Unjuk Gigi Apparel Lokal di Rumah Sendiri


  •    Kukuh Wahyudi
  •    13/01/20 - 14:00
  •    3318

Bolalob

Jika pemain-pemain impor masih menjadi solusi untuk meningkatkan performa tim, tidak bagi produk apparel. Merek lokal dalam negeri kini mampu menjadi rekan ideal klub untuk mengukir prestasi.

Dalam beberapa tahun terakhir, apparel-apparel lokal memang mulai digandrungi. Di era Liga 1 saja (2017-2019), mayoritas klub sudah menggunakan merek dalam negeri.

Di Liga 1 2017, total ada 13 klub menggunakan merek lokal. Artinya, hanya ada lima tim saja yang tersisa menggunakan apparel asing saat itu, yaitu PSM (Kelme), Madura United (Mizuno), Semen Padang (Mizuno), Mitra Kukar (Joma), dan Persela (Lotto).

Memasuki musim 2018, jumlah tim yang menggunakan merek lokal berkurang, hanya 12 tim saja. Tapi pada Liga 1 2019, klub-klub pengguna produk dalam negeri kembali ke angka 13.

Mereka adalah Bali United (self apparel), Persebaya (self apparel-Aza), Persipura (Specs), Madura United (MBB), Persib (Sportama), Borneo FC (self apparel-NH), PSS (Sembada), Persija (Specs), Barito Putera (self apparel-H), PSIS (Riors), Tira Persikabo (MBB), Badak Lampung (self apparel), dan Kalteng Putra (MBB).




Di era Liga 1, tim-tim peraih juara ternyata pengguna apparel lokal. Di mulai dari Bhayangkara FC sebagai jawara Liga 1 2017, mereka menggunakan Villour. Disusul oleh Persija (2018) dengan Specs dan Bali United (2019) dengan self apparel.

Produsen apparel lokal pun menyambut positif fonomena ini. “Ketika ada fenomena banyaknya klub menggunakan apparel lokal, dalam hemat saya ada dua. Pertama adalah alasan kenutuhan. Saat memakai apparel luar biasa klub skemanya beli putus. Produknya jadi tidak banyak,” tutur Sirajudin Hasbi sebagai Business Development Sembada kepada Bolalob.

“Kedua tentu alasan bisnis. Bahwa ketika memakai brand luar belum tentu sponsorship. Sementara pakai apparel lokal bisa dapat produk yang dibutuhkan sehingga bisa potong biaya kebutuhan pakaian olahraga. Bahkan bisa jadi memperoleh royalti,” ucapnya lagi.

Sementara itu, Yudhi Setiawie sebagai owner Riors, mengatakan bahwa klub-klub saat ini sudah mulai sadar nilai plus dari apparel asli Indonesia.

“Klub dan brand sudah mulai bisa beradpatasi dalam hal kerja sama. Pihak klub mulai sadar kalau produk lokal tak kalah dengan produk luar. Di satu sisi, brand mulai banyak dipercaya dan banyak yang berinvestasi di bidang ini (prudusen),” kata Yudhi atau biasanya disapa Jack itu. halaman 2 dari 3
Nominal dan Lebih Murah

Namun, Jack mengatakan bahwa pihaknya memang tak memberikan dukungan dana segar kepada tim yang mereka suplai kebutuhan apparelnya.

"Kami tidak membiasakan klub diberikan nominal uang. Kami kan sudah menyediakan barang berserta nilai nominalnya. Mereka memiliki hak menjualnya juga. Kalau klub butuh cash money kami tidak akan mau ke klub itu,” ucapnya.

Kendati demikian, Jack mengatakan bahwa Riors bakal bersungguh-sungguh menyediakan perlengkapan tim seluruhnya. Tak hanya soal jersey atau kebutuhan di lapangan, tapi juga jaket dan beberapa ornamen lainnya di luar lapangan.

Sementara itu, Hasbi mengatakan bahwa salah satu keunggulan merek lokal adalah harga yang terjangkau untuk para suporter.

"Apparel lokal punya kekuatan untuk menetapkan harga sendiri. Kami liat UMR dan kemampuan fans. Kami tidak bisa langsung pasang harga tinggi agar mereka bisa mengakses produk yang original,” katanya.


halaman 3 dari 3
Tim Nasional

Akan tetapi, Hasbi menyadari bahwa produk dalam negeri memang belum mampu menyamai beberapa merek internasional. "Kalau kita bilang kualitas sama, saya bilang belum. Tapi ada usaha untuk terus meningkatkan kualitas. Semua apparel lokal berlomba-lomba untuk mengembangkan produknya sesuai standar, yaitu untuk kenyamanan pemain," ujarnya.

Terkait tim nasional yang sebelumnya dipegang oleh Nike, Jack pun mengaku belum percaya diri jika harus menjadi apparel resmi timnas.

"Sebenarnya pada 2018 kami sudah mensuport font untuk timnas. Head to head harus sama Nike. Saya akui barang Nike barang terbaik di dunia. Yang harus Riors lakukan harus melebihi dari Nike. Kalau tak bisa sebaik Nike kami bisa dicemooh. Kami harus bisa berkembang sebaik Nike. Tapi pasti ada tantangan brand lokal untuk pegang timnas," ujarnya.

Saat ini timnas sudah tak lagi menggunakan Nike sebagai apparel. Tim Merah Putih justru berali ke produsen apparel asal negera tetangga, Thailand, yaitu Warrix.
Terakhir diubah:  16/01/20 - 09:07







Berita Terkait


1582810202087

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?