Jalan Nyeleneh Bepe-Boaz Jadi Legenda Timnas


  •    Kukuh Wahyudi
  •    29/04/20 - 14:00
  •    807

Jalan Nyeleneh Bepe-Boaz Jadi Legenda Timnas
Bepe dan Boaz mengawali langkah ke timnas dengan status amatir. (foto: Fox Sport)

Menjelang matahari berganti tugas dengan rembulan di Ho Chi Minh City, Vietnam, 7 Desember 2004, ada anak muda dari Tanah Papua yang sukses memancing decak kagum banyak orang.

Dirinya bukan nama besar di sepak bola Indonesia meski ia sudah menjalani debutnya di timnas senior pada 12 Oktober 2004 dalam Kualifikasi Piala Dunia 2006 vs Arab Saudi. Tapi sore itu nama pemuda bertubuh kurus tersebut makin dikenal banyak orang.

Ia menjalani laga perdananya di Piala Tiger 2004, ajang yang tak kunjung ditaklukkan oleh Indonesia sampai sekarang. Boaz Solossa namanya.

Striker yang masih berusia 17 tahun tersebut bahkan berhasil mengreasi dua gol ke gawang Laos di partai perdananya. Gol Boaz dicetak pada menit ke-25 dan 52'.

Kini sekitar 16 tahun telah berlalu, Boaz telah ditasbihkan menjadi legenda hidup timnas. Setelah AFF 2004 itu, namanya terus berkibar bak bendera di tengah-tengah upacara.

Namun, pencapaian Boaz sampai titik saat ini sebenarnya tidaklah normal, nyeleneh kata yang tepat.

Sama seperti Bambang Pamungkas, mereka berdua masuk timnas di saat statusnya masih sebagai pemain amatir. Belum ada tanda tangan kontrak di secarik kertas yang mengikatnya di sebuah klub.


halaman 2 dari 3
Bambang Pamungkas
Panggilan pertama dari timnas Indonesia level senior hadir pada 1999 setelah sebelumnya berseragam timnas U-19. Bagi Bepe, momen itu adalah awal perjalanan yang unik.

"Dalam karier sepak bola saya, ada sesuatu yang unik yang mungkin tidak terjadi kepada pemain lain. Ketika saya mendapatkan panggilan Timnas Indonesia senior untuk pertama kali, status saya masih pemain amatir," tulis Bepe dilansir dari blog pribadinya pada 1 Maret 2008 dengan judul Persija Bukan Tujuan Utama Saya.

Jadi, saat Bepe bermain untuk SEA Games (belum dikhususkan U-23), ia masih berstatus siswa Diklat Salatiga yang belum memiliki klub.

"Setelah perhelatan SEA Games 1999 selesai, berakhir pula masa pendidikan saya di Diklat Salatiga dan itu berarti saya harus mencari klub untuk melanjutkan karier saya," tulisnya melanjutkan.

Promosinya Bepe dari timnas U-19 ke timnas senior bukan lah hal yang mengherankan bagi tim pelatih timnas U-19.

"Di timnas kualitasnya memang sudah terlihat. Salah satu yang istimewa adalah loncatannya," kata Rully Nere yang saat itu menjabat sebagai asisten pelatih timnas U-19 kepada Bolalob. halaman 3 dari 3
Boaz Solossa
Terdapat nama Boaz Solossa dalam skuad Piala AFF 2004. Ia satu-satunya pemain yang berstatus non profesional. Pelatih Peter Withe lah yang mempercayainya setelah melihat Boaz di PON Palembang 2004 bersama Papua dan saat itu dirinya masih SMA.

Di PON, Boaz memang tampil sangat cemerlang. Ia membawa Papua menjadi juara bersama Jawa Timur setelah bermain imbang 3-3 di final.

Pelatih Boaz di tim PON, Rully Nere, mengatakan bahwa sejak awal bertemu Boaz ia sudah melihat bakat sang pemain. Visi bermainnya unggul di atas pemain seusianya.

"Dia cepat, memiliki kemampuan, dan visi bermainnya bagus. Saya rasa pemangilan dirinya ke timnas Piala AFF menjadi langkah besar untuk Boaz," tutur Rully Nere lagi.






Video Trending



Berita Terkait


1592350201344

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?