Liga 1 2019 Munculkan Pelatih-Pelatih yang Layak Disebut Pahlawan


  •    Kukuh Wahyudi
  •    26/12/19 - 06:00
  •    1739

Edson tavares, berhasil mengangkat performa Persija. (Persija)

Di Liga 1 2019 setidaknya ada lima pelatih yang layak disebut pahlawan di akhir musim. Mereka adalah juru taktik yang sukses membawa tim dari papan bawah rawan degradasi hingga akhirnya aman bertahan di kasta elite tahun depan.

Bambang Nurdiansyah (PSIS) dan Djadjang Nurdjaman (Barito Putera) menjadi juru taktik yang mampu menyelamatkan tim dari jeratan turun kasta. Padahal saat mereka datang, kondisi tim dalam grafik menurun.

Banur, biasa Bambang disapa, hadir di PSIS saat tim berjulukkan Laskar mahesa Jenar itu sedang mengalami empat kekalahan beruntun hingga akhirnya terperosok ke peringkat ke-13.

Di tangah Banur sejak pekan ke-15, PSIS tak langsung membaik. Butuh hampir 11 pekan hingga akhirnya mereka tampil konsisten di tren kemenangan.

Meski mengakhiri musim tetap di peringka ke-13, setidaknya ia jadi pahlawan PSIS dalam menyetop tren buruk.

Hal serupa dialami Djanur, Djajdjang Nurdjaman. Meski tak berhasil memperbaiki prestasi tim dengan signifikan, ia tetap dipuji lantaran menyelamatkan Barito Putera dari degradasi.

Saat datang ke Barito, Djanur pun dihadapi dengan empat kekalahan beruntun. Namun di  laga debutnya pada pekan 17, ia mampu membawa Rizky Pora dkk. menang 3-2 atas Semen Padang (1/9/2019). 

Datang saat Barito di posisi 15 akhirnya ia mampu mengangkat tim ke peringkat ke-13 di ujung Liga 1 2019.


halaman 2 dari 3

Sementara itu, berbeda dengan Banur dan Djanur, tiga pelatih selanjutnya terbilang lebih sukses. Mereka adalah Jacksen F. Tiago bersama Persipura, Nilmaizar (Persela), dan Edson Tavares (Persija) yang menyulap tim dari papan bawah ke papan tengah bahkan atas.

Jacksen datang kembali ke Persipura saar Boaz Solossa dan kolega tak mampu meraih kemenangan dalam tujuh laga pertama. Namun, semua langsung berubah saat ia membesut tim sejak pekan kedelapan.

Persipura langsung berada dalam tren positif.  Selama 15 pekan selanjutnya, Muiara Hitam mampu meraih 10 kemenangan, tiga hasil imbang, dan sekali menelan kekalahan.

Meski sempat mengalami periode buruk lagi, Persipura akhirnya mampu finis di urutan ketiga dari posisi ke-15 saat Jacksen datang.

Persela sedang berada di posisi ke-17 saat Nil datang. Arif Satria dkk. gagal menang dalam lima laga awalnya. 

Sejak mulai ditangani Nil pada pekan keenam, sebenarnya Persela tidak langsung konsisten di jalur kemenangan. Butuh 22 pekan lagi hingga akhirnya Persela mampu meraih lima kemenangan beruntun menjelang akhir musim. Berkat raihannya itu, Laskar Joko tingkir finis di peringkat ke-11.




halaman 3 dari 3

Edson di Persija pun tak bernasib baik. Ia datang saat Andritany Ardhiyasa dkk. tengah angin-anginan. Mereka tak mampu tampil stabil.

Alhasil, tim terperosok hingga peringkat ke-16, zona degradasi. Namun, Edson membawa berkah.

Tak langsung tancap gas, tapi perlahan-lahan. 

Bahkan di pertandingan debutnya pada pekan ke-19, Macan Kemayoran kalah 1-2 dari Semen Padang di kandang. Akan tetapi penampilan Persija mulai stabil dalam 10 laga terakhir. Lima laga berhasil dilalui dengan kemenangan.

Alhasil, Persija mampu mengakhiri musim di peringkat ke-10 dengan 44 poin.








Berita Terkait


1578994202341

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?