INJURY TIME: Jangan Masuk Penjara (Imajiner) Lagi, Marko!


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    13/04/19 - 19:00
  •    6284

Bolalob

Akhirnya sang bintang yang telah lama dinanti fans Persija Jakarta, Marko Simic, bisa juga meninggalkan negeri Kanguru dan mendarat di Jakarta! Berbulan-bulan tertahan di sana, semoga dia tak lantas kehilangan sentuhan emasnya untuk klub kebanggaan klub ibukota itu.

Yang pasti, semua berharap semoga Simic bisa belajar dari pengalaman buruknya itu. Jangan lagi berulah macam-macam. Lebih banyak risiko buruk yang dia tanggung - termasuk untuk klub dan suporter.

Simic harus menyadari posisinya sebagai bintang yang bakal terus menjadi sorotan. Dan, sebaiknya, mulai peduli pada jeratan 'penjara imajiner' yang bakal selalu menyertai kemanapun sang bintang melangkah. 


                                 * * *   

[Penjara tak hanya berupa sebuah ruangan kecil berbatas jeruji besi. Belenggu kebebasan juga bisa berbentuk jelujur menjurai ekspektasi berlebihan dalam bungkus konsekuensi sang sempurna. Haruskah kita terbebas total darinya?] 
 

Ada suatu masa saat saya sangat mengidolakan Dewa19. Di masa jayanya di era 90’an, band asal Surabaya itu tampaknya mampu mewakili menyuarakan gejolak di dalam dada penikmatnya. Tentang cinta, bahagia, duka, pun nestapa.

Ketika terpaksa menjalani pacaran jarak jauh, misalnya, entah berapa ratus kali lagu Kangen saya putar...

Semua kata rindumu semakin membuatku, tak berdaya
menahan rasa ingin jumpa
Percayalah padaku akupun rindu kamu
Ku akan pulang, melepas semua
kerinduan, yang terpendam

Atau saat patah hati yang entah berapa kali saya rasakan, Cintakan Membawamu seakan jadi obat mujarab…

Cinta'kan membawamu... kembali di sini,
Menuai rindu… Membasuh perih
Bawa serta dirimu...
Dirimu yang dulu mencintaiku apa adanya...

Bicara Dewa 19 identik dengan sosok frontman-nya yang sangat kesohor itu: Ahmad Dhani Prasetyo. Dialah sang pencipta lirik-lirik bernas, kreator musikalitas cerdas, konseptor aksi panggung cadas, dan tentu saja kreatif menemukan celah bisnis sukses yang berkelas.

Toh tak ada gading yang tak retak – kata pepatah. Sukses besar yang dirajut panjang oleh Ahmad Dhani di bidang musik diwarnai sederet kontroversi pikiran, perkataan, perbuatannya. Living legend yang berkarib dengan pro dan kontra tak berkesudahan yang mengitarinya.

A Bad Attitude is like a flat tire. If you don’t change it, you’ll never go anywhere.

Anonymous


Andai saja saya bisa steril dari berita-berita kontroversial soal sepak terjang Ahmad Dhani – mulai dari kehidupan rumah tangganya sampai wajah arogan yang dipertontonkannya, mungkin situasinya akan jauh menjadi lebih mudah. Tak perlu ada pergulatan internal antara mengidolakannya sebagai musisi atau mengkritisi sikapnya sebagai pribadi.

Faktanya, nyaris mustahil menempatkan Ahmad Dhani dalam ruang hampa sebagai musisi tanpa embel-embel kontroversi pribadinya. Ketika seseorang menjadi figur publik, bukan hanya prestasi dan kebaikannya saja yang disorot. Cara berpakaian sampai posting-an di sosial media pun berpotensi mengundang haters.

Sialnya, disetujui atau tidak, semua relung hidup mereka terpaksa harus rela dikuliti.

Pelik. Sangat. Tak boleh ada salah pun alpa. Sang sempurna yang tak bisa lagi menjalani hidup hanya untuk dirinya sendiri, tetapi harus senantiasa menimbang rasa dan harapan semua orang. halaman 2 dari 3
Seharusnya Marko Simic pun hanya perlu berkonsentrasi untuk berlatih keras supaya bisa mencetak lebih banyak gol untuk Persija Jakarta, klub yang dibelanya saat ini. Tak perlu peduli pada hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan urusan sepak-menyepak bola.

Masih oke lah kalau sorotan tajam pada pemilik kostum nomor 9 ini dikritisi soal hukuman larangan bertanding 4 kali, misalnya, karena kedapatan menyikut pemain Persipura Ian Kabes, Juni tahun lalu. Perilaku buruk yang masih terkait langsung dengan profesinya sebagai pemain sepak bola.

Tapi, seharusnya, pemain kelahiran Rijeka, Kroasia 31 tahun lalu itu tak perlu memutuskan bungkam seribu bahasa dan sampai ‘bersembunyi’ dan menghilang dari peredaran sejenak saat seorang artis tenar ibu kota menudingnya mengirim pesan tak senonoh via sosial media. Berita heboh yang sempat viral dan mau tidak mau mempengaruhi reputasi baiknya di tanah air.

Status mentereng sebagai predator menakutkan milik klub kebanggaan Jakarta, tercoreng. Saat itu, berita tentang eks striker Melaka United ini bukan cerita soal keberhasilannya menjadi juara, top skor sekaligus pemain terbaik Piala Presiden 2018 – hanya beberapa bulan sejak bergabung pada Desember 2017.




Bukan juga soal catatan emasnya sebagai pemain pertama yang 2 kali mencetak hat-trick dan sekali quat-trick ke gawang lawan di Piala AFC Antarklub. Semua cerita baik itu tenggelam di balik ingar-bingar pemberitaan soal kelakuannya yang tidak sopan pada sesame public figure.

Hari-hari ini harusnya jumlah gol Simic yang jauh berkurang di Liga 1 musim lalu dan perjuangan Persija di Piala AFF yang lebih banyak disorot. Bukan tentang jeratan hukum di Australia dalam penerbangan bersama timnya yang akan bertanding di ajang Piala AFC.

Lagi-lagi soal wanita.

Seorang penumpang, yang kebetulan wanita, melaporkan Simic pada pihak berwajib karena dianggap melakukan tindakan tidak sopan padanya. Sempat tak bisa kembali ke Jakarta karena harus menuntaskan urusan hukum itu, Simic akhirnya terbebas dari tuntutan karena kurang bukti dan saksi saat menjalani persidangan di Negeri Kanguru.

Simic memang lolos dari ancaman penjara dan bisa segera bergabung dengan Persija dalam waktu dekat ini. Toh, sudah selayaknya peristiwa tidak mengenakkan itu menjadi pelajaran berharga bagi pemain yang punya masa depan cerah di lapangan hijau ini.

Berusaha lebih keras untuk terhindar dari penjara imajiner yang, suka atau tidak, kini selalu mengintai setiap pergerakannya.

Sebenarnya bukan ancaman penjara yang harus ditakuti. Sejauh seseorang tidak melanggar hukum, mustahil dia diseret ke meja hijau dan masuk bui. Tetapi, konsekuensi sebagai seorang bintang, sesosok figur publik, yang dituntut selalu baik, memenuhi harapan semua orang, sempurna. halaman 3 dari 3
Memang lebih nyaman rasanya punya pujaan, idola, bintang besar yang istimewa luar dalam. Saat kita bangga bertutur tentang sukses dan teladannya, bukan sibuk membela cerita miring tentangnya.

Tidak adil? Memang. Hidup memang kadang sama sekali tak adil.

Semua kita sesungguhnya punya posisi masing-masing seperti Marko Simic atau Ahmad Dhani. Seorang Ayah yang harus mencukupi kebutuhan keluarga, ibu yang membawa surga di kakinya, anak yang diharap jadi soleh dan sholeha, pemimpin yang menjadi teladan, pekerja yang dibebani target tinggi…




Kita mungkin kerap merasa diperlakukan tak adil selalu dituntut baik dan sempurna menjalani peran kita masing-masing. Padahal, sebagai manusia, adalah biasa dan wajar sesekali kita tergelincir, terantuk, terjengkang saat harapan orang-orang yang dekat dan mencintai kita tak sesuai ekspektasi mereka.

Tak apa-apa, silakan menangis, tapi jangan menyerah. Percayalah, tanpa tuntutan dan harapan, hidup yang kita jalani akan terasa hampa… karena artinya tak ada cinta yang menuntut kita selalu berusaha menjadi sosok yang lebih berguna, sempurna, paripurna…

Ahmad Dhani pernah menulis lagu Kirana sebagi penguat kita yang tengah berada dalam titik nadir mengemban posisi mulianya masing-masing…

Kucoba memahami tempatku berlabuh
Terdampar di keruhnya satu sisi dunia
Hadir di muka bumi tak tersaji indah
Kuingin rasakan cinta...

Semua kita punya penjara imajiner yang mustahil bebas murni darinya. 

Injury Time



@angrydebritto | Jakarta, 12/04/19


[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  14/05/19 - 11:05







Berita Terkait


1571020201972

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?