Perilaku Tak Menyenangkan Pelatih Vietnam Terhadap Simon McMenemy


  •    Kukuh Wahyudi
  •    22/05/20 - 12:00
  •    2528

Momen di mana jabatan tangan Simon tak dibalas Calisto. (Zing)

Piala AFF 2010 menjadi etalase bagi Simon McMenemy di Asia Tenggara. Hadir mendampingi timnas Filipina di ajang bergengsi dua tahunan itu, namanya langsung mencuat.

Tepatnya pada laga kedua Piala AFF, yaitu Filipina vs tuan rumah Vietnam (5/12/2010). Pelatih asal Skotlandia itu sukses membawa Filipina memukul keok Vietnam dengan skor 2-0. 

Tak ada yang mengira Filipina bisa meraih kemenangan tersebut. Pasalnya, Vietnam berstatus juara bertahan dan di laga sebelumnya tampil perkasa 7-1 atas Myanmar.

Satu faktor lain tentu karena Filipina dianggap hanya tim pelengkap saja.

Momen itu lantas membuat semua elemen Vietnam kecewa, termasuk pelatihnya, Henrique Calisto. Pelatih asal Portugal itu terang-terangan kesal dengan racikan strategi Simon.

"Gaya sepak bola Filipina yang negatif telah membunuh sepak bola,” tuturnya kala itu usai pertandingan.


halaman 2 dari 3

Bahkan, Calisto sampai tak sudi berjabat tangan dengan Simon sehabis laga. Hal inilah yang sampai sekarang diingat Simon.

“Insiden itu adalah satu-satunya hal yang membuat saya kecewa dalam pertandingan. Tidak berjabatan tangan berarti dia tidak menghormati kita. Pertandingan melawan Singapura, Filipina juga bermain bagus (imbang 1-1). Setelah pertandingan itu, Radojko Avramovic (pelatih Singapura dari 2003 hingga 2012) masih memberi selamat kepada kami. Dia juga mengatakan bahwa Filipina bermain bagus dan pantas mendapatkan skor,” tutur Simion seperti dikutip dari media Vietnam, Zing.

“Ketika saya bertemu Calisto, saya ingat dengan sangat jelas bahwa dia hanya melambaikan tangannya dan menolak. Saya mengerti perasaan kehilangan, tetapi haruskah yang kalah memiliki perilaku seperti itu? Filipina telah melakukan sesuatu yang luar biasa dalam sejarah, tetapi Calisto tidak mengambil tindakan apa pun untuk mengakui itu. Saya pikir itu kasar,” ucap Simon lagi.

Bahkan, menurut Simon tindakan Calisto itu menjadi yang terburuk selama ia berkarier satu dekade di Asia Tenggara.

“Di akhir pertandingan, saya juga berusaha menekan emosi saya, menjaga sikap saya tetap tenang. Saya bahkan tidak melompat untuk merayakannya. Saya mengerti perasaan gagal, yang notabene normal bagi pelatih sepak bola. Namun, dia adalah pecundang. Dalam 10 tahun saya bekerja di Asia Tenggara, itu adalah tanda terbesar dari kurangnya profesionalisme,” kata Simon lagi.






Video Trending



Berita Terkait


1590027602328

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?