INJURY TIME: Gagal Rampok Klub Kaya Keempat, Klub Miskin Itu Tetap Mensyukuri Kemiskinannya


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    08/05/19 - 21:10
  •    10648

The Guardian


Tottenham Hotspur akhirnya mampu menghentikan deret sensasi Ajax. Tiga gol comeback merusak mimpi indah Frenkie de Jong dkk. Tapi kenapa Amsterdam Arena merasa perlu memberi standing applause kepada anak-anak muda itu di ujung laga?

Ajax memang kalah. Gagal juara. Dan itu jelas tak menyenangkan. Tapi, mereka tahu, klub kesayangan itu telah kembali ke jalur yang benar: tampil atraktif, penuh darah belia menjanjikan, memberi kebanggaan - apapun hasil akhirnya. Apalagi sebelumnya mereka telah membuktikan mampu menekuk klub-klub besar yang lebih diunggulkan.

Dibanding Bayern Muenchen, Real Madrid dan Juventus - yang dipersulit di babak-babak sebelumnya; kekayaan Ajax Amsterdam  saat ini jelas tidak ada apa-apanya dalam liga kekayaan klub-klub Eropa dan Dunia. Jika musim ini anak-anak muda Amsterdam mampu meredam dan mempermalukan 3 raksasa itu di pentas seprestisius Liga Champions, pasti ada apa-apanya. Rahasia besar yang lebih dari sekadar keunggulan taktik dan strategi. 

Akhirnya mereka memang terhenti di kaki Spurs. Tapi, ada banyak harapan terbersit di balik kekalahan itu. Tentu sembari tetap angkat topi kepada Spurs yang memberi pelajaran berharga pada mereka malam itu akan arti penting kematangan dan kedewasan sebagai sebuah tim yang bermimpi jadi juara.

                       ***

[Melepas mungkin salah satu hal tersulit dan dilematis. Kepemilikan, apapun subyek dan alasannya, mudah sekali menciptakan keterikatan. Bentuk cinta yang paling sederhana tapi sarat jebakan.]


Di masa muda, di saat jiwa berpetualang masih menggelora, saya suka sekali dengan kalimat ini: “Saya tidak bisa memiliki seseorang karena saya harus mencintai semua orang.”

Kalimat itu saya kutip dari karib yang menjadi rohaniwan Katolik ketika ditanya kenapa tidak menikah. Baginya sebagai pastor, memiliki seseorang akan menghalangi panggilan baiknya membimbing semua umat. Itu alasannya berselibat – pranata yang mengharuskan tidak menikah karena kedudukannya.

Ini bukan soal agama yang sangat pribadi, tidak untuk diperdebatkan dan sangat sensitif. Tapi tentang kebandelan saya secara sembarangan dan tak bertanggung jawab menggunakan kutipan itu.

Alih-alih mengikuti jejak karib saya mengabdi pada Tuhan dan Gereja, saya justru memakainya sebagai pembenaran tiap kali putus cinta! Secara manipulatif mencari alasan mulia untuk mengakhiri hubungan (tidak bisa memiliki satu orang), padahal itu bentuk egoisme paling brutal menyakiti orang lain demi kepentingan diri sendiri (mau memacari sebanyak mungkin wanita).

Pengkhianatan besar terhadap nilai luhur yang mendasari sebaris kalimat sederhana penuh makna itu. Dan, seharusnya, semua pengkhianatan harus dilawan.

It hurts to let go, but sometimes it hurts more to hold on.

The Old Wisdom


Sepintas, sensasi Ajax di Liga Champions tak lebih dari superioritas teknis belaka. Tapi jika mencermati perjalanan klub legendaris ini, catatan spektakuler Matthijs de Light dkk adalah hasil dari perlawanan melelahkan klub itu terhadap pengkhianatan filosofi dasar klub yang berdiri sejak tahun 1900 ini.

Rasanya mustahil anak-anak Amsterdam bisa tampil spektakuler musim ini tanpa Velvet Revolution yang digulirkan Johan Cruyff sejak 2011. Sempat diremehkan karena harus ikut babak kualifikasi, klub asuhan Erik ten Hag mulai merusak prediksi dengan lolos ke 16 besar tanpa kalah di Grup E – dan sempat membuat tim sarat bintang Bayern Muenchen frustrasi 2 kali gagal menang (1-1 dan 3-3).

Frenkie de Jong cs lantas membuat geger dunia sepakbola dengan mengkandaskan raksasa Real Madrid. Kalah 1-2 di Amsterdam ArenA, sebelum mengamuk 4-1 di Santiago Bernabeu. Ah, hanya keberuntungan, mungkin. Faktanya, Ajax terus melaju sampai semifinal usai menang dramatis 2-1 di kandang juara Italia, Juventus, setelah sebelumnya imbang 1-1 di kandang. halaman 2 dari 5
Jika kini Ajax mencuat menjadi salah satu kandidat juara , semua tak lepas dari kemarahan Johan Cruyff melihat klub kesayangannya salah langkah – 9 tahun yang lalu. “This isn’t Ajax anymore,” tulisnya di kolom koran De Telegraaf, usai Ajax kalah 0-2 dari tuan rumah Real Madrid di Liga Champions.

“Ajax yang kita saksikan sekarang lebih mirip sebuah perusahaan dengan model bisnis tertentu untuk mencari keuntungan,” gugat Cruyff saat itu. “Ini bukan Ajax asli yang mementingkan sepakbola indah dan atraktif yang dimainkan oleh pemain-pemain muda hebat didikan akademi.”

Cruyff murka melihat Ajax menjadi sama dengan klub lain. Atas nama keinginan untuk tetap menjadi klub papan atas, manajemen mengikuti klub lain dengan latah membeli pemain asing yang mahal dan sudah jadi. Demi keseimbangan finansial, klub dengan mudah menjual pemain muda ke klub lain tanpa memikirkan kesempurnaan program untuk menjamin masa depan sang pemain. Dengan alasan manajemen profesional, direkrutlah banyak orang bisnis yang tak tahu sepakbola sebagai pengelola.

Ajax yang kita saksikan sekarang lebih mirip sebuah perusahaan dengan model bisnis tertentu untuk mencari keuntungan.

Johan Cruyff


Sejak kemarahannya itu, Cruyff memaksakan perubahan besar-besaran yang menyakitkan dan memakan banyak korban. Berseteru dengan Louis van Gaal – legenda Ajax yang memberi gelar Liga Champions keempat pada 1995, bertarung di meja pengadilan dengan manajemen klub, berhadapan dengan ketidaksabaran suporter. Tak terhitung berapa banyak orang yang tersakiti dan tersingkir di jalan revolusi yang penuh liku sang legenda.

Tapi, hasilnya jelas terlihat. Ajax mengembalikan lagi filosofi dasarnya merekrut pemain muda – sebisanya pemain muda lokal, menempanya di De Toekomst – akademi Ajax yang kesohor itu, dan mempersiapkannya menjadi bintang Ajax, timnas Belanda dan pemain internasional berkelas. Jika terpaksa harus membeli pemain asing atau sudah jadi, bukan karena pertimbangan bisnis, tetapi pertimbangan kebutuhan tim - terutama untuk mempercepat perkembangan pemain-pemain muda di tim utama yang masih belasan tahun usianya.




Cruyff meminta bantuan sejumlah mantan pemain yang kini memenuhi jajaran manajemen. Edwin van der Sar duduk sebagai CEO, dibantu Marc Overmars sebagai Direktur, serta memberi banyak ruang pada beberapa nama lain seperti Dennis Bergkamp, Frand de Boer, Aaron Winter dan masih banyak lagi.

Hasilnya, paten. Di bawah Frank de Boer, Ajax kembali merajai Liga Belanda selama 4 musim, mulai 2011 sampai 2014. Berlanjut era Peter Bosz yang mampu menembus final Europa League 2017 meski kalah 0-2 dari Manchester United. Baru setelah ditangani oleh Erik ten Hag, ledakan Ajax benar-benar terjadi.

Catat fakta mencengangkan ini. Starting XI Ajax musim ini seharga 45,48 juta pounds (Rp831 miliar) tak ada apa-apanya dengan seorang Cristiano Ronaldo yang didatangkan Juventus awal musim lalu seharga 105,3 pounds (Rp 2 triliun). Rataan pemainnya juga baru 24,1 tahun dan belum ada satu pun pemain yang tampil lebih dari 50 kali di laga Liga Champions.

Jauh di bawah kematangan lawan-lawannya. halaman 3 dari 5
Erik ten Hag seperti menjadi reinkarnasi sempurna sosok Johan Cruyff - yang berpulang pada 24 Maret 2016 lalu. Manajer yang banyak berguru kepada Pep Guardiola saat menukangi Bayern Muenchen II ini mengembalikan Totaalvoetbal sebagai ruh utama Ajax. Memberi ruang pada pemain secara individu, membebaskan pertukaran posisi yang cepat dan mematikan, mengubah skema 5-3-2 yang lebih modern menjadi 4-3-3 yang lebih berisiko tapi lebih sesuai dengan karakter asli Ajax.

Karakter yang muncul pertama-tama dari mencintai pemain sebagai pribadi, bukan melulu asset bisnis.

“Seperti prinsip Johan Cuyff, bukan sebuah tim yang menjalani debut, tetapi seorang pemain, sebagai individu. Kami perlu menyiapkan setiap pemain di Akademi melakukan apa yang dia perlukan untuk bisa menembus tim utama. Kami memanfaatkan akadei bukan untuk meraih kemenangan, tapi membantu setiap pemain meniti jalur suksesnya sendiri,” jelas Casimir Westerveld, kepala rekrutmen akademi Ajax.




Ketika seorang pemain sudah mencapai level tertentu, Ajax akan dengan senang hati melepasnya. Tak ada paksaan untuk bertahan, apalagi memainkan strategi kontrak demi keuntungan finansial.

“Kami mencoba menyiapkan jalur sukses untuk setiap pemain,” jelas Edwin van der Sar. “Pertama-tama sukses di klub, memenangi gelar liga, tampil bagus di Eropa, dan dipanggil tim nasional. Setelah 2 sampai 3 tahun, mungkin lebih baik bagi mereka untuk pergi ke klub lain.”

Ajax tak sembarangan menjual pemain. Mereka akan kecewa sekali jika seorang pemain pergi di saat program persiapan mereka belum tuntas. “Jika seorang pemain baru 1,5 tahun masuk tim utama dan memaksa pergi seperti Justin Kluivert, tentu kami kecewa,” kata Said Ouaali, Direktur Akademi Ajax menyesali terjualnya Justin Kluivert yang dibeli AS Roma seharga 18,75 juta euro tahun lalu. halaman 4 dari 5

Berbeda saat Frenkie de Jong dibeli Barcelona seharga 75 juta euro, awal Januari tahun lalu, yang akan resmi bergabung dengan El Barca pada Juli 2019 nanti. Pemain yang belum genap 21 tahun ini sudah dididik Ajax sejak tahun 2015 dan dianggap siap dilepas. Ajax sampai merasa perlu membuat video khusus sebagai selebrasi untuk lulusan terbaiknya.

Video berjudul Frenkie Futuro itu berisi highlights kemampuan sang pemain yang dianggap punya kualitas spesial – dan bahkan diramal bakal mewarisi kesempurnaan seorang Johan Cruyff. “Barcelona, enjoy the future, like we do,” tulis akun twitter Ajax sebagai ucapan perpisahan.

Masih ada banyak pemain muda lain yang kabarnya tengah menjadi incaran klub-klub besar seperti kapten Matthijs de Ligt, kiper Andre Onana, dan striker Kasper Dolberg. Tak ada keberatan pun kegamangan untuk melepas mereka ke klub lain karena mereka memang sudah dinilai lulus semua program.



Ajax tetap bersahabat dengan dunia industri yang identik dengan jual-beli pemain. Bedanya, mereka melakukannya dengan idealisme yang kuat. Tidak lagi menahan seorang bintang seperti Johan Cruyff yang dilepas ke Barcelona tahun 1973 di usia 27 tahun setelah memberi 17 piala selama 8 tahun di tim utama.

Atau sederet penjualan menguntungkan setelah para pemain memberikan gelar bergengsi untuk klub di masa lalu. Johan Neeskens, Marco van Basten, Frank Rijkaard, Clarence Seedorf, Edgar Davids, Kluivert, Wesley Sneijder, Rafael van der Vaart, Eriksen, Ibrahimovic, Jan Vertonghen, Luis Suárez.

Sekarang adalah jaman instan yang membuat semuanya menjadi lebih cepat. Pergi usai hanya bermain 3-4 musim sudah lebih dari cukup. Syukur-syukur sempat memberi penampilan gemilang atau bahkan gelar juara.




“Pemain hebat tidak lagi bisa bertahan di Eredivisie sampai umur 23 atau 24 tahun. Jika betul-betul bagus, mereka akan pergi di umur 20 atau 21 tahun. Maka, kami berusaha menyiapkan mereka lebih dini. Di umur 19 tahun, mereka sudah harus siap dimainkan di tim utama,” kata Erik ten Hag. halaman 5 dari 5
Prinsip memang harus dipertahankan sekuat mungkin. Jika situasi berubah, bukan berarti harus menyesuaikan prinsip itu. Tetapi, menggali lebih dalam kekuatan prinsip itu dan menemukan jalan berdamai dengan realita tanpa kehilangan jati diri. Ajax membuktikan hal itu bisa dilakukan.

Tak bermaksud mengingkari dominasi uang dan industri modern, Ajax memilih kembali pada prinsip dasarnya yang terbukti menjadi alasan kenapa mereka menjadi klub legendaris. Revolusi berdasarkan cinta... pada pemain, pada pertandingan, pada hasil akhir yang tak akan mengingkari proses sepanjang, seberat, dan semelelahkan apapun.

Jangan pernah mengkhianati atau memanipulasi prinsip itu – apapun alasannya. Carilah cara terbaik separti Ajax bisa survive dan mendapat banyak apresiasi karena kesetiaannya pada keindahan dan kemurnian prinsip.




Cukup saya yang mengkhianati teman saya dengan memutar-balikkan prinsipnya demi memuaskan ambisi pribadi yang tak akan pernah ada habisnya jika dituruti.

“Masih belum puas juga?” tanya istri saya - yang kebetulan duduk di samping saya saat menulis kutipan kalimat karib saya di atas, sambil geleng-geleng kepala mengetahui kebandelan suaminya...

Speechless...

Keterikatan, bentuk cinta yang paling sederhana tapi sarat jebakan.

Injury Time



Jakarta, Easter Holy Night, 20/04/19 – twitter: @angrydebritto

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  09/05/19 - 11:13







Berita Terkait


1573536602023

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?