INJURY TIME: Kala Egy Maulana Vikri Bungkam Maha Nyinyir Netizen Indonesia


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    05/04/19 - 19:00
  •    20974

Bolalob/Jones-Instagram

Tidak pantaskah Egy Maulana Vikri ikut bahagia dan merasa menjadi bagian sejarah klubnya meraih gelar pertama dalam 36 tahun sebagai juara Piala Polandia? Ternyata masih ada juga orang yang nyinyir yang sempat-sempatnya mampir ke akun Instagram pemain muda harapan Indonesia ini dan meninggalkan pesan yang mengundang emosi. 

Beruntunglah pemain muda kita ini membalasnya dengan bijak. Sebuah tanda bertambahnya kematangan, kedewasaan, kesabaran menjalani statusnya sebagai bintang masyarakat - yang tak selamanya menyenangkan. 

                             * * *

[Jangan pernah jadi istimewa pun luar biasa jika tak siap patah dan terluka. Jangan! Itu berat. Jadilah saja orang biasa yang tak perlu repot-repot menempa diri menanggung harapan semua orang.]


Beberapa hari lagi pacar saya akan berulang tahun. Layaknya laki-laki yang ingin membuat gadisnya terkesan, saya berniat membeli tas mungil kesukaannya. Untuk memastikan tak salah pilih dan tak salah beli, saya ajak sahabat terbaiknya ikut ke toko tas langganannya.

Tibalah hari itu… Tampil seganteng mungkin dengan baju gaul pinjaman – plus sedikit semprotan parfum murahan, saya mendatangi rumah kontrakannya dengan menenteng setangkai bunga dan tentu saja hadiah kejutan yang dibungkus se-eksklusif mungkin.

Sempurna, at least di awal…




Dia melonjak kegirangan – entah benar- benar terkejut atau sekadar menyenangkan hati saya, merengkuh kado itu, membuka isinya. Dengan sangat percaya diri, saya menanti reaksi selanjutnya setelah dia melihat tas mungil yang – menurut sahabatnya – pasti dia suka.

Dan… ternyata… justru raut muka kecewa yang saya lihat! Pacar saya tak suka dengan tas itu. Merk favorit dan harga lumayan untuk ukuran saya kala itu tak menolong keadaan. Kejutan yang seharusnya indah dan berkesan berubah menjadi moment sarat kecewa, sesal, gagal.

Sejak itu saya berjanji pada diri sendiri tidak mau lagi merencanakan kejutan. Saya tak cukup punya mental baja untuk melihat usaha keras saya gagal total. Bukannya mendapat apresiasi seperti yang saya inginkan, justru depresi karena jadi ketahuan tak tahu selera pacar sendiri.

Jika kekecewaan secuil itu saja bisa sangat mematahkan hati, mari kita bayangkan perasaan seorang pemain muda bernama Egy Maulana Vikri membaca selarik kalimat nyinyir di akun Instagram-nya - mengomentari sebuah postingannya.

View this post on Instagram

Alhamdulillah Champions Puchar Polski🎉🙏🏻😇💚 What A Team,Bravo💪🏻🔥 #semangatmenolakmenyerah

A post shared by Egy Maulana Vikri (@egymaulanavikri) on



"Alhamdulillah Champions Puchar Polski. What A Team, Bravo #semangatmenolakmenyerah," tulisnya di unggahan fotonya berpose dengan Piala Polandia yang baru saja direngkuh timnya usai mengalahkan Jagiellonia, 1-0.

Di antara 5,834 comment di unggahan itu, tiba-tiba terselip sebuah komentar yang sangat tidak pantas. "Haha emg lo berkonstribusi apa wkwkwk??? Dasar pemain halu."

Memang benar Egy tak main dalam pertandingan itu. Anak muda ini belum menjadi pemain reguler di tim senior, tetapi menjadi andalan di tim kedua. Sudah 11 gol dilesakkannya ke gawang lawan dari 15 pertandingan. Bukan catatan yang layak disepelekan. 




Dan, jangan lupa, Egy juga pernah sekali tampil membela tim senior, dan beberapa kali duduk di bench ketika tim senior berlaga di Ekstralaksa League - liga utama Polandia. Egy adalah bagian tak terpisahkan dari gelar pertama Lechia Gdansk dalam 36 tahun setelah terakhir mengangkat piala yang sama musim 1982-83.

Beruntung Egy menjawab kenyinyiran itu dengan sangat sederhana. Meminjam sebuah analogi tentang ikut menjadi bagian dari sesuatu yang kita tak terlibat langsung di dalamnya.

"Terus nanti kalau timnas Indonesia juara dirimu kan enggak main? Kamu bangga enggak kalau Indonesia juara? Banyak-banyak bersyukur bang." 

Jawaban cerdas dari seorang pemain muda yang mencoba bijak menyikapi sikap nyinyir yang mendatanginya.  halaman 2 dari 3
Langganan Kambing Hitam Selengkapnya  

Sikap nyinyir dari penggemar, juga media, bukan kali ini saja dirasakan Egy Maulana Vikri. Belum hilang dari ingatan bagaimana pemilik kostum nomor 10 ini sempat menjadi bulan-bulanan usai dijadikan kambing hitam kegagalan Timnas U-23 di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020.

Netizen, pengamat, bahkan media asing ikut-ikutan mempertanyakan kualitas seorang pemain kelahiran Medan ini. Ada yang menyebut permainannya menurun jauh, terlalu dipaksakan dipanggil dari Polandia dan dimainkan dalam pertandingan tanpa persiapan cukup, atau sekadar mengkritik kontribusinya yang nyaris tidak terlihat dalam 2 pertandingan penting yang dijalaninya.

Kalah 0-4 dari Thailand dan 0-1 dari Vietnam dianggap sebagai kegagalan seorang Egy sebagai pemain pilar, penyelamat pertandingan dan juru selamat timnya. Sedikit sekali simpati dan empati yang diberikan publik padanya.

Not every mistake should be mistaken for a "punishment". Sometimes the treatment is "love".

Anonymous

Kita, pencinta sepakbola Indonesia dan timnas, rasanya terlalu tinggi menumpukan harapan pada pemain yang baru berumur 18 tahun ini. Kegalauan kita melihat prestasi timnas yang tak kunjung membaik – plus euforia Juara Piala AFF beberapa saat lalu, membuat harapan melambung sangat tinggi. Ketika mimpi itu kandas, dicarilah sasaran yang paling empuk: Egy.

Egy tak bisa dipungkiri adalah salah satu pemain paling menonjol dalam tim, bahkan di Indonesia. Namanya meroket usai resmi dikontrak oleh Lechia Gdansk yang kini masih mengejar titel juara liga di Liga Polandia. Meski baru sekali main untuk tim utama, bagaimanapun tak bisa disangkal bahwa Egy yang masih sangat belia sudah bisa menembus persaingan ketat di salah satu liga Eropa.

Harapan baru Indonesia!




Jauh sebelumnya, nama Egy juga melambung ketika terpilih menjadi pemain paling menjanjikan di ajang Touloun Tournament. Gelar individu yang pernah diraih Cristiano Ronaldo dan Zinedine ZIdane. Egy juga memuncaki Top Skor Piala AFF U-19 dengan koleksi 8 gol. Tak lama berselang, namanya masuk dalam 60 Pemain Muda Terbaik di Dunia versi The Guardian.

Sederet prestasi itu justru tampaknya memberi beban berat pada sang pemain. Dia dituntut selalu bisa menampilkan pemain terbaiknya, mengirim assist empuk atau mencetak gol penting, dan sebisanya harus menang dan juara. Padahal, mustahil seorang pemain bisa terus-terusan tampil gemilang, apalagi bermain untuk sebuah tim yang tak semuanya berada dalam level yang sama.

Di satu sisi, bakat besar dan prestasi Egy adalah anugerah besar yang tentu patut disyukuri. Namun, di sisi lain, hal itu dengan mudah menjadi ‘hukuman’ baginya jika dia gagal memenuhi ekspektasi yang menggelayut makin berat di pundaknya. halaman 3 dari 3
Jangan Hukum Egy Selengkapnya  
Untunglah Egy memilih diam seribu Bahasa. Menolak membalas kritik itu dengan mengumbar cerita di sosial media, misalnya, yang sering dipertontonkan oleh public figure. Menjauhi kontroversi dengan bahkan tak menjawab pertanyaan masyarakat dan wartawan mengenai kritik-kritik itu. Menerima, tetapi tentu dengan sesak di dada.

Kala itu, hanya sebuah noktah hitam di sebidang warna putih yang diunggah di akun pribadinya. Sebuah simbol betapa kita kadang terlalu fokus dengan sebuah kesalahan dan di saat yang bersamaan melupakan kebaikan, prestasi, kontribusi cemerlang orang tersebut di masa lalu.

Kita punya pilihan untuk menghukum Egy dengan bakat besarnya yang kadang tak sesuai ekspektasi kita, atau berempati pada beban berat di pundaknya dengan minimal tak ikut-ikutan menghujatnya.




Paling tidak Egy jauh lebih kuat dibandingkan dengan saya. Sampai hari ini saya tak pernah lagi mau memberi kejutan, apalagi hadiah tak terduga, untuk pacar saya itu – yang kini telah resmi menjadi istri saya satu-satunya.

Saya memilih menjadi suami biasa yang kadang-kadang malah lupa dengan hari ulang tahun istrinya, jauh dari kata romantic dan kehabisan stok surprise seperti suami-suami lain… karena, memang, tak semua kita ditakdirkan untuk menduduki posisi istimewa…

Tak semua kita ditakdirkan istimewa.

Injury Time



Jakarta,05/04/19 – twitter: @angrydebritto, Instagram: @angrypapaphoe

Catatan: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.
Terakhir diubah:  04/05/19 - 11:35







Berita Terkait


1563408002640

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?