INJURY TIME: Episode Sesama Mantan Saling Menyakiti di Anfield dan Camp Nou, 'Sakitnya Tuh di Sini...'


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    07/05/19 - 21:14
  •    5705

Bolalob.com/Jones

Bak sinetron, duel Liverpool vs Barcelona dua babak menyuguhkan thriller menegangkan. Luis Suarez dan Liverpool, mantan klubnya menjadi pemain utama.

Pernah dihukum belasan kali larangan bertanding karena terbukti menggigit Otman Bakkal saat berkostum Ajax, Branislav Ivanovic waktu berbaju Liverpool dan Giorgio Chiellini ketika membela Uruguay, Luis Suarez pekan lalu tega menggigit Liverpool dengan gol dan selebrasi heboh yang berbuntut hujatan karena dianggap melanggar norma kesantunan pada sang mantan.

Meski sudah minta maaf atas aksinya di Camp Nou, tak ada jaminan kedatangannya bakal disambut hangat bak mantan pahlawan yang pantas dielu-elukan.

Saat akhirnya Barcelona kalah secara luar biasa dengan skor, 0-4!, di Anfield; giliran Liverpool yang menyakiti Luis Suarez dengan amat sangat pedih.

                            * * *

[Urusan dengan mantan itu memang hampir selalu tidak mudah. Sedih dianggap belum move on, senang dinilai tak berperasaan. Butuh kejujuran bersikap sekaligus ketulusan membingkai masa lalu.]

Sebuah undangan tergeletak di meja. Membaca nama salah satu mempelai di undangan minimalis yang sedang nge-trend itu, saya langsung salting - salah tingkah. Tak lain tak bukan karena nama salah satu mempelai pernah amat sangat akrab dan dekat dengan saya.

Dengan noraknya, kenangan masa lalu ber-sliwer-an tak karuan. Tanpa sadar memutar kembali roda waktu masa lalu. Sesekali senyum sendiri, tak jarang mengumpat melepas rasa yang tiba-tiba bergejolak.

Tapi, persoalan utamanya belum terjawab: perlukah undangan itu didatangi? Siapkah saya mengucap tulus ikut mendoakan kebahagiaannya? Atau sekadar basa-basi jaga gengsi supaya terlihat baik-baik saja tanpa dia dan terlihat cool, keren, gagah karena berbesar hati menghadiri pernikahan mantan terindah?

Butuh kejujuran bersikap sekaligus ketulusan membingkai masa lalu.

Injury Time



Duel seru Barcelona vs Liverpool di Camp Nou bukan hajatan pernikahan. Tetapi bagi Luis Suarez, semifinal Liga Champions leg pertama itu tak ubahnya seperti bertemu kembali dengan sang mantan.

Entah terindah atau bukan, tapi Luis Suarez identik dengan Liverpool . Terlalu banyak cerita yang bisa diulas selama 3,5 musim di Anfield dengan koleksi 82 gol dari total 133 partai. Meski hanya memberi Piala Liga tahun 2012, nama Luis Suarez terlanjur mematri banyak memori bagi penggemar Liverpool.

Mulai soal harga senilai 22,8 juta pounds dari Ajax sebagai pemain termahal – sebelum dipecahkan Andy Carroll beberapa jam setelah dia menandatangani kontrak sepanjang 5,5 musim. Kengototannya memakai kostum nomor 7 – nomor keramat milik legenda klub sekelas Kenny Dalglish dan Kevin Keegan. Sampai kontroversi kasus rasial pada Patrick Evra dan gigitan untuk Ivanovic dan Chiellini.




Jangan lupakan juga kontribusi luar biasa sang pemain yang memang diakui sangat signifikan. Musim terakhirnya di Anfield, misalnya, diakhiri dengan sarat pujian dan gelar individu. Mulai dari Pemain Terbaik Liverpool sampai Pemain Terbaik Liga Inggris, pus menyabet golden boot dan sejumlah penghargaan individu lainnya.

“Saat latihan dan pertandingan, Luis membuktikan berulang-ulang dia berada jauh di atas pemain lain,” puji legenda Liverpool, Steven Gerrard, dalam autobiografinya. “Saya berusaha lebih keras dari biasanya hanya untuk bisa menyamai dia. Tapi jelas dia seorang pemain yang lebih baik dari saya.”

Dan, malam itu, Liverpool terpaksa harus melawan mantan bintangnya yang kini sudah menemukan pelabuhan terbaiknya di Barcelona. Luis bukan pemain yang mudah dihadapi karena memang dikenal sangat ngotot, tak kenal kompromi, sangat intens dan spartan sekaligus punya fighting spirit tak tertandingi. halaman 2 dari 3
“Luis tumbuh di lingkungan yang keras dan terus dialaminya dalam berbagai tingkatan sepanjang hidupnya. Di luar lapangan dia jelas jauh dari sosok demon (setan-red). Tetapi, di dalam lapangan, dia bisa berubah menjadi sosok itu jika situasi menuntutnya demikian,” ungkap sebuah sumber yang mengetahui persis perkembangan Luis sejak masa kecilnya di Montevidio, Uruguay.

Sebuah penjelasan atas banyak kontroversi yang mendatangi Luis karena semangatnya yang kadang melewati batas untuk bermain dan menang. Tak satu pun hal bisa mengendurkan intensitasnya menjadi dan meraih yang terbaik di lapangan.

Malam itu, Liverpool bukan siapa-siapa di mata Luis Suarez.

“Menjelang pertandingan, sangat menyenangkan mengatakan betapa saya sangat berterima kasih dan bersyukur pada Liverpool atas semua yang sudah mereka berikan pada saya. Liverpool membantu saya menjadi pemain kelas dunia,” buka Luis menyanjung The Reds. “Tapi, kalian tahu siapa saya. Begitu menginjak lapangan, tak ada persahabatan, tak ada teman, tak ada kenangan manis masa lalu. Saya akan berjuang mati-matian untuk Barcelona yang saya bela sekarang ini dengan seluruh kebanggaan yang saya punya.”

Dan, dia membuktikannya. Di menit ke-26, insting kuatnya membaca through pass di jantung pertahanan Liverpool menghasilkan sontekan bersejarah yang sekaligus membuka skor menjadi, 1-0. Tanpa ampun dan belas kasihan, dia menghukum mantannya. Gol ke-25 musim ini, tapi baru gol pertamanya di Liga Champions musim ini - setelah 34 kali usaha membobol gawang lawan!

Nikmati masa lalumu jika mau, jangan menghindarinya karena keharusan.

Injury Time



Gol yang amat sangat pantas dirayakan. Tak peduli bahwa gol itu dicetak ke gawang sang mantan, Liverpool. Terbawa suasana dan perasaan, Luis Suarez berlari ke pinggir lapangan, mempertontonkan sliding celebration meluncur bertumpu pada kedua kakinya, berteriak melepaskan rasa bahagianya, mengepalkan tangan sarat emosi meledak-ledak! 

Sebenarnya Luis Suarez sudah berusaha meminta maaf dengan mengacungkan tangannya ke arah tribun yang disesaki pendukung Liverpool. Tapi, upaya menunjukkan respek kepada mantan klubnya itu dianggap tak cukup. Penonton, media, dan dunia ramai-ramai mempertanyakan hilangnya rasa hormat – simpati dan empati tepatnya, kepada mantan klubnya yang bagaimanapun juga berjasa besar padanya.

Memang, ada semacam kesepakatan tertulis bagi sebagian besar pemain bahwa mereka akan menahan selebrasi jika mencetak gol ke gawang mantan klubnya. Apalagi jika sang pemain punya masa lalu panjang dengan klub tersebut dan masih memiliki ikatan batin dengan klub yang ditinggalkannya.




Tapi, maaf, hal itu tak berlaku bagi seorang Luis Suarez. Baginya, respek tak harus ditunjukkan dengan menahan selebrasi rasa usai mencetak gol berharga. Baginya, penghormatan terbaik pada mantan klubnya adalah dengan menganggap mereka sebagai lawan yang harus dihadapi dengan keseriusan 100 persen. Tampil setengah hati mungkin baginya justru sebuah penghinaan pada kekuatan mantan klubnya.

Hasilnya, sebagian besar Liverpudlian - sebutan untuk fans Liverpool, menghujatnya sebagai pengkhianat, tak tahu diri, tak punya rasa hormat pun sikap terima kasih. Ada juga yang mempermasalahkan kengototannya melakukan kontak fisik dengan mantan rekannya di Liverpool. Sesuatu yang dianggap tak perlu dalam partai yang berkesudahan 3-0 untuk Barcelona itu.

Bukan Lionel Messi saja yang jadi berita karena 2 golnya, tapi Luis Suarez juga jadi trending topic. Apa salahnya menahan sedikit kegembiraan untuk menghargai perasaan mantan klub dan ribuan pendukungnya yang pernah sangat setia mendukungnya? Buntutnya,  jelang leg kedua di Anfield pekan depan, muncul ancaman untuk menyambut Luis Suarez dengan tidak ramah.

He burned the bridge to Anfield. He will not be welcomed as a hero again. halaman 3 dari 3
Di sisi lain, menarik mendengarkan pembelaan seorang Jose Mourinho yang juga sosok yang sama kontroversialnya dalam jagat sepakbola.

“Luis melakukan hal yang bagus dan saya menyukainya,” kata Mourinho kepada media. “Banyak pemain justru lebih peduli pada imej pada mantan klubnya dibandingkan 100 persen membela klub yang dibelanya saat ini. Mereka lebih peduli mendapat pujian ‘Oh, nice fair play’ atau ‘oh, nice, he’s playing against the team where he played for a few years and where he was loved’.”

Belakangan, sehari menjelang jadwal tandang ke Anfield, Luis Suarez secara terbuka meminta maaf kepada Liverpudlian dan berjanji tak akan melakukan selebrasi jika mencetak gol ke gawang Liverpool seperti saat di Camp Nou. Bukti bahwa Luis SUarez tampaknya mulai menyesali dan tak tahan disebut sebagai pengkhianat oleh banyak pihak - khususnya die hard Liverpool.




"Saya yakin akan lebih banyak sambutan hangat dibandingkan teriakan ejekan dari suporter Liverpool pada saya di Anfield." Sebuah keyakinan yang lebih tepat disebut sebagai harapan dari seorang pahlawan yang berusaha mendapatkan kembali respek dari Liverpudlian. 

Malam itu, di leg kedua, bukan respek yang didapat Luis Suarez di Anfield. Tetapi justru balasan setimpal yang jauh lebih menyakitkan: kalah 0-4, tersingkir dari final Liga Champions yang sudah di depan mata, dan memahat kenangan pahit seumur hidup.

Luis Suarez tidak salah menunjukkan ekspresi jujurnya. Liverpool – dan mereka yang bereaksi keras – juga tak bisa disalahkan berharap seorang bintang menunjukkan respek pada bekas klubnya. Karena, pada akhirnya, ini soal pilihan bersikap.

Bagi sang pemain, lebih mementingkan respek pada rasa yang dialami hari ini atau menjaga perasaan pihak lain yang sangat penting baginya di masa lalu. Bagi mantan klub dan pendukungnya, ikut bergembira atas pencapaian luar biasa pemain yang pernah mereka puja - meski di atas kesedihan mereka sendiri, atau baper menganggap itu sebuah sikap tak pantas dari seseorang yang telah menjadi milik pihak lain.

Pada akhirnya saya memilih menghadiri pernikahan mantan saya. Beruntung hubungan kami di masa lalu baik-baik saja dan berpisah pun tanpa masalah berarti. Jadi, tak terlalu banyak kenangan buruk yang harus dihadapi atau jaga imej supaya tidak terlihat terpuruk di mata teman-teman kami.

Setelah itu, sampai hari ini, kadang kami masih sesekali bertemu untuk sekadar cerita. Bukan untuk mengumbar rasa dari masa lalu, tetapi justru untuk berbagi masa kini tanpa sekat masa lalu. Seharusnya, idealnya, sebaiknya, begitulah mantan – masa lalu – mewarnai hidup kita… Melengkapi, bukan malah menghantui...

Seharusnya, idealnya, sebaiknya, begitulah mantan – masa lalu – mewarnai hidup kita… Melengkapi, bukan malah menghantui...

Injury Time



Jakarta, Medical Check-up Day, 03/05/19 – twitter: @angrydebritto

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.]
Terakhir diubah:  08/05/19 - 07:31







Berita Terkait


1566123001883

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?