Kilas Balik 2018 : Isu Mafia Sepak Bola Mencuat, 4 Elite PSSI Terseret


  •    Rizqi Ariandi
  •    29/12/18 - 21:30
  •    535

Kilas Balik 2018 : Isu Mafia Sepak Bola Mencuat, 4 Elite PSSI Terseret
Bolalob

Pengujung tahun 2018 menjadi fase yang memberatkan bagi PSSI. Bagaimana tidak, di saat prestasi sepak bola nasional yang masih jalan di tempat, nama PSSI malah semakin tercoreng oleh kasus pengaturan skor di kompetisi yang melibatkan para pejabat terasnya.

Elite PSSI pertama yang terseret kasus pengaturan skor adalah anggota Komite Eksekutif (Exco) bidang pengelolaan kompetisi dan pengembangan sepak bola usia muda, Hidayat.

Nama Hidayat diungkap oleh Manajer Madura FC, Januar Herwanto dalam sebuah talkshow di salah satu televisi.

Januar mengatakan, Hidayat meminta Madura FC mengalah saat bertemu PSS Sleman dalam lanjutan pertandingan di Liga 2 2018.

Baca Juga :


"Saya tiba di Yogya, ada yang nelpon meminta Madura FC agar mengalah. Nanti Sleman juga akan mengalah kalau away ke Sumenep, Akan tetapi kami tidak mau," kata Januar.

"Waktu itu, dia sampai mengeluarkan angka dan menjamin Sleman akan mengalah. Mengeluarkan angka Rp100 juta untuk saya. Jangan bilang ke presiden klub, tidak bisa, ini sudah tidak bagus. Dia naikkan ke Rp110 juta, tetap kami tolak."

"Sehabis itu dia mungkin kesal, dia mengancam 'saya bisa lho beli pemain kamu'. Saya jawab silakan. Artinya bisa membeli pemain Madura FC. Bagi saya itu entah gertak sambal, akan tetapi sudah melebihi kepatutan sebagai exco. (Orangnya) Masih aktif, demi persepabolaan Indonesia saya harus menyebut nama. Namanya bapak Hidayat," ujar Januar.

Akibat kasus itu, Hidayat memutuskan mundur dari jabatannya sebagai anggota Exco. Namun, Ia tetap dihukum oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI. Komdis menghukum Hidayat larangan aktif selama tiga tahun di sepak bola Indonesia dan denda Rp150 juta. halaman 2 dari 2
3 Elite PSSI lain terjerat Selengkapnya  
Saat kasus Hidayat belum selesai, tiga elite PSSI lainnya terseret kasus penyuapan. Anggota Exco PSSI, Johar Lin Eng dan anggota Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, Dwi Irianto terlibat kasus pengaturan skor di Liga 3, sementara Papat Yunisal (anggota Exco) menyalahgunakan wewenangnya.

Bupati Banjarnegara yang juga Ketua Askot PSSI Banjarnegara, Budi Sarwono, mengaku pernah diminta Rp500 juta oleh Johar. Sebagai imbalannya, Johar yang juga menjabat Ketua Asprov PSSI Jawa Tengah, akan menunjuk Banjarnegara sebagai tuan rumah babak 32 besar Liga 3.

Selain Johar, anggota Komdis PSSI, Dwi Irianto pun disebut mendapat aliran dana dari manajemen Persibara Banjarnegara. Manajer Persibara yang juga putri dari Budhi Sarwono, Lasmi Indaryani yang mengungkapnya.

Lasmi mengatakan, bersama Johar, nama Dwi Irianto, yang disebut Mr P alias Mbah Putih mendapat uang dengan total Rp40 juta. Rinciannya, Johar mendapat Rp25 juta dan Mbah P yang juga menjabat sebagai Ketua Asprov PSSI DIY mendapat Rp15 juta.

"Mbah Putih itu Asprov PSSI DIY,  (anggota) Komisi Disiplin PSSI Pusat. Saya tak tahu nama lengkapnya," kata Lasmi dalam acara Mata Najwa.

Di acara yang sama, Lasmi juga menyebut-nyebut nama anggota Exco bidang sepak bola wanita, Papat Yunisal.

Lasmi merasa ditipu ratusan juta oleh Papat. Politisi Partai Demokrat itu mengaku pernah ditawari jabatan manajer sepak bola Timnas U-16 Putri oleh Papat.

Saat itu Lasmi dan Budhi Sarwono sudah mengeluarkan Rp300-400 juta untuk pemusatan latihan Timnas U-16 Putri di Banjarnegara.
Terakhir diubah:  31/12/18 - 04:31






Video Trending



Berita Terkait


1600585202531

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?