Mancini, Simeone hingga Inzaghi, Sven Goran Eriksson Jadi Mentor Banyak Pelatih Hebat


  •    Robert
  •    22/05/20 - 17:00
  •    1040

Bolalob

Pada Desember 1996, Sven Goran Eriksson setuju untuk meninggalkan Sampdoria di akhir musim, untuk menerima pinangan Blackburn Rovers. Namun, pada Februari 1997, ia menelan ludahnya sendiri dan memilih untuk bertahan di Italia dan menjadi pelatih baru Lazio, efektif mulai 1 Juli 1997. Saat itu, Eriksson menyatakan alasan keluarga menjadi prioritas dia untuk tinggal di Italia, dan Rovers kemudian pada akhirnya menunjuk Roy Hodgson.

Eriksson melatih Lazio mulai musim 1997 setelah sebelumnya sukses bersama Sampdoria. Lazio adalah tim keempat Eriksson di Italia setelah AS Roma dan Fiorentina di era 80-an.

Eriksson mempekerjakan sesama pelatih Swedia Tord Grip sebagai asistennya. Eriksson akhirnya menemukan kesuksesan besar di Italia bersama Lazio ketika ia memenangkan Coppa Italia dan Supercup Italia pada tahun 1998 dan 2000, Piala Winners Eropa (1999), dan tentu saja gelar Scudetto pada tahun 2000.




Langkah kontroversi ia buat di awal kepekatihannya di Lazio, dengan menjual striker dan kapten tim kala itu, Giuseppe Signori ke Sampdoria pada Januari 1998.

Namun secara bertahap Eriksson membawa nama-nama berbakat kala itu, seperti Juan Sebastian Veron (1999–2001), Sinisa Mihajlovic (1998–2004), hingga Roberto Mancini (1997–2001). Dua nama terakhir pernah bekerja sama dengan Eriksson saat masih di Sampdoria.

Lazio menjadi salah satu tim kuat di Italia dan Eropa dengan permainan lugas dan menarik. Bola-bola panjang dengan mengandalkan kecepatan para pemain menjadi gaya main Eriksson kala itu.

"Saya menangani Lazio di pekerjaan terakhir saya sebelum gabung Inggris," papa Eriksson.

"Di tim itu, lebih dari 50 persen di antaranya adalah para manajer terbaik dunia," lanjutnya Eriksson.

"Diego Simeone di Atletico [Madrid], Roberto Mancini bersama timnas Italia, Sinisa Mihajlovic di Bologna, Sergio Conceicao menukangi Porto dan Simone Inzaghi di Lazio," katanya lagi.

"Sungguh menyenangkan mengikuti mereka dan melihat apa yang mereka kerjakan saat ini," pungkas sang pelatih legendaris.

Dalam masa empat tahunnya di Lazio, Eriksson dianugerahi banyak pemain hebat yang menjadi pelatih top Eropa saat ini. Setidaknya ada sembilan nama mantan anak buah Eriksson yang kini menjabat sebagai pelatih ataupun petinggi klub. Berikut daftarnya: halaman 2 dari 4
1. Diego Simeone (Atletico Madrid)



Perlahan tapi pasti Simeone mencari pengalaman melatihnya dari Argentina sebelum kembali ke Eropa tepatnya ke Italia pada tahun 2011 lalu dalam masa singkatnya di Catania.

Sejak melatih Atletico Madrid, Simeone mendapat pengakuan sebagai salah satu pelatih top di Eropa dengan bayaran termahal saat ini. Banyak gelar ia dapat bersama Atletico, LaLiga, Copa del Rey, Liga Europa dan dua kali sebagai runner-up Liga Champions.

"Para pemain akan mati untuknya [Simeone]. Dia memberi keyakinan bahwa kita bisa bersaing dengan tim yang jauh lebih besar. Kami memiliki keyakinan besar padanya, kami bersama dia sampai mati dan juga dia bersama kami - dan itu terlihat di lapangan. Saya percaya seluruh tim memiliki kepercayaan pada pelatih dan kita semua tahu jalan yang harus kita ambil: dia menandai jalan bagi kita dan kita pergi bersamanya sampai mati. Itulah cara Anda mencapai sesuatu," ujar Diego Godin.

2. Pavel Nedvěd (Juventus)



Sama seperti Veron, Nedved tak menjadi pelatih usai pensiun dari karir profesionalnya. Ia menjabat sebagai salah satu petinggi klub Juventus sejak tahun 2010 lalu. Banyak pemain hebat sukses didatangkan Nedved ke Turin. Dan tentu saja kesuksesan Juventus meraih gelar Scudetto selama enam musim berturut-turut tak lepas dari andilnya.

3. Juan Sebastián Verón (Estudiantes)



Pada bulan Desember 2012, Verón kembali ke Estudiantes untuk menjabat sebagai Direktur Olahraga tim Argentina tersebut. Dalam konferensi pers, presiden klub, Enrique Lombardi, menyatakan bahwa Verón tidak akan menerima gaji untuk pekerjaannya di klub masa kecilnya itu.

Veron sukses mengubah organisasi di klub yang tadinya hampir bangkrut karena masalah keuangan. Puncaknya adalah saat Estudiantes meraih gelar Copa Libertadores pada tahun 2009 lalu saat Veron kembali dari masa pensiunnya. halaman 3 dari 4
4. Simone Inzaghi (Lazio)



Lazio tampil mengejutkan musim ini dengan menjadi penantang serius gelar Scudetto bersama Juventus. Sudah sejak tahun 2016 di Lazio membuat Inzaghi mengetahui seluk beluk tim. Pada musim 2016-17, Inzaghi awalnya digantikan oleh Marcelo Bielsa. Namun, ketika pelatih Argentina itu meninggalkan jabatannya setelah kurang dari satu minggu karena alasan yang tidak diungkapkan, Inzaghi ditunjuk sebagai manajer permanen.

Ia membawa Lazio kembali ke permainan yang impresif. Tiga trofi sukses didapat Inzaghi bersama Lazio, dengan Coppa Italia musim lalu dan Supercoppa Italiana dalam dua musim terakhir.

5. Sérgio Conceicao (Porto)



Sebelum menangani Porto pada tahun 2017 lalu, Conceicao mencari banyak pengalaman di klub-klub kecil. Mulai dari menjadi asisten di Belgia bersama Standard Liege hingga pelatih kepala di beberapa klub kecil di Portugal (Olhanense, Academica, Braga dan Vitória Guimarães).

Pada Juni 2017, setelah memutuskan hubungan kerja di Nantes, Conceição menggantikan mantan rekan setimnya Nuno Espírito Santo di pucuk pimpinan mantan timnya Porto.Dia secara resmi dipresentasikan pada tanggal 8, menandatangani kontrak dua tahun. Di musim pertamanya, ia memimpin klub untuk meraih gelar Liga Portugal, setelah menunggu selama lima tahun.

Musim ini sebelum ditangguhkan karena pandemi, Porto memimpin klasemen dengan keunggulan satu poin dari Benfica dengan sisa 10 pertandingan untuk dimainkan.

6. Roberto Mancini (Italia)



Meskipun telah menjadi striker selama karir bermainnya, Mancini memiliki gaya melatih dengan membangun permainan dari belakang, menekankan pentingnya tidak kebobolan gol berarti tim akan selalu memiliki kesempatan untuk menang. "Saya suka menang walau hanya 1 –0 . Ketika kamu tidak kebobolan gol dan kamu memiliki pemain seperti Edin Džeko, Carlos Tevez atau David Silva, kamu akan menang 90%. Aku lebih suka kita membosankan untuk dua hingga tiga pertandingan dan kita menang 1-0. Jika kamu menonton tim yang memenangkan gelar, mereka kebobolan sangat sedikit gol."

Mancini menjadi salah satu mantan anak buah Eriksson yang sukses sebagai pelatih, ia memenangkan gelar Scudetto tiga kali bersama Inter, empat Coppa Italia bersama tiga klub (Fiorentina, Lazio, Inter) dan tentu saja Liga Primer saat mengasuh Manchester City. Saat ini Mancini menangani timnas Italia dan sukses mebukukan rekor sempurna di kualifikasi Euro 2020. halaman 4 dari 4
7. Siniša Mihajlović (Bologna)



Sejak menjadi pelatih pada tahun 2006 lalu, Miha sudah menangani banyak klub dan juga negara. Bologna menjadi tempat ke-9 ia melatih. Namun pada Juli 2019 lalu Miha didiagonis menderita leukemia pada Juli lalu.

Namun perlahan ia menjalani masa penyembuhan dengan baik dan bisa kembali ke sisi lapangan.

8. Dejan Stanković (Red Star Belgrade)



Salah satu gelandang serang terbaik di Serie A pada periode 1998-2000an. Mantan kapten Timnas Serbia ini gantung sepatu pada tahun 2013. Setahun berselang ia menjadi asisten pelatih di Udinese dibawah arahan pelatih Andrea Stramaccioni, yang notabenenya mantan pelatih Stankovic di Inter pada saat ia bermain.

Desember tahun lalu, Stankovic ditunjuk sebagai pelatih Red Star Belgrade di Serbia dengan durasi kontrak dua setengah tahun. Dengan tersisa empat laga lagi di musim Serbia sebelum ditangguhkan karena virus corona, Red Star kokoh di puncak klasemen dengan keunggulan 11 poin dari Partizan. Sepanjang musim Red Star hanya kalah satu kali di liga.

9. Alessandro Nesta (Frosinone)



Salah satu bek tengah terbaik di masanya, Nesta pensiun pada tahun 2014 lalu dan setahun berselang menerima tawaran Miami FC di kasta kedua sepakbola Amerika Serikat. Ia hanya bertahan dua musim di AS dan kembali ke Italia untuk menangani Perugia.

Bersama Perugia ia membawa klub itu sampai ke babak playoff promosi Serie B, namun dikalahkan oleh Verona dan Nesta memilih untuk mundur. Pada Juni 2019 Nesta ditunjuk untuk menjadi pelatih Frosinone yang baru saja terdegradasi dari Serie A musim lalu.





Video Trending



Berita Terkait


1589155202665

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?