INJURY TIME: Timnas Indonesia Berharap pada Bos 'Modal 'Nekat'


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    29/03/19 - 18:00
  •    2821

Bolalob

Rejection is God’s way of saying wrong direction

anonymous


Sepintas, kalimat di atas terdengar seperti sebuah sebuah kata-kata penghiburan belaka. Basi! Gagal ya gagal aja. Kalah ya kalah. Ditolak ya ditolak. Nggak usah cari alasan, apalagi pembenaran.

Dan, menurut saya pribadi, memang seharusnya seperti itulah kita bersikap. Itu sebabnya saya sengaja menanamkan sikap siap gagal, kalah, ditolak – sedini mungkin pada anak saya.

“Mas, kalau main game itu nggak harus selalu menang,” kata saya pada Pho jika mulai ada gelagat mem-pause game Plant vs Zombie-nya saat terdesak. “Itu namanya tidak gentle kalau di-restart.”

Jelas saja Pho langsung memasang muka masam. Merajuk. Di saat itulah Ibunya – yang mungkin jauh lebih sabar dari Bapaknya, datang mendekat menyiramkan kata-kata yang lebih sejuk sekaligus positif.

“Sini mas main sama Mama,” kata istri saya sambal beringsut mendekat. “Kita coba susun tanaman yang lebih kuat ya supaya bisa menang lawan Zombie. Tapi kalau akhirnya kalah juga ya nggak papa, yang penting mas Pho sudah mencoba semampunya.”

Simon McMenemy mungkin tidak seberuntung Pho ditemani sang ibu belajar menyikapi kekalahan dalam hidup – meski dimulai dari persoalan yang paling sederhana: main game. Orangtua Simon, pelatih baru Timnas Indonesia senior ini, berpisah di saat Simon tumbuh besar. Tetapi, Simon beruntung hidup bersama bapaknya yang diakui sangat mendukung kecintaan Simon kecil pada sepakbola. halaman 2 dari 4
Kegagalan Datang Bertubi-tubi Selengkapnya  

“Profesinya sebagai seorang pilot tak menghalanginya menonton semua pertandingan saya,” kisah Simon seperti tertulis di situs resmi sang pelatih. “Dia menonton semua pertandingan saya mulai kelompok usia U-6 sampai U-18, di tim senior dan level semi pro, sampai saat saya menjadi pelatih-manajer di Haywards Heath FC. Bahkan dia sengaja masuk ke dalam club board untuk men-support saya dari dalam klub.”

Entah sebuah fakta atau hanya pengakuan sepihak, pria kelahiran Abeerden, Skotlandia, 6 Desember 1971 ini mengaku sebagai salah satu pemain berbakat di eranya dan mencetak banyak gol ke gawang lawan. Toh dia gagal trial di Southampton dan Wycombe Wanderers.

Gagal dilirik pemantau bakat akhirnya menyadarkan Simon bahwa dia tidak akan pernah bisa menggapai mimpinya bermain untuk klub besar di level profesional. Kepercayaan diri Simon semakin merosot saat divonis punya masalah di tulang belakang yang membuatnya diputuskan tak akan pernah bisa menjadi atlet. Dan, sekaligus harus kehilangan beasiswa yang dia dapatkan. 

Saat itulah dia memutuskan banting stir menekuni profesi pelatih. Mulai dari sebuah tim SMA di Amerika Serikat, lalu tim wanita di kampusnya di Inggris, kemudian mencoba ikut program community service di Arsenal Soccer School, Chelsea Soccer School, Brighton and Hove Albion. Kesemuanya boleh dibilang tak berjalan mulus seperti harapannya.

Kegagalan kembali mendatangi Simon Alexander McMenemy – nama lengkapnya. Sadar karier kepelatihannya tak seperti yang diharapkan, Simon memilih menekuni pekerjaannya sebagai Manajer Pengembangan Nike di Inggris. November 2008, Simon secara kebetulan ditunjuk membantu Lucas Leiva, pemain Liverpool, membintangi iklan untuk Nike Asia. Kemampuannya sebagai pemain bola dan sekaligus pelatih membuat Nike senang karena tidak perlu menyewa talent lain untuk membuat iklan mereka.

Setelah itu, tawaran membuat iklan datang silih berganti. Simon pernah bekerja bersama sejumlah pemain top dunia sekelas Marco Materazzi, Alexander Pato, Gennaro Gattuso, Ronaldinho, Cesc Fabregas, Denilson, Theo Walcott, Robbie Keane, Gabby Angbonlahor, Aaron Lennon. Bukan melatih atau berlatih bersama mereka, tetapi sekadar bekerja bersama untuk membuat iklan! halaman 3 dari 4
Melamar Via Facebook Selengkapnya  


Cobaan belum mau pergi. Kontrak dengan Nike berakhir ketika kakinya patah. Dalam masa pemulihan yang amat sangat berat saat itu – lahir dan batin karena kehilangan mimpi terbesarnya, Simon ditolong Facebook. Berkat chat dengan Chris Greatwich – mantan anak didiknya di sebuah klub di Inggris, Simon memberanikan diri mengirim lamaran kepada federasi sepakbola Filipina yang sedang mencari pelatih.

Dan… berhasil! Empat minggu setelah lamaran dikirim, Simon dikontak dan diminta melakukan presentasi. Ajaib, lamaran Simon diterima. Dari seorang pengangguran di ambang depresi, tiba-tiba Simon dipercaya melatih tim nasional sebuah Negara di Asia Tenggara!

Pelatih nyaris tanpa pengalaman berarti ini ternyata sukses meloloskan timnya ke babak semifinal Piala AFF 2010 Suzuki Cup. Lolos sebagai juara grup, kemenangan tunggal atas Vietnam bahkan sempat disebut sebagai "Top 10 soccer stories of 2010" versi kolumnis Georgina Turner yang ditulis di Sports Illustrated.

Salah satu keajaiban sepakbola yang terjadi di tahun itu.

Meski langkah Filipina terhenti di kaki Timnas Indonesia dengan skor 2-0 dalam pertandingan home and away (Filipina dua kali bermain di Jakarta karena tidak memiliki stadion yang memenuhi standard), nama Simon McMenemy melambung tinggi sebagai pelatih ajaib.

Sayang, lagi-lagi prahara mendatangi sang pelatih. Kontraknya hanya berusia 4,5 bulan lamanya. Isunya, Simon dipecat karena tidak memenuhi syarat lisensi kepelatihan yang menjadi syarat melatih timnas sebuah Negara. Meski, kepada pers, Simon mengaku pemecatan yang dilakukan via Twitter itu karena konspirasi akibat adanya pergantian presiden federasi. Entahlah… halaman 4 dari 4
Harapan Ratusan Juta Manusia Selengkapnya  


Yang pasti, sejak itu Simon tak kesulitan menemukan pekerjaan baru. Pria bersahaja ini kemudian melanjutkan kariernya di Đồng Tâm Long An (Vietnam), Mitra Kukar, Pelita Bandung Raya, New Radiant (Maldive), Loyola Meralco Sparks (Filipina), Bhayangkara FC, sebelum ditunjuk menjadi pelatih timnas Indonesia senior pada awal 2019 lalu.

Peraih Person of the Year 2017 versi Bolalob usai membawa Bhayangkara FC menjuarai Liga 1 2017 itu tak akan pernah bisa menduduki jabatan pelatih timnas Indonesia yang sangat prestisius sekaligus berbeban berat itu tanpa kenekatannya menerjang segala penolakan dan situasi tak menguntungkan sepanjang perjalanan hidupnya. Ditolak jadi pemain bola professional, gagal menjadi pelatih dalam program community service, bahkan diputus kontraknya secara sepihak.

Posisinya di timnas Indonesia pun sempat digoyang dengan isu lisensi kepelatihan yang tak memenuhi syarat. Tapi, faktanya, hari ini Simon McMenemy menjadi harapan publik usai kemenangan gemilang 2-0 atas Myanmar di kandang lawan. Meski hanya sekadar uji coba, kemenangan itu seakan memberikan janji pelepas dahaga prestasi Garuda yang sudah lama tenggelam dalam peraturan internasional.

Suatu hari, jika diberi waktu dan kesempatan, saya ingin mengajak Pho berkenalan dengan Coach Simon. Bukan belajar tentang cara melatih yang baik, tetapi soal kenekatannya meng-hande penolakan, kegagalan, pun kekecewaan yang bertubi-tubi mendatanginya.

Sederet pil pahit yang tak membuatnya berhenti – apalagi menyerah, tetapi semakin nekat mengejar mimpi-mimpi besarnya… Persis seperti itulah saya berharap kelak Pho membangun karakter dan pribadinya sekeras kepala Coach Simon…

Jakarta, 29/03/19 – twitter: @angrydebritto, Instagram: @papaphoe

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  10/05/19 - 20:50







Berita Terkait


1558078801322

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?