Kisah Primavera, Nekat Puasa Lalu Tumbang 0-6 Hingga Dihadapkan pada Psikolog dan Ustad


  •    Kukuh Wahyudi
  •    20/05/20 - 21:30
  •    1188

Tim Primavera. (Dok. Yeyen Tumena)

Suatu siang yang terik di Italia, Yeyen Tumena dan kolgeanya dalam tim PSSI Primavera tengah sibuk mengenakan seragam pertandingan di ruang ganti. Cuaca panas di luar ruangan dengan mudahnya menerobos masuk dan menghinggapi tubuh penghuninya.

Artikel ini bersumber dari program hasil kerja sama Bolalob dan Historia dengan tajuk BOLATORIA .

Sempat berpikir untuk menenggak air dalam botol minum yang berada di sudut ruangan. Tapi sayangnya tidak bisa, Yeyen sudah berniat menjalankan ibadah puasa hari itu. 

Detik-detik pertandingan akhirnya tiba. Tim Primavera berhadapan dengan tim junior elite Italia, Fiorentina.

Kondisi kedua tim berbeda 180 derajat. Tim lawan masuk lapangan dengan kondisi fit alias tidak kehausan dan merasa lapar. Di sisi lain, Yeyen cs. merasakan kering di tenggorokan dan perut mereka mulai bersuara.

“Akhirnya di laga lawan Fiorentina kami kalah 0-6 karena semua pemain puasa dan bermain siang hari,” kata Yeyen dalam obrolan live “Bolatoria: Puasa dan Sepakbola” di Youtube maupun Facebook yang dihelat Historia dan Bolalob.com pada Jumat (15/5/2020).


halaman 2 dari 4

Agama ya Agama, Sepak Bola ya Sepak Bola

Momen itu lantas direspon oleh PSSI, sang empunya tim. Pejabat PSSI dan manajemen tim tak mau anak didiknya dijadikan bulan-bulanan seperti itu terus.

Bagi Yeyen, momen puasa saat berlaga untuk Primavera memang tak mudah.

“Di Primavera pertandingannya siang, jam 2 atau jam 3 siang. Sulit untuk kami bisa bilang bahwa boleh tidak puasa karena sebagai musafir dan segala macam. Kawan-kawan sebagian besar tetap berpuasa dan itu berdampak pada penampilan langsung,” tuturnya mengenang. 

Di sisi lain, para pemain ingin tetap menjalankan ibadah karena tekad dirinya dan tentunya pesan orang tua di Indonesia.

“Sebagian besar anak-anak (Timnas Primavera) merasa ya akidah tetap akidah. Agama tetap agama, dan sepak bola adalah sepak bola,” kata pemain yang akhirnya berseragam PSM usai mengakhiri program Primavera itu.

Tim Primavera. (Dok.Yeyen Tumena)

halaman 4 dari 4

Panggil Psikolog dan Ustad.

Karena diskusi manajemen tim dan pemain tak menemukan solisi, pihak ketiga pun diterbangkan dari Indonesia untuk menengahi situasi itu.

“Sempat didatangkan ke Italia seorang psikolog top pada masa itu,” ujar Yen. Tak berhenti sampai di situ. “Bahkan sampai mendatangkan ustad dari Kedutaan Besar Indonesia di Italia. Ia berbicara keimanan dan nutrisi untuk tubuh pemain bola,” tuturnya.

Awalnya keputusan mendatangkan psikolog dan ustad tak langsung membuah kan hasil. Umuur anak-anak yang masih remaja menjadi kendala tersediri dalam mencerna bahan pembahasan.

“Akhirnya kami sepakat bila ingin beribadah harus disiplin dalam menyiapkan diri sebagai pesepak bola. Misalnya saya butuh 3.500 kalori dan tiga liter air. Apakah kebutuhan itu sudah dipenuhi saat sahur dan berbuka. Kalau tidak dipenuhi maka harus memilih apakah saya tetap harus bermain dalam kondisi tidak fit atau berhutang puasa,” kata pemain dengan gelar Liga Indonesia bersama PSM itu.

Terakhir diubah:  22/05/20 - 09:08





Video Trending



Berita Terkait


1589272201403

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?