3 Hal Anti Teori yang Nyatanya Sukses di Liga Indonesia


  •    Kukuh Wahyudi
  •    26/05/20 - 18:30
  •    814

Djdjang Nurdjaman usai membawa Persib juara ISL 2014. (Antara)

Perjalanan Liga Indonesia telah dilewati dengan berbagai dinamika. Mulai dari terpaan badai kisruh negara hingga carut marut internal sepak bola Indonesia.

Satu fakta lain adalah banyaknya hal-hal yang sejatinya anti teori atau berlawana dengan teori yang seharusnya justru dapat berjalan sukses di bal-balan dalam negeri.

Mulai dari linsensi pelatih hingga keberadaan kelompok suporter. Berikut ulasan anti teori menurut Bolalob:


halaman 2 dari 4

Pelatih dengan Lisensi di Bawah Standar Meraih Kesuksesan

Sriwjaya FC saat diarsiteki Kas Hartadi (Tribunnews.com)

Sejak Liga Indonesia memasuki era Indonesia Super League (ISL), lisensi kepelatihan menjadi salah satu aspek yang dapat perhatian lebih oleh PSSI dan AFC. Setiap pelatih kepala harus mengantongi lisensi A AFC.

Tapi kenyataanya, ada dua nama pelatih lokal yang tak memenuhi syarat untuk itu justru menuai kesuksesan. 

Pertama ada Kas Hartadi yang mengarsiteki Sriwijaya FC pada 2010/11 dan Djadjang Nurdjaman bersama Persib di ISL 2014. Keduanya sama-sama belum memegang lisensi A AFC tapi bisa meraih juara di musim itu. Djadjang saja baru dapat A AFC pada 2017.

Kendati saat itu belum mengikuti kursus, kepiawaian mereka dalam meracik startegi tim patut diacungi jempol. Terlebih lagi mereka harus bersaing dengan pelatih-pelatih asing dengan pengalaman yang lebih banyak serta lebih kaya ilmu kepelatihan.

halaman 3 dari 4

Bhayangkara FC Seolah Tak Butuh Suporter untuk Membangkitkan Motivasi Bermain

Bhayangkara FC juara Liga 1 2017. (SUPER BALLl/Feri Setiawan)

Ada ungkapan bahwa suporter adalah pemain ke-12. Artinya, keberadaan suporter sangat berpengaruh pada penampilan tim. 

Tapi hal itu tak berlaku bagi Bhayangkara FC. Tanpa keberadaan suporter yang banyak pun, mereka tetap tampil sangat baik sepanjang musim. Sejak mengorbit di tiga musim terakhir, mereka selalu masuk lima besar.

Puncaknya pada Liga 1 2017 di mana mereka sukses menyabet gelar Liga 1. Padahal, kala  itu sampai saat ini mereka belum memiliki basis suporter yang besar. 

halaman 4 dari 4

Tak Perlu Menunggu Waktu Lama untuk Menggaet Banyak Suporter

Bali United juara Liga 1 2019. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

 

Terlepas dari rekam jejak Putra Samarinda yang notabene cikal bakal  Bali United, nama Bali United sejatinya baru mengorbit di pesepakbolaan nasional pada 2015. Meski begitu, mereka langsung mendapatkan dukungan besar dari masyarakat Bali.

Bahkan sebelum Bali United meraih juara Liga 1 2019 seperti sekarang ini. Dengan visi klub dan branding yang tepat plus disesuaikan dengan kondisi markas klub, nyatanya suporter bisa dengan cepat menarik minat suporter. 

Jadi, tak melulu sebuah tim harus berprestasi dan membutuhkan waktu lama untuk menggaet suporter yang besar.







Video Trending



Berita Terkait


1594040401790

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?