Titik Nol Der Panzer, Timnas Indonesia, dan Sisyphus


  •    Tjatur Wiharyo
  •    30/11/18 - 18:40
  •    1763

(Ilustrasi Sepak Bola Indonesia. /Murfi Aji @Bolalob.com)

"Perjuangan menuju ke puncak itu sendiri sudah cukup mengisi hati manusia; orang harus membayangkan Sisyphus bahagia" - Albert Camus

Datang sebagai juara bertahan, tim nasional Jerman mengakhiri fase grup Piala Dunia 2018 Rusia sebagai juru kunci Grup F dengan nilai tiga hasil sekali menang dan dua kali kalah. Pencapaian Jerman di Piala Dunia 2018 adalah yang terburuk sejak mereka gagal lolos fase grup pada Piala Eropa 2000 Belgia-Belanda.

Melihat perjalanan Der Panzer dalam 18 tahun terakhir, Piala Dunia 2018 merupakan titik nol dari sebuah siklus, mengingat sejak 2002 hingga 2016, pencapaian terendah Jerman pada turnamen yang mereka ikuti adalah peringkat ketiga.

Yang menarik, dalam 18 tahun itu, timnas Jerman hanya mengalami tiga kali pergantian pelatih. Setelah Erich Ribbeck mengundurkan diri pada Juni 2000, kursi pelatih timnas Jerman diduduki oleh Rudi Voeller (Juli 2000-Juni 2004), Juergen Klinsmann (Juli 2004-Juli 2006), dan Joachim Loew.

Untuk Loew, ia diangkat menjadi pelatih timnas Jerman pada Juli 2006 dan masih terikat kontrak hingga 2022. Sebelum menangani timnas Jerman, Loew adalah asisten pelatih Klinsmann sejak Agustus 2004.

Sebelum menandatangani kontrak kerja baru sebagai pelatih Der Panzer, Loew memimpin Jerman mengarungi 106 pertandingan. Dengan jumlah itu, Loew menjadi pelatih yang paling sering memimpin Der Panzer.

Meski begitu, keputusan DFB mempertahankan Loew setelah Piala Dunia 2018 tetap merupakan hal menarik. Namun, keputusan itu menjadi bisa dipahami, mengingat sejak 2000 Jerman membangun sistem persepakbolaan secara menyeluruh yang membuat prestasi tak hanya digantungkan kepada seorang pelatih.

Pembinaan Pemain Muda
Pada Piala Eropa 2000, Jerman tersingkir pada fase grup juga sebagai kunci, dengan rekor tak pernah menang. Dalam tiga pertandingan, Jerman mendulang hasil 1-1 pada laga melawan Romania, kalah 0-1 dari Inggris, dan menyerah 0-3 kepada Portugal.

Setelahnya, DFB tak mencari kambing hitam, melainkan mengambil tanggung jawab dan, yang terpenting, melakukan perubahan dalam sistem kompetisi domestik. Pembinaan pemain muda adalah hal yang menjadi perhatian utama.

Perubahan itu dituangkan dalam regulasi, yaitu untuk mendapatkan lisensi berkompetisi, klub harus memiliki dan mengelola akademi sepak bola dengan baik. Pada saat itu, klub Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 menghabiskan 75 juta euro per tahun untuk mengelola akademi-akademi itu.

"Akademi-akademi klub Jerman harus memiliki 12 orang yang bisa bermain untuk timnas Jerman pada setiap kelompok umur," ujar Christian Seifert.

Kebijakan soal pengelolaan akademi bisa diterapkan karena regulasi soal kebijakan finansial. Sekitar 50 persen dari pendapatan klub digunakan untuk gaji pemain dan sisanya dialokasikan untuk hal lain, termasuk akademi.

Dengan kewajiban menyisihkan keuntungan untuk membina pemain muda dan pembatasan anggaran gaji pemain, klub "dipaksa" untuk menggunakan jasa pemain akademi dan dengan begitu menjadi lebih serius mengelola pemain muda.

Sistem pembinaan pemain muda menunjukkan hasil pada Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Saat itu, dari 23 pemain, 19 orang merupakan pemain binaan klub Bundesliga 1 dan empat lainnya binaan klub Bundesliga 2. Jerman mengakhiri Piala Dunia 2010 sebagai second-runner-up.

Pada Piala Eropa 2012, Jerman menampilkan pemain-pemain 23 tahun, antara lain Mario Goetze, Marco Reus, Toni Kroos, Mats Hummels, dan Thomas Mueller. Perjalanan Der Panzer pada Piala Eropa 2012 dihentikan Italia pada babak semifinal (kalah 1-2). halaman 2 dari 3
Regulasi finansial juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pembinaan pemain muda Jerman. Klub Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 akan diturunkan ke kompetisi di bawahnya jika tidak mampu membiayai operasional tim. Kebijakan ini dilakukan karena sepak bola profesional pertama-tama tidak bicara soal prestasi, melainkan kemampuan untuk menghidupi kegiatan mereka sendiri, termasuk pemain.

Klub-klub Bundesliga hidup dari tiket, sponsorship, dan hak siar televisi, bukan dari investasi orang kaya seperti Mansour bin Zayed Al Nahyan di Manchester City dan Nasser Al-Khelaifi di Paris Saint-Germain. Dengan begitu pula, Bundesliga menjaga nasionalismenya karena pemain, suporter, dan pemilik klub adalah warga Jerman.

Untuk mewujudkan keuangan klub dan kompetisi yang sehat untuk mendukung Der Panzer, DFB menetapkan sejumlah regulasi antara lain mengharuskan 51 persen saham klub harus dimiliki suporter, melalui program keanggotaan klub. Dengan begitu, tidak ada investor tunggal atau dominan dalam satu klub.

Vfl Wolfsburg dan Bayer 04 Leverkusen mendapatkan pengecualian dalam regulasi kepemilikan klub itu. Saham terbesar dua klub itu dimiliki Volkswagen yang bermarkas di Wolfsburg dan Bayer Pharmaceuticals yang berkantor pusat di Leverkusen.

"Bayer Leverkusen dan Wolfsburg adalah pengecualian. Jika sebuah perusahaan mendukung kegiatan sepak bola di sebuah klub selama 20 tahun lebih, maka mereka diizinkan membeli saham sehingga menjadi pemegang saham mayoritas," ungkap Seifert.

Setelah 18 tahun, sepak bola Jerman kembali ke titik nol. Namun, dengan sistem persepakbolaan domestik dan dipertahankannya Loew, sepak bola Jerman sebetulnya hanya menunggu, apakah bibit yang mereka tanam berkembang sesuai harapan.

Jika pun akhirnya gagal, Jerman punya ukuran untuk melihat apakah mereka kalah karena lawan berkembang atau apakah karena mereka perlu melakukan sesuatu terhadap sistem yang telah mereka bangun.

Saat Jerman menikmati buah reformasi persepakbolaan mereka, dan kini sudah kembali sibuk memperbaiki diri, dunia persepakbolaan Indonesia mengalami pasang-surut yang sulit untuk tidak disebut luar biasa. Selama 18 tahun perjalanan sepak bola Jerman, Indonesia mengalami dualisme pengelolaan sepak bola yang melahirkan Indonesia Super League dan Indonesia Premier League pada 2011-2012, pengelolaan yang carut marut hingga akhirnya pemerintah turun tangan sehingga sepak bola Indonesia dibekukan FIFA pada 2015, rangkap jabatan Ketua Umum PSSI, dan sekarang kasus pengaturan skor.

Dengan begitu, keberhasilan Timnas Indonesia menjuarai AFF U-19 pada September 2013, bukan pertanda perubahan pengelolaan ke arah lebih baik melainkan bukti bahwa Indonesia sebetulnya bisa bersaing, setidaknya di level Asia Tenggara. Kegagalan Timnas Indonesia U-16 dan U-19 menembus Piala Dunia U-17 dan U-20 2019 dan kegagalan Timnas Indonesia masuk semifinal Piala AFF 2018 adalah bukti bahwa Indonesia belum bisa mengoptimalkan potensinya.

Sebagai satu-satunya lembaga yang punya legitimasi dan lisensi pengelolaan sepak bola di Indonesia, PSSI adalah pihak yang bertanggung jawab atas situasi sepak bola saat ini. Namun, mengacu surat terbuka Luis Milla melalui instagram pada 21 Oktober 2018 dan pengakuan sejumlah tokoh sepak bola pada Mata Najwa 29 November 2018, sulit untuk tidak membandingkan sepak bola Indonesia dengan Sisyphus, yang dihukum mendorong batu karang ke puncak gunung. Ketika batu itu bergulir jatuh ke sisi gunung yang lain, Sisyphus akan kembali mendorong batu itu ke puncak hingga batu itu kembali bergulir ke bawah.

Dan, kita harus membayangkan Sisyphus bahagia... halaman 3 dari 3
View this post on Instagram

Today is not an easy day for me, since I will not continue as a coach in Indonesia. A project of more than a year and a half has come to an end, where despite the poor management, constant breaking of the contract and low professionalism of the leaders, over the last ten months, I leave with the feeling of having done a good job. . Indonesia will always be my second homeland, as I appreciate how well the Town has treated my wife, my assistants and myself. I would like to thank all my Staff their support and all the hard and professional work done, especially to BIMA, BAYU, DOCTOR PAPI, SR. ENRI, SUDIR, ARMIN, ALI, MANU, IPANG and UCCI. It has been a pleasure working with all of you! . Finally, I don´t want to say goodbye without a special mention to the players, who have shown commitment, modesty and the will to improve with an excellent attitude at all times. . I will never forget You and you will always be in my heart. Remember you have a friend in Spain for whatever. THANKS Indonesia! 🇮🇩 . . . Hoy es un día triste para mí, ya que no voy a continuar como Seleccionador de Indonesia. Termina un proyecto de más de un año y medio, donde a pesar de la mala gestión, incumplimiento constante del contrato y poca profesionalidad de los dirigentes en estos últimos diez meses, me quedo con la sensación de haber hecho un buen trabajo y sintiendo que Indonesia será mi segunda casa, por cómo nos ha tratado el pueblo de Indonesia tanto a mí, como a mi mujer y a mis ayudantes. . Quería agradecer a todo mi staff la ayuda, el trabajo bien hecho y profesional empezando por BIMA, BAYU, DOCTOR PAPI, SR. ENRI, SUDIR ARMIN, ALI, MANU, IPANG y UCCI. Ha sido un enorme placer haber trabajado con vosotros. . Por último, despedirme de los verdaderos protagonistas, los jugadores, que habéis demostrado en todo momento vuestro compromiso, humildad y ganas de mejorar, con una actitud ejemplar. Nunca os olvidaré y siempre estaréis en mi corazón. En España tenéis un amigo para lo que necesitéis. . GRACIAS DE CORAZÓN Indonesia! 🇮🇩 . Sampai jumpa iagi. Terima Kasih atas dedikasi dan waktunya Selena ini.

A post shared by Luis Milla (@luismillacoach) on



Galeri Foto: Perjuangan Timnas Indonesia Hadapi Filipina di Piala AFF 2018

Terakhir diubah:  02/12/18 - 10:08







Berita Terkait


1544260202423

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?