INJURY TIME: Huru-hara Thanos Merusak Pesta Solskjaer Sang Avangers MU


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    27/04/19 - 10:30
  •    3386

Bolalob.com/Jones

Manchester United lagi-lagi tersandung batu keras. Ditahan imbang 1-1 oleh Chelsea dengan permainan tak meyakinkan. Bahkan David de Gea melakukan blunder fatal.

Sempat dilekati predikat sang penyelamat, Ole Gunnar Solskjaer dengan cepat kehilangan semua sentuhan emasnya. Manchester United yang sempat meroket sensasional tiba-tiba seperti kehabisan semua amunisi dan ambisinya.

Bak epik Avengers: Endgame, superhero MU sedang kewalahan melawan teror Thanos berbentuk sederet kekalahan menyesakkan.

Bagaimana Ole Gunnar Solskjaer menyikapinya?

 * * *

[Cara terbaik untuk mencintai adalah dengan berbuat dan menunjukkannya. Bahkan saat mereka mencibir, mengejek air mata cintamu, teruslah memahat rasa itu sampai kau tersenyum bahagia.]


Saya bukan penggemar film. Kalau bukan karena ajakan istri saya yang sangat memuja film-film keluaran Marvel Studios maupun Warner Bros produsen kisah-kisah heroik superhero, tak akan saya peduli pada fenomena heboh Avengers: Endgame.

Memang saya tidak sampai bangun jam 4 pagi demi datang ke bioskop jam 5 pagi seperti banyak orang melakukannya. Tidak juga sampai begadang hanya demi memesan tiket pre-sales di aplikasi. Tapi, saya cukup beruntung masuk golongan the first watcher yang bisa nonton di hari pertama.




Sebagai awam yang tak mengikuti sekuel superhero ini sejak awal, saya menganggap film ini biasa saja. Tapi, yang membuat saya tercengang adalah keberhasilan Captain America dkk mengaduk-aduk emosi pemujanya selama 3 jam lebih 1 menit – panjang durasi film itu.

Bahkan saat mereka mencibir, mengejek air mata cintamu, teruslah memahat rasa itu sampai kau tersenyum bahagia.

Injury Time


Istri saya kedapatan menyeka air matanya saat melihat jagoannya tercebur ke dasar jurang. Belum ada apa-apanya dibandingkan seorang wanita persis di belakang kami yang menangis sesenggukan tak berhenti sampai lampu bioskop terang-benderang. Seolah-olah dia benar-benar sedang berduka kehilangan seseorang yang sangat dekat dan sangat dicintainya...

Jangan tanyakan berapa kali tepuk tangan bergema ketika ada adegan seru berkumpulnya kembali seluruh superhero, adegan keluarnya kehebatan masing-masing hero, atau sekadar tertawa terbahak-bahak melihat adegan demi adegan konyol yang dipertontonkan oleh sosok Thor yang sekarang menggemuk. Kami, para penonton, benar-benar dibuat terpukau oleh adegan demi adegan yang ditayangkan - seolah menjadi bagian dari cerita itu sendiri.

Ibarat magnet, sesuatu yang sangat dipuja tampaknya memang mudah sekali memicu reaksi. halaman 2 dari 3
Sensasi Solskjaer Selengkapnya  
Jika Marvel Comics yang baru diterbitkan pada tahun 1961 itu mampu membius pemujanya sekuat itu, bayangkan bagaimana sebuah klub - mungkin salah satu yang terbaik dan terkaya di dunia, Manchester United, yang lahir tahun 1878 itu bakal meraja di benak pengagumnya. Entah berapa banyak tawa, tangis, sedih, bahagia yang muncul karena klub berjukuk Red Devils itu.

Maka, siapapun yang menakhodai klub itu harus rela menjadi sorotan semua pihak yang merasa berkepentingan dengan Manchester United. Tak terkecuali Ole Gunnar Solskjaer yang sejak Desember 2018 ditunjuk sebagai manajer sementara menggantikan the famous one: Jose Mourinho.

Awalnya, sensasional!



Bukan hanya menang 14 kali dari 19 pertandingan, selalu menang dalam 5 partai pertama, tapi juga mencetak total 40 gol dan hanya kemasukan 17 gol. Sebagai manajer sementara, manajer yang baru berumur 46 tahun membuai suporter dengan kemenangan prestisius atas Tottenham, Arsenal dan Chelsea di partai kandang – plus menang dramatis di kandang PSG.

Solskjaer dinilai mampu mengembalikan aura kemenangan MU. Di luar lapangan, sosoknya yang sangat sederhana, rendah hati, sarat empati dan perhatian pada seluruh pilar klub; dianggap sosok sempurna untuk memimpin skuad sarat bintang.




Di sisi lain, manajer asal Norwegia ini dianggap berhasil memberi contoh yang membumi dengan mengembalikan tradisi lama seperti kewajiban memakai jaket klub menjelang pertandingan, memakai jas di acara resmi, dan melayani permintaan tanda tangan dari fans. Kontrak 3 tahun langsung diberikan manajemen MU, meski sebenarnya sang manajer berjanji akan pulang ke Malmoe di akhir musim ini.

Semuanya tampak sempurna. Spirit Avengers – kumpulan superhero yang berniat baik mengembalikan kejayaan klub yang sempat redup – terwujud dalam bentuk nyaris sempurna dengan kemenangan di lapangan plus kewibawaan di luar lapangan. Semua orang bersorak gembira. halaman 3 dari 3
Cinta Mati Solskjaer Selengkapnya  
Sampai sosok Thanos datang dalam bentuk beragam sandungan, kesulitan, pun kekalahan yang harus diderita Manchester United di banyak laga. Tiba-tiba raport Scholes kebakaran. Penuh warna merah. Tersingkir dari FA Cup, dipermalukan Barcelona di Liga Champions, dan tercecer dari perebutan posisi 4 besar Liga Inggris.

Solskjaer hanya mampu menang 2 kali dan kalah 7 kali dalam 9 pertandingan sejak didaulat menjadi manajer permanen. Menurut catatan, MU bahkan mandul selama 4 jam, 40 menit sejak terakhir mencetak 2 gol ke gawang West Ham, 13 April, dari titik putih. Jika menghitung gol dari open play, kemandulan MU bertambah panjang menjadi 8 jam, 47 menit!




Kali terakhir MU gagal mencatat clean sheet - bertanding tanpa kebobolan sepanjang pertandingan - dalam 12 pertandingan seperti saat ini adalah 48 tahun lalu – Agustus 1971. Rekor buruk lain: hanya 2 kemenangan yang diraih dari 9 partai – atau 28 persen, adalah rekor terburuk manajer permanen dalam sejarah MU. Masih banyak rekor-rekor buruk lain yang menyertai langkah berat Solskjaer menghadapi tekanan publik untuk segera bangkit.

Masalah tambah pelik dengan suasana ruang ganti yang memanas. Beberapa pemain bintang disinyalir sudah meminta pindah, beberapa yang lain dilaporkan kehilangan respek pada manajer baru. Di sisi pengamat, pendapatnya nyaris sama: MU telihat tidak siap secara fisik, secara kualitas permainan, dan secara taktik dan strategi.




Solskjaer bergeming. Dia tak terlihat marah atau gusar. Beda dengan pendahulunya yang rajin menyalahkan pihak lain, manajer berjuluk baby face assassin kala masih menjadi pemain ini memilih bersikap kalem. Berjanji memperbaiki, mulai dari dirinya sendiri.

“Ketika kamu berada di Manchester United, semua sorotan akan tertuju ke arahmu. Kamu harus memastikan bekerja keras setiap hari karena itulah tugasmu. Saya memiliki concern besar pada serentetan hasil buruk yang kami dapat belakangan ini, tetapi dalam situasi buruk seperti ini bukan saatnya menyalahkan pihak lain,” kata Solskjaer tetap dengan kesantunan yang luar biasa.

Terakhir, Blunder De Gea yang memaksa MU diimbangi Chelsea 1-1 tak juga mampu menyulut kemarahannya. "Itulah sepakbola. Kita tidak bisa menyalahkan seorang pemain."



Kecintaan luar biasa pada Manchester United, sejarah dan suporternya, membuat Solskjaer memilih untuk bertahan. Tidak menyalahkan siapapun, tidak menyerang siapapun, tidak menumpahkan kemarahannya pada siapapun. Dia percaya, kelak, senyumnya akan mengembang setelah menjalani periode penuh cibiran dan kesakitannya saat ini.

Spirit Avengers dalam dirinya masih jauh lebih besar dibandingkan ketakutan banyak orang pada daya rusak dan efek buruk badai Thanos mengobrak-abrik teater impian Manchester United, Old Trafford…

Memahat bukan pekerjaan mudah. Apalagi memahat cinta dalam patung kehidupan kita masing-masing.

Injury Time



Jakarta, Avengers After Effect, 26/04/19 – twitter: @angrydebritto

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  03/05/19 - 14:43







Berita Terkait


1563538201702

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?