INJURY TIME: Manajer Aneh yang Menolak Promosi ke Premier League


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    30/04/19 - 17:30
  •    14841

Bolalob.com/Jones

Apa pilihan kita? Menang secara sah tapi menanggung malu sepanjang sejarah hidup, atau ‘mengalah’ dengan risiko kehilangan perjuangan setahun - dan entah kapan mendapatkan kesempatan emas itu lagi, tapi tenang? Mari kita lihat jawaban seorang manajer asal Argentina yang sukses menggegerkan Liga Inggris dengan pilihan nyeleneh-nya.

[Menang dan kalah itu absolut. Tak ada penawar pedih kekalahan, pun pengganti histeria kemenangan. Yang ada hanya pilihan cara meraih dan menikmatinya. Bermartabat atau berlumur sesal.]

Kami siap menang dan siap kalah! Begitulah pernyataan semua kubu di Pilpres dan Pileg 2019. Kesiapan yang tampaknya juga diamini oleh puluhan partai politik dan ribuan calon legislator yang berlaga dalam Pemilu Serentak, 17 April 2019.

Tak ada persoalan dengan siap menang. Semua siap dan senang kalau menang.




Tapi, siap kalah? Are you sure?!

Hmmm… melihat gelagat hari-hari ini, frasa sederhana tapi berat konsekuensinya itu masih perlu dibuktikan kebenarannya sampai KPU mengumumkan secara resmi hasil akhirnya akhir bulan depan. Di titik itulah kita baru bisa menilai apakah semua kandidat memang benar-benar siap menang dan siap kalah.

Jangan salah. Sikap tidak siap kalah tidak hanya merujuk pada salah satu kubu, parpol atau caleg. Hampir semua pihak yang ikut konstentasi pada 17 April 2019 itu merasa menang – dengan keyakinan, argumen dan datanya masing-masing.

“Ini hak konstitusional. Tidak ada yang dilanggar,” begitu tegas mereka.

Tak ada penawar pedih kekalahan, pun pengganti histeria kemenangan.

Injury Time



Jika berpegang pada kata siap menang, seharusnya Marcelo Bielsa, manajer Leeds United, girang bukan kepalang saat timnya unggul 1-0 di menit 71, detik 20 atas tamunya, Aston Villa. Dengan sisa waktu tinggal 15 menit, poin 3 sudah hampir pasti didapat dari pertandingan itu. Poin yang kelak mungkin akan menjadi amat sangat istimewa. 

Ini jelas bukan kemenangan biasa bagi Leeds United – finalis Liga Champions 1974-75 yang kini sedang berjuang keluar dari Divisi Championship. Jika malam itu mereka menang, maka peluang lolos otomatis ke Premier League musim depan tanpa perlu menjalani play-off tetap terjaga. Mimpi yang sudah dibangun dan dijaga sejak tahun 2004 saat klub kebanggaan mereka terdegradasi dari EPL.

Sayang, gol keunggulan yang dicetak oleh Mateusz Klich, memanfaatkan umpan Tyler Roberts itu menimbulkan keributan di lapangan. Klich, gelandang berkostum nomor 43, diserbu pemain lawan yang marah karena menganggapnya tidak sportif. Tak ada selebrasi. Berganti dengan luapan emosi tak terkendali. 

Chaos! halaman 2 dari 3

Beberapa detik sebelumnya, seorang pemain Aston Villa, Jonathan Kodija, tergeletak di lapangan setelah dilanggar pemain Leeds. Umumnya jika situasi ini terjadi maka bola akan dibuang ke luar lapangan – sikap sportif yang dikenal umum dalam permainan sepakbola, khususnya di Inggris yang sangat menghormati manner (tata krama).

Alih-alih membuang bola dan menghentikan permainan, pemain-pemain Leeds tetap memainkan bola dan bahkan mencetak gol di saat pemain Villa bersikap pasif karena tidak menyangka lawannya akan melanggar nilai-nilai sportivitas itu.

Di sinilah sosok Marcelo Bielsa menjadi amat sangat menonjol. Di pinggir lapangan, dia terlibat perdebatan panas dengan kubu lawan. Tampak John Terry, eks pemain temperamental yang kini menjadi asisten manajer Aston Villa, meradang dan sampai menunjuk-nunjuk Bielsa dengan tangannya. Manajer Dean Smith dibantu beberapa ofisial juga ikut mengerubuti Bielsa.



Manajer yang membawa Timnas Argentina merebut medali emas Olimpiade 2004 ini secara instingtif langsung melakukan quick count – istilah yang kerap kita dengar di masa Pemilu sekarang-sekarang ini. Di umur 63 tahun, Bielsa tak kehilangan kecepatan berpikir. Dalam hitungan menit, bahkan detik, sang manajer yang dikenal keras dan teguh pada prinsip itu lantas mengambil sebuah keputusan kontroversial yang bakal lama dikenang dalam sejarah Liga Inggris.

Bielsa secara mengejutkan berteriak kepada timnya meminta mereka membiarkan Aston Villa mencetak gol tanpa gangguan! Dan terjadilah… Begitu wasit Stuart Attwell meniup peluit tanda dimulainya lagi pertandingan, semua pemain Leeds mematung membiarkan Albert Adomah berlari, menggiring bola, dan mencetak gol untuk menyamakan kedudukan menjadi 1-1!

Kami bersikap sesuai apa yang kami yakini.

Marcelo Bielsa



Hanya seorang pemain Leeds,bek Pontus Jonnsson, yang berusaha menghalang-halangi tetapi pada akhirnya juga gagal mencegah gol itu masuk ke gawang timnya. “This is a joke!” teriaknya marah-marah mereaksi keputusan manajernya yang memang tidak umum terjadi dalam sebuah pertandingan sepakbola.

Bielsa bisa saja diam dan menghindar sambil menunggu perdebatan usai pertandingan – yang biasanya terjadi jika ada kejadian kontroversial. Dia bisa juga mencari pembenaran dengan mengatakan bahwa wasit tidak menghentikan permainan dan adalah kesalahan pemain Aston Villa sendiri yang tidak mencegah gol itu.

Tidak ada yang dilanggar. Tidak ada yang salah. Semua sah dan sesuai peraturan.




Tapi, tidak bagi Bielsa. Dia memilih bersikap dengan segala risikonya. Ini bukan hanya soal menang atau kalah, sah atau tidak, harus atau tidak harus. Ini soal prinsip. Menegakkan keyakinannya di tengah semua orang sibuk saling menyalahkan dan melempar ketidakpuasan.

“Kami memang memberikan gol itu kepada Aston Villa,” kata Bielsa usai pertandingan aneh itu. “Semua melihat apa yang terjadi di lapangan. Kami bersikap sesuai apa yang kami yakini. Sikap sportif adalah hal yang biasa di Inggris. Saya tidak akan banyak berkomentar soal itu."

Cukup singkat untuk sebuah sikap heroik yang diambilnya hari itu. halaman 3 dari 3

Komentar justru datang dari Arsene Wenger, eks manajer Arsenal, yang tahu persis bagaimana situasi hari itu.

"Mereka [Leeds] bermain untuk lolos ke Liga Primer dan ada sesuatu yang dipertaruhkan. Aksi itu benar-benar luar biasa dan seluruh dunia harus menontonnya. Aturan mengatakan para pemain tidak harus berhenti jika tidak ada cedera pada bagian kepala yang dialami oleh seorang pemain. Hanya wasit yang bisa menghentikan pertandingan."

"Aston Villa seharusnya tidak menghentikan permainan. Leeds mengambil keuntungan akan hal tersebut dan itulah mengapa mereka seperti merasa bersalah. Ini semacam sikap sportif yang biasanya ada di lapangan sepakbola. Hanya wasit yang bisa menghentikan pertandingan, tapi memang ada sikap yang luar biasa dari Marcelo Bielsa."

Tidak ada kekalahan pun kemenangan yang agung. Tetapi, sikap agung menghadapi kekalahan, juga kemenangan.

Injury Time



Dengan hasil imbang 1-1, Leeds United secara sengaja menyerahkan satu tiket otomatis promosi ke Premier League kepada Sheffield United – mengikuti jejak Norwich City yang sudah lolos sebelumnya. Kini Bielsa harus menunggu hasil babak play-off melawan 3 klub lain untuk meraih satu tiket tersisa. Pilihan sikap yang sangat berisiko mengulang kembali semua dari awal jika gagal.

Tiket promosi ke Premier League – sepenting apapun bagi klub yang menginginkannya, jelas tak semulia pertaruhan Pilpres dan Pileg. Taruhannya pun - gagal promosi dan harus mengulang merangkak kembali musim depan, tak ada apa-apanya dibandingkan dengan memastikan masa depan bangsa, negara dan masyarakat kea rah yang lebih baik dan menjanjikan seperti perjuangan pahlawan demokrasi Indonesia.




Tapi tak ada salahnya belajar dari sikap Bielsa – terlepas dari kontroversi yang sering juga menghampirinya. Belajar memberikan makna pada sebuah perjalanan, perjuangan, pertaruhan dan tak hanya sebatas mementingkan hasil akhir. Menempatkan makna mulia di atas segalanya – termasuk legitimasi peraturan, misalnya.

Tidak ada kekalahan pun kememangan yang agung. Tetapi, sikap agung menghadapi kekalahan, juga kemenangan.

Jakarta, 30/04/19 – twitter: @angrydebritto

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  30/04/19 - 18:34







Berita Terkait


1558051202717

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?