INJURY TIME: Senangnya Kita Menyoraki Anak Indonesia Gagal di Piala Dunia


  •    Gabriel A. Rachdyatmaka
  •    28/05/19 - 18:00
  •    12693

Bolalob.com/Jones

[Ideal adalah jika semua berjalan sesuai harapan. Faktanya, hidup jauh lebih rumit dari rumus matematika. Ada kalanya pilihan realistis dihujat atas nama kata ‘seharusnya…’]

Dulu, jurusan favorit bagi anak sekolah menengah atas adalah A1 atau A2. Masa depan kami dianggap akan lebih cerah jika masuk Fisika (A1) atau Biologi (A2) yang peluang karirnya lebih banyak. Sementara A3 (Sosial) dan A4 (Bahasa) entah kenapa diyakini tak bakal membawa kehidupan cerah kelak.

Bapak saya almarhum pun percaya dengan hal itu. Maka ketika anak bungsunya, akhirnya memilih jurusan Sosial, murka lah beliau. Tak hanya menyidang saya, tetapi berlanjut dengan permusuhan terselubung di antara kami. Bertahun-tahun saya menolak menyapanya. Begitu juga sebaliknya.

“Sudah, jangan terlalu dibawa ke dalam hati,” kata almarhum Ibu saya lembut dan menyentuh tiap kali saya pulang ke rumah dari kuliah di kota perantauan dengan wajah murung. “Bapak memang keras. Menginginkan yang terbaik buat anak-anaknya. Sekarang buktikan saja kalau pilihanmu benar.”

Memilih sesuatu yang tidak populer, tidak menjanjikan, tidak sesuai harapan banyak orang jelas bukan pilihan mudah. Saya masih jauh lebih beruntung karena hanya berhadapan dengan kekecewaan Bapak dan ledekan kawan-kawan sepergaulan.

Jangan sekali-kali menjadi berbeda jika tak sanggup menanggung konsekuensi maha beratnya.

Injury Time



Bagaimana jika pilihan itu harus berhadapan dengan stigma buruk dari seluruh lapisan bangsa?

Awalnya keberhasilan seorang anak muda bernama Andri Syahputra meniti karir cemerlang di Qatar diapresiasi dan dipuja-puji banyak orang. Di saat banyak anak Indonesia yang kesulitan masuk klub di luar negeri, pemain kelahiran Lhokshumawe, Aceh, 29 Juni 1999 ini justru secara konsisten menempa bakatnya dan menjadi salah satu pemain andalan bermasa depan cerah.

Dua musim membela Al Khor, Andri lantas pindah ke Al-Gharafa tahun 2009. Perlahan tapi pasti, dia mendapat banyak kesempatan bermain di Liga Qatar mengikuti jenjang usianya. Sampai akhirnya dia terjaring oleh Aspire Academy – sekolah yang diperuntukkan bagi pemain-pemain bertalenta istimewa dibina, teknis dan non-teknis, untuk menjadi bintang.

Semua baik-baik saja bagi Andri sampai akhirnya sebuah titik balik mendatanginya. Anak muda yang kala itu belum genap 17 tahun seketika menjadi public enemy number one. Dihujat sana-sini karena menolak panggilan Indra Sjafri untuk mengikuti seleksi Timnas U-19 yang dipersiapkan ke Piala AFF U-19. Alasannya, tidak dilepas klub dan masih menjalani studi di sana.

Indonesia kebakaran jenggot!

"Membela Indonesia adalah jihad. Kalau tidak mau membela Indonesia, artinya bukan orang Indonesia. Kalau dia tidak mau membela Indonesia, keluar dari Indonesia," murka Ketua Umum PSSI saat itu, Jenderal Edy Rahmayadi.

"Kalau dia nggak mau bela timnas, kami menyarankan agar PSSI mencoret dia. Memasukkan nama dia dalam daftar black list," hardik Sekretaris Kementerian Pemuda dan Olahraga (Sesmenpora) Gatot Dewa Broto, saat itu – meski beberapa hari kemudian meminta maaf atas pernyataan yang sangat keras itu.




Publik seakan tak mau peduli dengan situasi yang dihadapi Andri di Qatar. Sejak kecil, penyuka nomor 10 ini tinggal dan besar di Qatar. Bersekolah di sana, dan mendapatkan pembinaan sebagai pemain bola di Negara tempat ayahnya mencari nafkah tersebut.

Sejak saat itu, dan terus berlangsung sampai detik ini, masih banyak masyarakat kita yang menempatkan Andri sebagai pesakitan. Dicap pengkhianat, tak tahu diri dan justru didoakan yang tidak-tidak oleh netizen. Sesekali mampirlah di akun sosial media pemain yang satu tim dengan Wesley Snijder di Al-Gharafa ini. Penuh dengan kata-kata kasar dan menyakitkan dari netizen yang budiman.

Sempat mereda sesaat, beberapa bulan berselang nama Andri kembali mencuat saat dia kedapatan bermain dalam partai uji coba melawan timnas Inggris mengenakan kostum Qatar bernomor punggung 20. Hujatan demi hujatan kembali mendatangi pemain yang berposisi sebagai gelandang ini.

Padahal, menurut penjelasan Duta Besar Indonesia di Qatar kala itu, Andri main untuk timnas Qatar dengan status Citizenship Card – status kewarganegaraan yang diberikan kepada Andri yang dianggap punya bakat istimewa dan memiliki kontribusi pada negeri yang ditinggalinya itu – tanpa perlu melepas WNI-nya.

Jadi sesungguhnya dia masih berstatus anak Indonesia! halaman 2 dari 3
Toh, namanya sudah terlanjur buruk. Saat namanya justru tidak masuk skuad nasional Qatar yang tampil di Piala Asia U-19, Oktober 2019; bukannya bersimpati, banyak orang justru mensyukuri kegagalan itu. Sebagian lagi merasa bahwa itu pembalasan setimpal bagi sang pengkhianat bangsa…

Banyak di antara kita seperti tak rela melihat salah satu putra terbaik Indonesia sukses menapaki karir emasnya. Ketika nama Andri akhirnya masuk skuad nasional Qatar yang berlaga di Piala Dunia U-20 2019 di Polandia, tak banyak yang memberi selamat atau mendoakannya sukses.

Diam-diam justru terselip rasa gembira dan sorak riang melihat Qatar dipermalukan Nigeria 4-0 dan kalah 0-1 dari Ukraina yang memastikan Andri dkk gagal melangkah ke babak selanjutnya. Sedikit sekali yang mengapresiasi fakta cemerlang sang pemain yang tampil full 90 menit di dua partai bergengsi itu.




Padahal, Andri Syahputra yang dipercaya mengenakan kostum nomor 8, menjadi andalan pelatih Bruno Miguel dalam skema 4-1-4-1. Pernah selapangan dengan legenda Barcelona, Xavi Hernandez; Andri jadi satu-satunya pemain Al-Gharafa yang bisa menembus persaingan ketat masuk skuad elite Qatar U-20.

Kenapa kita tega menghujani Andri dengan hujatan demi hujatan yang tak jelas arah dan tujuannya? Bukankah sang pemain akan semakin kehilangan simpati pada bangsanya sendiri? Tidakkah kita khawatir dengan cara itu malah akan membawanya semakin jauh dari pelukan Ibu Pertiwi?

Karena, jikapun saat ini Andri benar-benar sudah secara resmi dicatat FIFA sebagai pemain Qatar karena sudah tampil di kompetisi resmi, masih ada peluang kelak di kemudian hari Andri berseragam Merah-Putih dengan lambang Garuda gagah bertengger di dada. Sebelum seorang pemain membela timnas di level senior, masih ada kemungkinan dia berpindah Negara yang dibelanya di atas lapangan hijau.

Aturan FIFA menulis: Meski telah memperkuat Timnas Junior, seorang pemain bisa mengganti warga negaranya untuk memperkuat Timnas Senior, namun dengan syarat bahwa dia lahir di negara tersebut, salah satu orang tua kandungnya lahir di negara tersebut, kakek atau nenek kandung pemain lahir di negara tersebut dan pemain telah menetap selama 2 tahun berturut-turut di negara tersebut.




Tanpa hujatan, makian, pun sindiran pedas yang bisa memerahkan telinga, pilihan Andri bermain untuk Qatar sudah penuh beban dan dilema. Bagaimanapun, sekecil apapun, mungkin masih terselip keinginan Andri untuk membela Garuda suatu hari nanti.

Keinginan yang niscaya bakal meredup, bahkan luntur dan hilang, jika disertai sikap tidak sopan, tidak sportif, tidak respek dari saudara sebangsanya…

Kemurkaan, kemarahan, kediaman Bapak semakin membuat jarak kami merenggang. Bertahun-tahun kami terpisah sekat diam. Hanya karena kegigihan, kelembutan, penerimaan Ibu saya yang membuat saya melunak, perlahan mendekat, berusaha memperbaiki hubungan yang sudah putus lama.

Hari itu, di hari wisuda saya, kami berpelukan… hangat, lama, tanpa kata… awal sekaligus akhir dari sebuah pilihan yang tak seharusnya membuat siapapun menderita karenanya…

Kelembutan - bukan marah - yang sanggup meredam kemurkaan.

Injury Time



Jakarta, 28/05/19 – time to choose, twitter: @angrydebritto

[Disklaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi penulis. Tidak terkait dengan kebijakan redaksi media yang memuatnya, dalam hal ini Bolalob.com.] halaman 3 dari 3
Jangan Lewatkan versi Video Injury Time:








Berita Terkait


1563462001611

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?