Bermula dari Diklat Persib, Jaino Matos Jadi Pelatih Spesialis Orbitkan Pemain Muda


  •    Robert
  •    19/05/20 - 10:00
  •    1.702

Bermula dari Diklat Persib, Jaino Matos Jadi Pelatih Spesialis Orbitkan Pemain Muda
Jaino Matos

Ketika mendengar kata Diklat Persib Bandung maka kita langsung terpikir nama-nama pemain berbakat yang tampil di Liga Indonesia dalam beberapa musim terakhir.

Tak bisa dipungkiri, Diklat Persib melahirkan sejumlah nama beken. Beberapa di antaranya saat ini memperkuat Persib, mulai dari Febri Haryadi, Muhammad Natsir, Gian Zola, Hanif Sjahbandi, Alfath Fathier, hingga Abdul Aziz.

Proyek pembinaan pemain muda oleh Persib ini digagas pada tahun 2013, General Manager Diklat Persib, Yoyo S. Adiredja menunjuk sosok pelatih Jaino Matos yang dipercaya menjadi Direktur Teknis / Head Coach program itu. Ia tak sendirian kala itu, Muhammad Iqbal pendiri departamen Fisioterapi specialist  olahraga menemani Jaino di Persib, juga membentuk Departmen Science dan Performa:dimananya menjaga kondisi fisik dan kebugaran para pemain Diklat Persib. Begitu juga dengan asupan makanan,dan vitamin agar para pemain muda siap tampil di pertandingan secara maksimal.




Iqbal menjaga kondisi fisik dan stamina para pemain Diklat Persib. Begitu juga dengan asupan makanan, agar para pemain muda siap tampil di pertandingan.

"Kembali pada tahun 2013, Pak Yoyo (Komisaris Persib) saat itu dan saya memiliki visi untuk membina bakat, tetapi tidak hanya dalam hal sepak bola tetapi juga sebagai individu, dengan keterampilan moral dan kehidupan, mengajar mereka yaitu integritas, kerja keras, komitmen, disiplin, ketangguhan dan konsistensi," ujar Jaino Matos kepada Bolalob.

"Kami percaya bahwa melalui nilai-nilai kehidupan yang kuat peluang keberhasilan dalam sepakbola akan jauh lebih tinggi, dan dengan bangga kita dapat mengatakan hari ini, bahwa dari satu generasi telah menghasilkan 17 pemain yang hari ini bermain untuk Persib Bandung dan klub lain serta untuk Timnas Indonesia, misinya selesai di sana," ujarnya.



Jaino memiliki latar belakang yang kuat dalam pengembangan pemain muda, dimana ia menjadi bagian dalam proyek Aspire Academy di Qatar. Sebuah program akademi dalam mengimplementasikan data dan teknologi ke dalam sepak bola. Salah satu pusat pelatihan sepakbola terbaik di dunia hingga saat ini.

"Dalam pembinaan ada satu faktor krusial yang perlu disadari. Talenta itu tidak akan berbuah tanpa adanya program pelatihan berkualitas dan akurat. Persiapan mental dan fisik untuk menghadapi tekanan yang datang tiap harinya di sepak bola," ujar Jaino kepada Bolalob.

"Dan yang terakhir talenta butuh sebuah platform untuk menunjukan kemampuan, butuh klub dan pelatih yang berani memainkan pemain muda di pertandingan." halaman 2 dari 4
Angkatan pertama Diklat Persib berhasil mencetak total 31 pemain, namun tidak semuanya berhasil mempertahankan karir mereka di kancah perspeakbolaan tanah air. Namum sangat impresif melihat satu angkatan mengorbitkan jumlah besar pemain berkualitas dari skuat Jawa Barat saat meraih medali emas untuk pertama kalinya di PON 2016, sebanyak 10 pemain diantaranya berasal dari Diklat Persib.



Mereka adalah Ary Ahmad, Jujun Saefulloh, Henhen Herdiana, Rizky DG, Febry Haryadi, Fachrul Ginanjar Sudarmadi, Gian Zola Nugraha, Sugianto, M. Dzikri Argani, Angga Putra.

Para pemain Diklat Persib saat itu harus berjuang tiap hari di latihan demi mendapatkan kontrak. Bisa dibilang Persib adalah pionir dalam melakukan hal tersebut.

Abdul Aziz punya pengalaman pahit ketika masih menjadi siswa Diklat Persib. Aziz pernah dua kali gagal meraih gelar juara kompetisi Liga Super Indonesia U-21 pada 2013 dan 2014 bersama Persib U-21.

Kegagalan itu pun menjadi pelecut semangat Aziz untuk membayarnya dengan kesuksesan di masa depan. Ia mendapat kepercayaan dari Jaino saat menangani Persiba Balikpapan, padahal Aziz sudah putus asa dan banting setir ke dunia futsal.

Kini Aziz berhasil masuk skuat utama Persib senior di Liga 1 2020, tim yang ia impikan sejak kecil.

"Kisah yang paling membekas dan masih selalu teringat saat bersama Diklat Persib. Kami gagal menjadi juara ISL U-21. Tapi, itu jadi pelajaran penting dan saya harus selalu belajar dari setiap kesalahan," kata Aziz.

Kenangan berada di Diklat Persib juga diutarakan oleh Hanif Sjahbandi yang musim ini membela Arema FC.

"Saya satu angkatan sama Febri, Zola. Memang belum waktunya juga. Pada saat itu, yang saya tahu sedikit pemain-pemain yang naik dari junior ke tim senior," tambahnya.

Hanif bermain di PBR di ajang Piala Presiden 2015. Pada 2016, ia lalu melanjutkan kariernya ke Persiba Balikpapan, dibawah asuhan Jaino Matos juga kala itu.

Saat ia memutuskan gabung ke Persiba itulah, pemain-pemain seangkatan Hanif dipromosikan ke tim senior Persib Bandung.

"Ketika saya keluar, baru rekan-rekan seperti Febri, Zola, Henhen naik ke tim senior," ungkapnya. halaman 3 dari 4
Bulan Januari lalu Diklat Persib kembali memberikan kontrak berdurasi dua tahun kepada tujuh pemain Persib U-16. Mereka adalah Erlangga Setyo, Kakang Rudianto, Ferdiansyah, Dimas Juliono, M. Valeroen, Diandra Diaz Dewari dan M. Adzikry.

Nama terbaru yang pada musim lalu promosi ke tim senior Persib adalah Beckham Putra Nugraha. Adik kandung Gian Zola ini bisa jadi menjadi satu-satunya pemain Diklat Persib yang menonjol di usianya.



Beckham Putra baru masuk ke Diklat Persib pada 2017. Musim lalu, pemain yang acap kali mengisi posisi gelandang itu menandatangani kontrak dari manajemen Persib.

Di tahun yang sama, Beckham menjadi satu-satunya pemain Persib yang membela timnas U-19 Indonesia di Piala AFF U-18 2019. Di bawah arahan Fakhri Husaini, skuad Garuda Nusantara sukses menempati peringkat ketiga pada ajang tersebut.

Beckham pun diproyeksi sebagai gelandang timnas Indonesia yang akan tampil di Piala Dunia U-20 2021.

Tolak ukur kesuksesan sebuah akademi sepakbola adalah alumni yang bermain di tim utama secara reguler dan itu semuah berkat usaha para pelatih yang membina para pemain muda sejak usia dini.

Salah satu pemain lulusan Diklat Persib, Gian Zola pun mengakui banyak pelajaran dan pengalaman yang dipetiknya. "Pelajaran utama, kami harus disiplin soal waktu dan makanan. Zola waktu itu kan lebih muda beberapa tahun dengan pemain Diklat, karena pemain Diklat itu U-21. Coach Jaino waktu itu menilainya siapa saja yang berani saat main, mungkin karena beliau pelatih asing jadi melihat pemain semua sama, enggak lihat umur," ucapnya.

"Dari coach Jaino, Zola tahu bagaimana menghadapi pemain yang lebih senior. Jaino memang pelatih yang sangat dekat dengan pemain," tambahnya.

Hal senada juga diungkapkan Febri Hariyadi, yang kini menjadi winger andalan Persib dan juga Timnas Indonesia.

"Bukan hanya teknik atau fisik saja yang menjadi fokus, tapi semua sisi pembinaan dan pengalaman main juga diberikan coach Jaino waktu itu buat semua pemain. Diklat memang bagus untuk membina pemain muda," ujar Febri. halaman 4 dari 4
Pembinaan yang sukses adalah pembinaan yang berhasil membetuk pemain senior untuk jadi pemain reguler dan signifikan.

Dari jenjang pembinaan pun di dalam tubuh Persib terbilang lengkap karena memiliki Akademi Persib dan Diklat Persib. Tidak hanya itu, kontribusi pemain dari diklat untuk Persib yang tampil di Liga 1 setiap tahunnya terus berjalan.



Sejak tahun 2019 Jaino fokus untuk mewujudkan mimpinya dalam mengembangkan akademi sepakbola serta pelatihan para pemain profesional dari konsep yang unik dan berbeda. Ia menjadi General Manager di Oceano Football Center.

Tempat dimana para profesional dilatih untuk meningkatkan segala aspek yang mereka miliki melalui metode Integrated Cognitive Functional Football Training. Metode yang menganalisa segala keperluan seorang pemain di segala aspek.
Terakhir diubah:  19/05/20 - 14:01






Video Trending



Berita Terkait


1596442202258

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?