PSSI Minta Klub Indonesia Belajar dari Bali United


  •    Rizqi Ariandi
  •    17/06/19 - 18:10
  •    1776

Istimewa

Federasi sepak bola Indonesia, PSSI, mengapresiasi langkah manajemen Bali United yang melepas saham ke publik dalam bentuk Initial Public Offering atau IPO. Dengan melantai di bursa saham, maka pengelolaan tim akan semakin transparan.

Senin (17/6/2019) menjadi hari yang bersejarah bagi sepak bola Indonesia, khususnya, Bali United. Lewat PT Bali Bintang Sejahtera, perusahaan yang menaungi Bali United, mereka resmi melantai di pasar modal lewat skema Initial Public Offering (IPO).

Jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 2 miliar unit saham atau setara 33,33 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh kepada publik. Setelah dua kali mengalami perubahan, harga penawaran umum Bali United ditetapkan sebesar Rp175 per saham.

Dengan demikian, dana yang akan diraup Bali United dari aksi go public ini mencapai Rp350 miliar.




Pelaksana tugas (Plt) Ketua PSSI, Iwan Budianto, menilai apa yang dilakukan manajemen Bali United patut dicontoh klub lain di Indonesia. Hal itu, disebut Iwan, demi sepak bola Indonesia secara umum.

"Selamat untuk Bali United menjadi klub Indonesia pertama yang melepas sahamnya ke publik. Ini menjadi mimpi kami di PSSI. Karena ketika klub itu melepas sahamnya ke publik, mereka akan semakin terbuka, dan dituntut semakin transparan," kata Iwan.

Terkait regulasi, Iwan mengatakan, PSSI hanya mengatur soal cross ownership atau kepemilikan saham anak perusahaan terhadap induk perusahaan. Kebijakan tersebut dilarang oleh PSSI.

"Sementara kita masih di tataran larangannya itu cross ownership, terkait kepemilikan yang sama, kita akan pelajari itu. Cross ownership itu apakah pemilik klub yang lain tidak boleh membeli saham (klub) yang lain, kalau misalnya jumlahnya tidak pada saham yang mayoritas, yang tidak sebagai saham pengendali, apakah itu boleh atau tidak, kita sedang konsulkan ke FIFA. Tapi rasanya, (kalau) bukan saham mayoritas pastinya sih enggak ada masalah," kata Iwan.




Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI, Ratu Tisha Destria, mengatakan PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan klub-klub sudah mulai belajar mengenai keterbukaan pengelolaan dana sejak beberapa tahun terakhir ini.

"PSSI lewat PT LIB sudah mewajibkan klub-klub Liga 1 untuk menyetor akuntable audit record sebelum dana kontribusinya dilunasi. Jadi, ada penahanan biaya kontribusi terlebih dulu itu bukan karena kita menunggak, tapi kita menunggu laporan-laporan yang hanya bukan internal, tapi juga auditor eksternal," ujar Tisha.







Berita Terkait


1563426601857

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?