melihat Ezra sebagai kebutuhan tim yang harus dipertahankan di skuat muda Indonesia.Semua keterkaitan tersebut memang unik. Bahkan jika mau memainkan ramalan gila, mungkin saja trilogi kisah Milla-Cryuff-Ezra berlanjut kepada Barcelona. Bukan tak mungkin Ezra bakal pindah ke Catalan suatu saat nanti, mengingat perfomanya yang terbilang lumayan di Jong Ajax.
1490351807176 false