Deretan Ketua Federasi Sepakbola yang Mundur Karena Skandal


  •    Robert
  •    29/11/18 - 13:30
  •    525

(Istimewa)

Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi tengah menjadi sorotan publik usai kegagalan Timnas Indonesia tampil baik di Piala AFF 2018. Indonesia kalah bersaing dengan Thailand dan Filipina untuk merebut tiket ke babak semifinal.

Dahaga prestasi di kancah internasional masih menjadi tugas utama seorang Ketua Umum PSSI, demi perbaikan sepakbola tanah air.

Edy juga sering mengucapkan komentar berbau kontroversi dalam beberapa kali kesempatan, ketika ditanya mengenai PSSI maupun Timnas Indonesia.

Desakan untuk mundur pun kembali disuarakan oleh suporter dan juga masyarakat Indonesia. Rangkap jabatan yang dilakukan oleh Edy, yang juga menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara dinilai akan mempengaruhi performanya sebagai seorang pemimpin federasi.




Kami memiliki lima nama ketua federasi yang berani mengambil langkah mundur baik karena kegagalan timnas mereka, maupun sebuah skandal. Berikut daftarnya:

1. Wolfgang Niersbach (Jerman)



Pada tahun 2015 lalu, Niersbach memilih mundur dari jabatannya sebagai ketua federasi sepakbola Jerman atau DFB karena ia terbukti memberikan suap kepada FIFA agar Jerman terpilih menjadi tuan rumah Piala Dunia 2006.

Niersbach mengatakan uang sebesar 6.7 juta pound itu dibayarkan sebagai bagian dari perjanjian pembiayaan dengan FIFA oleh penyelenggara turnamen untuk mendapatkan hibah 250 juta franc Swiss. "Untuk melindungi DFB dan posisi, saya mundur sebagai presiden DFB dengan berat hati," katanya. "Saya memutuskan untuk mengundurkan diri karena saya menyadari saya harus mengambil tanggung jawab politik."

Niersbach sendiri adalah mantan jurnalis olahraga, ia menjabat sebagai ketua umum DFB pada tahun 2012 lalu. Pada tahun 2016, sidang komisi etik FIFA menjatuhkan hukuman bagi Niersbach untuk tak terlibat dalam aktivitas sepakbola selama setahun. halaman 2 dari 3
2. Carlo Tavecchio (Italia)



Kegagalan Italia untuk lolos ke putaran final Piala Dunia 2018 membuat Tavecchio mundur dari FIGC pada tahun 2017.

Italia kalah agregat 1-0 dari Swedia dalam babak playoff, ini adalah kegagalan Azzurri melaju ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak tahun 1958 lalu.

Tavecchio sendiri terpilih kembali sebagai ketua FIGC pada Maret 2017 lalu. Ia sempat menjadi figur penuh kontroversi ketika melontarkan komentar rasis kepada pemain Afrika. Ia terkena sanksi enam bulan oleh UEFA dan FIFA kala itu.

3. Giorgos Sarris (Yunani)



Sarris berada di bawah kritik berat atas penunjukan Claudio Ranieri sebagai pelatih tim nasional tahun 2014 silam. Padahal di tangan Fernando Santos, Yunani sukses melaju ke babak perempat final Euro 2012 dan babak 16 besar Piala Dunia 2014.

Sejak itu, Yunani kalah di tiga pertandingan kandang di Euro 2016, termasuk hasil memalukan bagi Kepulauan Faroe pada 14 November. Setelah kekalahan itu, Sarris mengatakan bahwa ia menyalahkan pada pilihan pelatih secara eksklusif, tetapi menambahkan dia tidak memiliki niat untuk mengundurkan diri.

Sarris mengatakan bahwa alasan dia mengundurkan diri berkaitan dengan dana negara yang diblokir ke EPO, setelah federasi terbukti memiliki kewajiban pajak yang belum dibayarkan. Dia mengatakan pengunduran dirinya akan membuka kembali dana yang terblokir untuk klub amatir.

Sarris menambahkan dia tidak ingin masuk ke politik, menyangkal rumor bahwa dia berkampanye sebagai kandidat untuk oposisi utama Yunani SYRIZA dalam kasus pemilihan umum. halaman 3 dari 3
Kondisi Kesehatan Selengkapnya  
4. Tunku Ismail Sultan Ibrahim (Malaysia)



Sultan Johor ini mundur dari FAM usai satu tahun menjaba sebagai ketua federasi. Ia menjabat sementara, usai mundurnya Tengku Abdullah dari FAM.

Dalam waktu singkat Ia telah membawa perubahan struktural dan sistem baru ke dalam badan pengelola sepakbola negara. Ini termasuk mengadakan pertemuan exco reguler di setiap negara bagian.

Ia memilih mundur karena tak ingin terjadi tumpang tindih kepentingan. Tunku Ismail Sultan Ibrahim sendiri juga seorang pemilik klub yakni Johor Darul Takzim.

5. Kwesi Nyantakyi (Ghana)



Bulan Juni lali Nyantakyi mundur dari jabatannya sebagai ketua umum GFA karena skandal korupsi. Ia menerima uang suap sebesar $65 ribu yang tertangkap kamera oleh jurnalis BBC asal Afrika, Anas Aremeyaw Anas.

Pengadilan olahraga pun memutuskan Nyantakyi bersalah dan menjatuhi hukuman seumur hidup untuk tidak beraktivitas di sepakbola.

6. Ricardo Teixeira (Brasil)



Alasan sakit menjadi tajuk utama mundurnya Teixeira dari kursi ketua CBF pada tahun 2012 lalu.

Ia telah memimpin CBF selama 23 tahun, dan sedang dalam tuduhan skandal korupsi, suap yang ia bantah. Dia telah diselidiki karena dicurigai melakukan kejahatan termasuk penggelapan pajak tetapi tidak pernah dihukum karena pelanggaran apa pun.

Selama ia menjabat, Brasil memenangi dua kali gelar Piala Dunia yakni pada tahun 1994 dan 2002. Ia menjabat sebagai ketua pelaksana dalam tuan rumah Piala Dunia 2014.

Pada tahun 2001, Kongres Brasil menyelidiki Teixeira atas dugaan 13 kejahatan, termasuk penggelapan pajak, pencucian uang dan anggota parlemen yang menyesatkan, tetapi tidak ada dakwaan yang diajukan.

Dia juga telah diduga menerima suap dari sebuah perusahaan pemasaran yang bekerja erat dengan FIFA pada 1990-an.

Dan Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) menuduhnya melakukan perilaku yang tidak pantas selama penawaran untuk Piala Dunia 2018.
Terakhir diubah:  29/11/18 - 17:57







Berita Terkait


1541026801979

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?