Jerman, Simon McMenemy, dan Timnas Indonesia


  •    Tjatur Wiharyo
  •    21/09/19 - 12:00
  •    5022

Ilustrasi Timnas Indonesia vs Thailand, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Selasa (10/9/2019). /Robert @Bolalob.com

Tampil sebagai juara bertahan, tim nasional Jerman tersingkir pada fase grup putaran final Piala Dunia 2018 Rusia. Jerman, yang berada di Grup F bersama dengan Swedia, Korea Selatan, dan Meksiko, angkat koper sebagai juru kunci, dengan rekor sekali menang dan dua kali kalah dan rekor memasukkan-kemasukan 2-4 gol.

Yang menarik, dengan kegagalan sebesar itu, Der Panzer mempertahankan pelatih Joachim Loew. Loew menandatangani kontrak baru berdurasi empat musim atau hingga Piala Dunia 2022 pada 15 Mei 2018. Kegagalan Jerman pada Piala Dunia 2018 tak membuat DFB memutuskan kontrak dengan Loew, tetapi mempertahankannya dan melakukan evaluasi bersama.

Sementara Jerman mempertahankan Loew, Timnas Indonesia berpotensi mengalami pergantian pelatih, yang saat ini diduduki Simon McMenemy. Melatih Timnas Indonesia pada 20 Desember 2018, McMenemy dinilai sejumlah kalangan kurang cakap menangani Timnas Indonesia.




Salah satu acuannya adalah kekalahan yang dialami Timnas Indonesia pada dua laga perdana kualifikasi Piala Dunia 2022 Qatar. Setelah kalah 2-3 dari Malaysia pada 5 September 2019, Timnas Indonesia kalah 0-3 dari Thailand pada 10 September 2019. Dua laga itu berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.

Sejumlah kalangan menilai McMenemy harus diganti. Namun, apakah McMenemy masalah utama kegagalan Timnas Indonesia? Jika iya, pergantian pelatih seharusnya bisa mengatasi masalah itu. Namun, bagaimana jika pelatih baru tidak membuat Timnas lebih baik? Apakah opsi pergantian akan kembali dilakukan?

Tim nasional adalah cerminan kompetisi domestik sebuah federasi. Bundesliga adalah salah satu kompetisi yang mapan. Terlepas dari bisnis dan popularitas, Bundesliga punya kompetisi reguler yang stabil dan sistem pembinaan pemain dan pelatih, yang membuat regenerasi terus berjalan. Klub profesional, Bundesliga 1 dan Bundesliga 2, harus memiliki akademi sepak bola yang bisa menyuplai kebutuhan tim mereka sendiri dan pada akhirnya, menjamin kelangsungan tim nasional.

Kepercayaan DFB mempertahankan Loew adalah bentuk kepercayaan diri DFB terhadap sistem kompetisi yang mereka bangun. Sementara Loew mendapatkan kepercayaan DFB dan didukung sistem kompetisi yang mapan, bagaimana dengan McMenemy? halaman 2 dari 3
Pada 14 Agustus 2019, McMenemy pertama kali mengumumkan nama pemain yang dipanggil untuk mengikuti pemusatan latihan menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Malaysia dan Thailand. Sehari setelahnya, McMenemy mencoret Rizky Pora dan menggantikannya dengan Febri Hariyadi.

Sebelum pemusatan latihan digelar pertama kali pada 22 Agustus 2019, McMenemy menggantikan kiper Awan Setho dengan Teja Paku Alam. Awan digantikan karena mengalami cedera pada jari kelingking.

McMenemy tidak bisa memanggil semua pemain yang dibutuhkannya. Karena Liga 1 masih berjalan hingga 1 September 2019 atau lima hari sebelum Timnas Indonesia melawan Malaysia, klub hanya bersedia melepas maksimal tiga pemain untuk Tim Nasional Indonesia. Itu juga yang membuat McMenemy tidak bisa memanggil kiper Bali United Wawan Hendrawan dan kiper Madura United Muhammad Ridho.

Pada 21 Agustus 2019, McMenemy memanggil Ruben Sanadi untuk menggantikan Johan Alfarizi yang cedera. Ditambah dengan Hanif Sjahbandi dan Amiruddin Bagus Kaffi sebagai pemain undangan, McMenemy memanggil 26 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan pertama.

Dari 26 nama yang dipanggil, ada 19 pemain yang berlatih pada pemusatan latihan perdana, di Stadion Pakansari, Bogor, Kamis (22/8/2019). Sebanyak tujuh pemain yang absen adalah Stefano Lilipaly, Otavio Dutra, Andik Vermansah, Ruben Sanadi, Hanif Sjahbandi, Rudolof Yanto Basna, dan Victor Igbonefo.

Timnas Indonesia kemudian mendulang kemenangan 4-0 atas Persika Kawarang, pada laga uji coba jelang kualifikasi Piala Dunia 2022, di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (25/8/2019). Gol dicetak oleh Beto Goncalves (16'), Irfan Jaya (45'), Rizky Pellu (56'), dan Otavio Dutra (81').

Pada uji coba berikutnya, Timnas Indonesia menang 2-0 atas Bhayangkara FC, di Stadion Pakansari, Cibinong, Rabu (28/8/2019). Gol dicetak oleh Beto Goncalves (37') dan Hanif Sjahbandi (63').

Setelah mendulang dua hasil positif itu, Timnas Indonesia masih mengalami perubahan. Greg Nwokolo mengalami cedera pada laga uji coba melawan Persika Karawang dan proses pemulihan membuatnya tak bisa bermain pada laga melawan Malaysia dan Thailand. Greg pun dicoret dan digantikan oleh Saddil Ramdani, pada 29 Agustus 2019. Saddil baru bergabung dengan Timnas pada 2 September 2019.

Sehari setelahnya, Timnas Indonesia ditinggal Dutra. Dutra tidak bisa membela Timnas Indonesia pada kualifikasi Piala Dunia 2022 karena proses naturalisasinya menjadi WNI belum selesai. Sebelum melepas Dutra, Persebaya sudah menjelaskan bahwa proses naturalisasi Dutra belum rampung. Namun, PSSI tetap memanggil Dutra untuk mengikuti pemusatan latihan.

"Persebaya sangat menyesalkan soal ini. Padahal dari awal, saat Dutra dipanggil ke timnas, sudah kita sampaikan bahwa proses naturalisasi belum selesai. Entah mengapa Federasi tetap ngotot memanggil. Alhasil, kami tak bisa memakai tenaga Dutra saat lawan Persija," ujar Sekretaris Persebaya Ram Surahman, seperti dilansir Indosport pada Jumat (30/9/2019).

Pada 30 September 2019 itu juga, ada empat pemain yang baru bergabung dengan Timnas, yaitu Stefano Lilipaly, Andik Vermansah, dan Yanto Basna, dan Victor Igbonefo.

Sebelum bergabung dengan Timnas Indonesia, Andik membela Madura United pada laga Liga 1 melawan Semen Padang, di Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan, Rabu (28/8/2019). Adapun Stefano Lilipaly tampil penuh membela Bali United pada laga Liga 1 melawan Borneo FC, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, pada Rabu (28/9/2019). Sementara itu, Saddil Ramdani baru mengikuti sesi latihan Timnas Indonesia pada 2 September 2019.

Andik, Lilipaly, dan Saddil dimainkan sebagai starter pada laga melawan Malaysia. Pada laga melawan Thailand, McMenemy menurunkan Yanto Basna, Andik, dan Lilipaly sebagai starter.

Terlepas dari faktor kelelahan dan kejenuhan, pemusatan latihan diperlukan untuk membangun kekompakan tim yang diperlukan pelatih untuk menentukan skema permainan. Untuk soal ketepatan waktu pemain bergabung dengan pemusatan latihan, pelatih Timnas bergantung pada kebijakan federasi, jadwal pertandingan, dan sikap klub.

Mengacu pada catatan Andik dan Lilipaly, jadwal liga menjadi salah satu faktor yang mengganjal rencana pemusatan latihan. Faktor jadwal juga yang membuat klub membatasi jumlah pemain yang bisa mereka lepas ke Tim Nasional. Dan, dari segi bisnis, klub perlu menjaga performa mereka pada level liga karena punya kesepakatan dengan sponsor. halaman 3 dari 3
Jadwal Thai League 1 dan Malaysia Super League tidak berbenturan dengan pemusatan latihan tim nasional masing-masing. Setelah laga ke-26 pada 25 Agustus 2019, Thai League 1 diistirahatkan dan baru dimulai pada 14 September 2019. Pada periode 25 Agustus-14 September, hanya ada satu laga Thai League 1 yang digelar yaitu laga tunda antara Chiangmai FC vs Suphanburi, pada 29 Agustus 2019.

Pelatih Timnas Thailand, Akira Nishino, melakukan pemanggilan pemain untuk kualifikasi Piala Dunia 2022 pada Selasa (20/8/2019). Saat itu, Akira memanggil 33 pemain untuk mengikuti pemusatan latihan yang baru dilakukan pada 27 Agustus 2019.

Pada pemusatan latihan, Akira hanya mengagendakan satu laga uji coba melawan klub lokal. Uji coba tersebut menjadi acuan Akira untuk menyusutkan tim dari 33 menjadi 23 pemain.

Dari semua pemain yang dipanggil Akira, hanya ada empat pemain yang bermain di luar negeri, yaitu Theerathon Bunmathan (Yokohama Marinos), Chanathip Songkrasin (Hokkaido Consadole Sapporo), Thitipan Puangchan (Oita Trinita), dan Kawin Thamasatchanan (OH Leuven, Belgia).

Empat pemain ini baru bergabung dengan timnas Thailand pada 2 September 2019, atau tiga hari sebelum laga melawan Vietnam. Dari empat pemain tersebut, hanya Kawin Thamasatchanan yang tidak bermain sebagai starter pada laga melawan Vietnam.

Pada laga melawan Indonesia, hanya Theerathon dan Chanatip yang menjadi starter dari empat pemain Thailand yang bermain di liga asing. Keduanya bermain hingga menit ke-74 dan ke-76.

Untuk Malaysia, Malaysia Super League 2019 berakhir pada 21 Juli 2019. Adapun pertandingan terakhir Piala Malaysia sebelum kualifikasi Piala Dunia 2022 berlangsung pada 25 Agustus 2019, itu pun hanya satu laga yaitu Universiti Teknologi MARA (UiTM) vs Petaling Jaya.

Dengan begitu, pelatih timnas Malaysia Tan Cheng Hoe tidak punya kendala soal pemanggilan pemain untuk mengikuti pemusatan latihan menghadapi kualifikasi Piala Dunia 2022, yang dimulai pada 25 Agustus 2019.

Malaysia kemudian kalah 0-1 pada laga uji coba melawan Yordania, di Kuala Lumpur pada 30 Agustus 2019. Dengan bekal itu, Malaysia menghadapi Indonesia dan mendulang kemenangan 3-2. Pada laga kualifikasi Piala Dunia 2022 melawan Uni Emirat Arab, Selasa (10/9/2019), Malaysia kalah 1-2. Meski begitu, timnas Malaysia dinilai telah mengalami peningkatan dan itu sangat dipengaruhi oleh perubahan liga.

"Saya sangat senang melihat permainan Malaysia. Permainan timnas merefleksikan liga kami. Jika Anda membandingkan liga Malaysia saat ini dan liga Malaysia 10 tahun lalu, ketika saya di Kelantan, saya melihat banyak perbedaan," ulas pelatih Selangor FA, Bhaskaran R Sathianathan.

"Intensitas liga Malaysia saat ini sangat tinggi. Para pemain lebih bugar dan mereka memainkan bola lebih cepat dibanding pada era sebelumnya. Dan, peningkatan ini terbawa ke timnas," tambah Sathianathan.

Pelatih bisa salah dan memecat pelatih adalah hal biasa. Namun, jika ada begitu banyak faktor yang belum cukup baik menunjang Timnas, mengganti pelatih hanya memberikan kelegaan sesaat bagi beberapa orang, sampai pada titik tertentu, kita akan kembali ke titik dari mana kita memulai.

Jika Loew masih dipercaya menangani Der Panzer, itu karena DFB menilai kegagalan pada Piala Dunia 2018 terjadi karena hal-hal di luar kewenangan dan kompetensi Loew. Tentu saja, pengukuran itu bisa dilakukan karena DFB sangat yakin dengan kualitas liga domestik yang mereka bangun, termasuk soal pembinaan pemain dan pengembangan pelatih.

Bicara soal lingkungan dalam pembentukan individu maupun sistem, pelatih Lionel Messi ketika di tim muda Newell's Old Boys, Ernesto Vecchio (almarhum) pernah mengatakan, "Kekuatan besar Messi adalah keluarganya dan juga lingkungan Rosario. Perlu waktu menciptakan pemain baik. Anda melihat bakat besar di sini, tetapi kesuksesan bergantung kepada siapa yang menjaga anak-anak ini. Karakter masayarakat tempat Anda tinggal bisa menciptakan perbedaan besar bagi seorang pemain."


Nanya Kode Plat Nomor ke Pemain Bola Polisi, Begini Jadinya!

Terakhir diubah:  22/09/19 - 06:51







Berita Terkait


1571389202112

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?