Edin Dzeko Ceritakan Pengalaman Pahit di Bulan Ramadan Ketika Dilanda Perang


  •    Rifqi Fadhillah
  •    14/05/19 - 18:10
  •    1.098

Edin Dzeko Ceritakan Pengalaman Pahit di Bulan Ramadan Ketika Dilanda Perang
talksport.com

Bulan Ramadan menyisahkan kenangan pahit bagi pesepakbola AS Roma, Edin Dzeko. Terlahir di negara yang terlibat konflik perang, membuat Dzeko semasa kecil tak bisa merasakan hangatnya bulan Ramadan seperti orang-orang muslim semestinya.

Dzeko lahir di di Sarajevo, ibukota Bosnia Herzegovina pada tahun 1986. Ketika usianya sudah menginjak 6 tahun, hidupnya seketika berubah setelah adanya perang antara Bosnia dan Republik Federal Yugoslavia (kemudian berganti nama menjadi Serbia dan Montenegro) serta Kroasia. Perang ketiga negara tersebut terjadi pada Maret 1992 hingga November 1995.

Dzeko sejak kecil sudah diajarkan untuk berpuasa di bulan Ramadan oleh orang tuanya. Bahkan, saat perang masih berlangsung, Dzeko pun masih menjalankan ibadah puasa meski keadaan tidak memungkinkan.

"Saat sahur, tidak ada banyak waktu untuk makan. Saya sangat takut setiap hari. Kami harus bersembunyi ketika terdengar suara tembakan dan suara bom," kata Dzeko dikutip dari hotterthanapileofcurry.

"Pada saat itu, Anda bisa ditembak kapan saja. Setiap hari, saya menangis. Itu sungguh mengerikan," ungkapnya.




Perang antara Bosnia dan Serbia itu telah menghancurkan rumah penduduk setempat. Tak sedikit juga korban tewas akibat konflik bersenjata antara kedua negara itu.

Rumah dari Dzeko pun hancur akibat perang tersebut. Akhirnya, Dzeko dan keluarga mengungsi ke rumah kakeknya yang berukuran kecil dan dihuni 15 orang. halaman 2 dari 2
"Rumah saya hancur. Jadi kami menumpang di rumah kakek dan nenek saya. Semua keluarga saya ada di sana, mungkin 15 orang tinggal di sebuah apartemen dengan ukuran 35 meter persegi," kenang Dzeko.

"Semua keluarga saya menyadari, setiap hari di Bosnia akan ada seseorang yang meninggal karena perang," ucapnya.

Ketika memasuki awal tahun 1996, perang pun akhirnya berakhir. Hal ini membuat Dzeko bisa kembali tenang dan sejak itu ia pun dengan tekun berlatih dalam bermain sepakbola.

Meski mengalami kenangan pahit akibat perang tersebut, namun Dzeko bersyukur karena dari perang perang itu mentalnya terbentuk.

"Banyak anak-anak yang menendang bola di sekitar jalan, termasuk saya. Ketika perang telah berkahir, saya menjadi jauh lebih kuat secara mental. Terima kasih Tuhan perang telah usai," tutupnya.






Video Trending



Berita Terkait


1589576402298

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?