Pengorbanan di Balik Timnas Indonesia Vs Vanuatu


  •    Kukuh Wahyudi
  •    14/06/19 - 18:10
  •    2729

PSSI

Timnas Indonesia akan melakoni laga persahabatan melawan Vanuatu, di Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (15/6/2019). Pertandingan itu berpengaruh terhadap sejumlah faktor penting pembentukan dan pengembangan Timnas Indonesia. Mempertimbangkan beberapa hal, pertandingan tersebut memunculkan banyak kerugian dibanding manfaat.

Pertandingan Liga 1 2019 terakhir digelar pada Jumat (31/5/2019). Kompetisi kemudian memasuki masa libur IdulFitri dan dijadwalkan dimulai kembali pada Jumat (14/6/2019).

Pada periode libur IdulFitri itu, terselip agenda kalender laga persahabatan internasional FIFA yaitu pada 3-11 Juni 2019. Mengacu libur IdulFitri dan kalender FIFA, klub peserta Liga 1 masih bisa beradaptasi dengan jadwal pertandingan.




Ketika PSSI mengumumkan pada 13 Mei 2019 bahwa Timnas Indonesia akan menghadapi Yordania pada 11 Juni 2019 dan Vanuatu pada 15 Juni 2019, sejumlah klub menyatakan siap melakoni laga pekan keempat tanpa pemain-pemain yang dipanggil membela Timnas Indonesia.

Pertandingan melawan Vanuatu dijadwalkan digelar pada 15 Juni 2019, yang notabene di luar kalender FIFA, karena pada tanggal 5 Juni masih masa IdulFitri.

Pada 29 Mei, PSSI mengumumkan bahwa pekan keempat Liga 1 (14-16 Juni 2019) dibatalkan karena Timnas akan melakoni pertandingan melawan Yordania dan Vanuatu. Laga tunda pekan keempat dijadwalkan digelar pada 27-28 Agustus 2019. Pembatalan inilah yang membuat sejumlah pihak bereaksi dari awalnya tidak mempertanyakan laga melawan Vanuatu menjadi mempertanyakan.

Dari aspek kompetisi, Vanuatu merupakan lawan yang perlu diperhitungkan. Mereka berada di peringkat ke-160 dengan 1005 poin, sementara Timnas Indonesia ada di peringkat ke-163 dengan 997 poin. Setelah menjajal strategi saat melawan Myanmar (menang 2-0) pada Maret 2019 dan taktik serangan balik pada laga melawan Yordania (kalah 1-4), pertandingan melawan Vanuatu bisa menjadi kesempatan Timnas melakukan evaluasi.

Sementara begitu, klub dan pemilik hak siar mengalami kesulitan. Klub, misalnya, awalnya mereka tidak masalah melakoni pekan keempat meski ada pemain yang membela Timbas Indonesia. Namun, dengan pembatalan pekan keempat, klub punya masalah lebih besar karena mereka akan menghadapi jadwal padat, melakukan perubahan program latihan, menjadwal ulang rencana perjalanan.

"Kami keberatan karena jelas pemain yang akan dirugikan. Jadwal di Agustus untuk PSS sangat padat, ditambah jika di antara 27-28 Agustus dilangsungkan match melawan Madura," kata CEO PSS Viola Kurniawati, dilansir dari situs klub.

"Sedangkan kami juga harus melakoni away ke Bandung untuk laga 31 Agustus. Tentu pemain akan kelelahan, suporter juga akan dirugikan jika mau mendukung PSS," ucapnya melanjutkan.

Salah satu strategi tim untuk menjaga kondisi fisik dan atmosfer kompetisi tim, adalah menggelar laga uji coba, yang notabene membutuhkan biaya, sesuatu yang tidak perlu dilakukan jika kompetisi berjalan reguler. halaman 2 dari 3
Dari aspek bisnis, pergeseran jadwal yang membuat agenda pertandingan menjadi padat pada periode tertentu berarti berkurangnya pertandingan akhir pekan. Jadwal awal pekan keempat adalah 14-16 Juni (Jumat, Sabtu, Minggu), sementara jadwal pengganti adalah 27-28 Agustus (Selasa dan Rabu). Perubahan tersebut berpotensi menurunkan jumlah penonton, baik penonton di stadion, penonton televisi, maupun penonton siaran live streaming.

Selain itu, dengan penundaan pertandingan dan siaran langsung, pemilik hak siar bakal kehilangan program siaran bersponsor dan terancam rugi karena menayangkan program pengganti yang belum tentu didukung sponsor (iklan).

Sebagai ilustrasi, dari satu pertandingan Liga 1 2019, pemegang hak siar bisa membukukan pendapatan sekitar Rp 800 juta-Rp 1,5 miliar, bergantung pada tim yang bertanding dan jam pertandingan (sore atau malam).

Pada 14-16 Juni 2019 ada sembilan pertandingan. Dengan pembatalan pertandingan, pemegang hak siar berpotensi kehilangan pendapatan tidak kurang dari Rp 7 miliar.




Potensi kerugian berpotensi menjadi lebih besar jika pertandingan pekan keempat disiarkan pada Agustus 2019, karena laga tunda akan mengambil slot program reguler, yang notanebe memberikan keuntungan lebih besar.

Kerugian sponsor dan pemegang hak siar berpotensi merugikan Tim Nasional Indonesua juga, karena sponsor dan pemegang hak siar membutuhkan keuntungan untuk bisa mendukung aktivitas Tim Nasional Indonesia.

Perubahan jam tayang berpotensi menurunkan potensi jumlah penonton. Hal ini juga akan menyulitkan pemegang hak siar untuk menjaga kepercayaan sponsor.

Padahal, sebagai catatan, pemilik hak siar Shopee Liga 1 2019 dan LIB sudah menyusun jadwal liga dengan memperhitungkan kalender FIFA pada Desember 2018. Saat itu. belum ada nama Vanuatu.

Jika bicara soal Timnas, pencapaian Timnas merupakan konsekuensi dari aktivitas organisasi, kompetisi, bisnis, pengembangan pemain muda. Untuk soal Vanuatu, ada setidaknya dua aspek yang dikorbankan, kompetisi dan bisnis. Di sisi lain, kemenangan atas Vanuatu tidak berdampak signifikan terhadap poin dan peringkat Indonesia pada ranking FIFA.

Menurut data FIFA per Jumat (14/6/2019), Indonesia berada di peringkat ke-160 dengan 1005 poin, atau turun tiga poin dibanding pada periode sebelumnya. Adapun Vanuatu berada di posisi ke163 dengan 997 poin atau naik enam poin dibanding periode sebelumnya.

Jika menang, Indonesia akan mendapatkan dua poin menjadi 1007 poin. Dengan nilai tersebut, Indonesia belum bisa menggeser Malaysia yang berada di peringkat ke-159 dengan 1009 poin. Di sisi lain, jika kalah, Vanuatu akan kehilangan tiga poin menjadi 995 poin.

Tentu, tidak ada yang sia-sia. Namun, mempertimbangkan kerugian klub, pemain, dan pemegang hak siar, tambahan dua poin menjadi tidak signifikan. Apalagi, Timnas Indonesia senior tidak punya agenda kompetitif tahun ini. Sementara keuntungan dari misi pematangan itu belum tentu, kerugian yang bakal muncul sudah bisa dihitung. Padahal, bisnis merupakan merupakan hal krusia dalam pembentukan TImnas berbasis kompetisi domestik. Setidaknya, itulah yang dilakukan Jerman. halaman 3 dari 3
Ketika Timnas Jerman mengalami kegagalan pada Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000, hal pertama yang dibenahi Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) adalah sistem liga domestik, mulai dari membenahi akademi dan regulasi pemain muda hingga regulasi keuangan klub, untuk memastikan klub mampu memenuhi kewajiban dasar termasuk berinvestasi pada pengembangan pemain muda. 

Pada 2002, Bundesliga dan Federasi Sepak Bola Jerman (DFB) membuat keputusan yaitu untuk mendapatkan lisensi untuk ikut berkompetisi, klub harus mengelola sebuah akademi. Klub Bundesliga 1 dan Bundesliga 2 menghabiskan 75 juta euro per tahun untuk mengelola akademi-akademi itu. Sebanyak 5.000 pemain berusia 12-18 tahun dididik di akademi-akademi milik klub.

Di Jerman, akademi klub harus memiliki 12 orang dalam setiap kelompok umur yang bisa bermain untuk Jerman. Pada 2012, ada 62 persen pemain Bundesliga yang bisa bermain untuk Der Panzer.




Kebijakan finansial Bundesliga juga membuat pembinaan pemain muda berjalan konsisten dan bermanfaat untuk kelangsungan hidup klub Bundesliga. Sepak bola Jerman memiliki buku panduan yang memberikan penjelasan detail tentang ketentuan mengenai likuiditas dan utang, dibanding hal lain.

Hal yang paling penting dari peraturan finansial itu, boleh jadi, adalah klub harus menunjukkan bahwa mereka memperkirakan setidaknya balik modal atau mereka tak akan mendapatkan lisensi untuk mengikuti kegiatan sepak bola profesional.

“Hal utama adalah melihat apakah sebuah klub memiliki likuiditas yang memungkinkan klub itu bermain pada musim berikutnya. Kami memastikan bahwa nilai yang tertera bisa dipertanggungjawabkan karena mereka pasti dicek oleh akuntan profesional,” ujar Seifert.

Klub yang tidak sukses menjalankan proyeksi bisnis akan didenda dan mengalami pengurangan poin. Ini terjadi pada Arminia Bielefeld pada 2009. Federasi Sepak Bola Jerman juga punya hak untuk melakukan audit terhadap sebuah klub menggunakan jasa pihak ketiga.

Dengan sistem keuangan seperti itu, klub “dipaksa” menggunakan jasa pemain binaan ketimbang membayar pemandu bakat untuk mencari dan akhirnya merekrut pemain di berbagai belahan dunia, yang notabene akan memberikan beban lebih besar pada anggaran untuk transfer dan gaji pemain.

Di Bundesliga, perbandingan antara pendapatan dan gaji pemain sekitar 50 persen. Di liga lain, misalnya Premier League, pengeluaran mencapai antara 60 persen dan di atas 70 persen. Ini adalah titik krusial.

Dengan pengelolaan keuangan yang baik, klub bisa menjamin kelangsungan hidupnya meski tak meraih keuntungan luar biasa atau gelar prestisius, karena bagaimanapun, terlepas dari embel-embel trofi dan pengakuan global, klub sepak bola profesional pertama-tama harus mapan dan berumur panjang karena merupakan tempat mencari nafkah.


Vlog Sandy Walsh Mengejar Mimpi di Jakarta

Terakhir diubah:  15/06/19 - 23:23







Berita Terkait


1561359602493

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?