Apa Yang Salah dengan Generasi Emas Timnas Indonesia U-19 2013?


  •    Robert
  •    02/05/20 - 20:30
  •    6.961

Apa Yang Salah dengan Generasi Emas Timnas Indonesia U-19 2013?
Detik Sport/Timnas Indonesia U-19 2013

Masih ingat dalam ingatan, ketika Timnas Indonesia U-19 dibawah asuhan pelatih Indra Sjafri sukses meraih gelar juara Piala AFF tahun 2013 lalu. Mereka mengakhiri dahaga masyarakat Indonesia dalam meraih gelar timnas di level internasional. Selain itu skuat yang mendapat julukan Garuda Nusantara itu digadang-gadang sebagai generasi emas negeri ini.

Setelah menjuarai Piala AFF U-19 mereka pun sukses melaju ke putaran final Piala Asia, setelah mengalahkan Korea Selatan dalam pertandingan seru di Stadion Gelora Bung Karno dalam babak kualifikasi. Evan Dimas mencetak hattrick kala itu dalam kemenangan 3-2, sekaligus membawa Indonesia menjadi juara grup dengan raihan poin sempurna (9).

Generasi emas itu membangun ekspektasi besar kepada publik tanah air, dimana memang skuat itu memiliki talenta dan kemampuan yang mumpuni. Namun di putaran final Piala Asia, mereka tak berkutik kala menghadapi Uzbekistan, Australia dan juga Uni Emirat Arab. Dalam tiga laga, mereka selalu menelan kekalahan.




Sementara Myanmar kala itu sukses finis di empat besar Piala Asia U-19 2014 dan lolos ke Piala Dunia U-20 setahun berselang. Diangkata itu pula banyak pemain muda yang sudah menjadi bintang saat ini, sebut saja Takumi Minamino (Jepang, Liverpool), Almoez Ali (Qatar, Al Duhail) dan juga Hwang Hee-chan (Korea Selatan, RB Salzburg).

Tujuh tahun berselang sejak mereka mengangkat trofi Piala AFF U-19, kemana saja para pemain itu saat ini? Berapa banyak dari mereka yang masih bermain untuk klub dan timnas secara konsiten dan signifikan?



Dari 23 nama, tak banyak memang yang saat ini menjadi andalan di klub dan juga timnas. Evan Dimas mungkin nama yang bisa dikatakan paling sukses dalam beberapa tahun terakhir dalam segi menit bermain. Untuk trofi? Jelas tak ada. Mungkin pencapaian terbaiknya dengan timnas adalah medali perunggu di SEA Games 2017 dan medali perak di Filipina tahun lalu. Namun kita tetap harus angkat topi bagi pemain asal Surabaya ini.

Selain Evan, ada nama-nama yang masih eksis di Liga 1 dan juga Timnas hingga saat ini. Sebut saja Hansamu Yama (Persebaya Surabaya), Ricky Fajrin (Bali United), Septian David Maulana (PSIS Semarang), Ilham Udin (Barito Putera), I Putu Gede Juni Antara (Bhayangkara FC), Paulo Sitanggang (Persik Kediri), Hargianto (Bhayangkara FC), Dicky Indrayana (Borneo FC) dan juga Yanto Basna yang sudah dalam tiga musim terakhir bermain di Liga Thailand. Dari sekian banyak yang masih eksis, berapa banyak yang signifikan? halaman 2 dari 4
Lantas apa yang salah dengan perkembangan generasi emas ini atau lebih tepatnya pembinaan pemain muda di Indonesia?

"Ini menjadi diskusi di seantero dunia, yakni tentang: pembinaan dan prestasi. Prestasi penting? Jelas Ya, tapi membentuk pemain muda yang biasa menghadapi tekanan baik mental dan fisik adalah faktor yang sama-sama krusial. Pemain muda harus dibentuk untuk berhadapan dengan kegagalan dan bangkit lagi dan lagi," ujar Pelatih asal Brasil, Jaino Matos yang saat ini menjadi General Manager Project Oceano Football Center.



"Setiap kali merasa sukses pemain harus terus lapar, kerja keras lagi, rendah hati dan jangan pernah merasa puas. Dalam melakukan semua ini harus dengan konsisten, menurut saya pemain muda kita terlalu cepat dipuji, tanpa prestasi apapun, dan sudah dianggapa pemain bintang, bagaimana itu bisa terjadi?."

"Tentu fokus utama pembinaan dimana pun di dunia adalah bagaimana caranya pemain muda bisa menjadi pemain senior yang signifikasi dan konsiten selama bertahun-tahun, bukan prestasi saat masih muda dan saat bermain di senior menghilang." halaman 3 dari 4
Pentingnya Sebuah Ilmu Pengetahuan

Tak bisa dipungkiri, kita sudah tertinggal jauh dengan sepakbola Eropa dalam menerapkan ilmu dan teknologi dalam permainan ini. Banyak pekerjaan baru di sebuah tim atau klub dalam menganalisa pemain dengan menggunakan teknologi.

Bayer Leverkusen menggunakan staff yang menganalisa secara ril pemain mereka di pertandingan dan langsung memberikan masukan kepada pelatih kepala saat itu juga. Lalu GPS sangat berguna untuk melacak pergerakan pemain, apa kebiasaan mereka baik di latihan maupun di pertandingan. Semua bisa dianalisa jika kita memiliki data yang konkret.



Dortmund memiliki alat bernama Footbonaut, sebuah mesin pelatihan sepak bola yang menembakkan bola dengan kecepatan dan lintasan yang berbeda kepada para pemain, yang harus mengendalikan dan mengoper bola ke kotak yang disorot. Selain mengasah keterampilan bola, mesin ini dirancang untuk meningkatkan waktu reaksi pemain.

Oceano Football Center sendiri merupakan tempat dimana para profesional dilatih untuk meningkatkan segala aspek yang mereka miliki maupun tidak. halaman 4 dari 4
"Akan sangat penting untuk memiliki data dari analisa penampilan dari tim itu (Timnas U-19 2013/14) apakah mereka cukup fit? Setelah pertandingan melawan Korea di Jakarta, apakah performa mereka menurun? Kenapa? Apakah tim itu siap untuk Piala Asia? Tak ada yang bisa membuktikan, tak ada data yang menunjukan sebaliknya. VO2MAX bukan parameter untuk menentukan pemain itu siap atau tidak, ada banyak ukuran lain, termasuk faktor psikologis, setelah jangka panjang persiapan, apakah mental pemain bugar? Mungkin hanya pemain itu yang bisa menjawab sendiri."

"Ini sangat-sangat penting untuk memiliki data, akurasi data dari GPS dan juga alat teknologi lainnya, untuk membangun sesuatu kita butuh patokan dan rencana untuk masa depan yang lebih baik."



"Sepak bola perlu didekati dengan cara yang lebih sistemik, belum ada klub yang secara penuh memiliki departemen sciene dan performa, dengan dokter ortopedi, spesialis physio di sepakbola (untuk pencegahan cedera dan setelah sembuh dari cedera, setelah pemain melakukan operasi akan berbeda dengan olahraga lain)," ujar Jaino.

"Physiologist? Berapa banyak klub yang punya? Berapa banyak klub yang membaca data GPS dari physiologist? Setiap atlit, setiap pemain sepak bola memiliki karakteristik masing-masing, kebutuhan kekurangan dan kelebihan, ada pemain yang perlu istirahat lebih, jika itu tak terjadi mereka akan terkena kelelahan kronis. Dan itu bisa membuat penampilan mereka buruk dan juga cedera. Indonesia memiliki banyak talenta mentah dimana itu menjadi kolam pemain berbakat."

"Sementara ilmu dan metode latihan terbaru masih butuh banyak pengembangan. Departemen ilmu pengetahuan dan performa adalah aset bagi klub dan timnas. Itu harus diluar selera pelatih manapun yang melatih. Pemain adalah aset klub dan timnas dengan mempunyai data, aset bisa lebih terjaga, dan tim pelatih bisa meningkatkan performa tersebut, tim medis dengan integrasi atau kolaborasi bisa menghindari pemain dari cedera," tutup Jaino.
Terakhir diubah:  05/05/20 - 19:16






Video Trending



Berita Terkait


1594346403130

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?