Kebijakan Dana Transfer Melimpah Tidak Bisa Selamatkan Sepak Bola China


  •    Robert
  •    24/06/20 - 19:30
  •    1.590

Kebijakan Dana Transfer Melimpah Tidak Bisa Selamatkan Sepak Bola China
Bolalob

Bulan Mei lalu Asosiasi Sepak Bola China (CFA) mengumumkan ada 11 klub termasuk Liaoning dan Tianjin yang merupakan klub terkuat di negara itu, didiskualifikasi dari musim 2020 di liga-liga sepak bola China karena tak dinyatakan bangkrut.

Banyak yang mengira bahwa terjadi gelombang krisis keuangan akibat kegagalan “kebijakan dana transfer melimpah” sepakbola China dalam satu dekade terakhir.

Seiring pertumbuhan ekonomi China yang cepat dan dukungan pemerintah untuk kebijakan terkait olahraga, termasuk sepak bola. Banyak pengusaha memiliki ambisi untuk terjun ke lapangan, termasuk investor dari Tianjin Tianhai, kelompok Tianjin Quanjian.




Pada 2015, Quanjian mengambil alih Tianjin Songjiang, klub yang bermain di Chinese League One atau divisi kedua di negara itu. Alih-alih membangun piramida di wilayah itu dan untuk meningkatkan komunitas sepak bola berbasis lokal dan membangun sistem akademi, Quanjian ingin meduplikasi metode milik Evergrande.

Mereka menghabiskan banyak uang untuk membawa pelatih berpengalaman Brasil Vanderlei Luxemburgo, pemain internasional Brasil seperti Luís Fabiano, Jádson Rodrigues da Silva, dan pemain tim nasional China, Zhao Xuri.

Pada tahun-tahun berikutnya, Quanjian sukses membawa pemain tim nasional Belgia Axel Witsel dan pencetak gol terbanyak Bundesliga musim 2016-2017 Anthony Modeste dengan gaji besar tentunya. halaman 2 dari 5
Quanjian hampir berhasil dalam musim debutnya di Liga Super China, finis posisi ke-3 dan lolos ke Liga Champions Asia 2018 tahun depan. Mereka bahkan menyingkirkan Evergrande dari Liga Champions Asia dan melaju hingga babak perempat final.

Namun mereka tak bisa Quanjian bisa menjadi Evergrande kedua dan harus surut pada Desember 2018, ketika Grup Quanjian dituduh melakukan pemasaran multi-level ilegal dan iklan palsu.



Setelah penangkapan pemimpin klub sekaligus pemilik Grup Quanjian Shu Yuhui, klub meminta CFA untuk mengambil alih operasi klub serta mengganti namanya menjadi Tianjin Tianhai satu bulan kemudian. Setelah kehilangan dukungan keuangan dari Quanjian, klub langsung dilanda krisis hutang.




Runtuhnya Quanjian terjadi karena masalah non-sepakbola, tetapi operasi klub itu sendiri juga penuh dengan intrik mengenai profesionalisme. Baik Witsel maupun Modeste tidak menyelesaikan kontrak mereka dan keduanya kembali ke Eropa pada tahun 2018. Mereka lebih suka kehilangan setengah dari gaji mereka dan bahkan pergi ke pengadilan daripada tinggal di Tianjin selama satu tahun lagi.

Situasi ini menjadi alarm kebijakan uang besar di sepakbola China, tetapi sayangnya, beberapa orang menganggap itu bukan ancaman bagi mereka sampai adanya pandemi virus corona. halaman 3 dari 5
Tidak ada yang bisa menyangkal kesuksesan Evergrande. Namun, itu juga membuat seluruh industri sepak bola negara itu menjadi liar dengan adanya persaingan modal besar.

Pada 2019, Evergrande menginvestasikan hampir 3 miliar yuan di sepakbola. Namun, pendapatan terkait sepak bola hanya 300 juta yuan, termasuk melalui semua sponsor, pendapatan tiket, saham siaran, dan penjualan produk turunannya.



Ironisnya, pendapatan Evergrande adalah yang tertinggi di antara semua klub di CSL. Klub kecil lainnya, terutama yang bermain di liga tingkat bawah tanpa pendapatan siaran, jauh menderita lebih buruk.




Tanpa dukungan dana yang melimpah dari kelompok induknya, klub sepak bola secara efektif tidak dapat beroperasi sebagai entitas independen di China dan nasib mereka terkait erat dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Apa yang harus dihadapi sepak bola China sekarang adalah bahwa rasio pengeluaran mereka sudah di atas kisaran yang bisa dilakukan sebagian besar investor. Ketika Quanjian mengalami krisis utang, klub secara proaktif mencari solusi, bahkan mempertimbangkan pilihan untuk menemukan pemilik baru. Quanjian bahkan bersedia untuk mentransfer klub secara gratis. Namun, tidak ada yang ingin mengambilnya.

China bukan satu-satunya negara yang industri sepak bolanya menderita akibat krisis keuangan tahun ini. Karena dampak virus, banyak klub berjuang, termasuk banyak tim di Eropa. Salah satu alasan mengapa banyak negara Eropa ingin liga mereka kembali bergulir karena adalah uang. halaman 4 dari 5
Asosiasi Sepak Bola Cina telah menyadari adanya krisis dan mulai mengambil tindakan dalam membantu masalah finansial klub. Dalam pengumumannya mengenai pencoretan 11 klub untuk musim berikutnya, CFA menggarisbawahi harapannya bahwa “klub di semua tingkatan dapat memperhatikan perencanaan jangka panjang dan manajemen rasional, sehingga mereka dapat melindungi hak dan kepentingan yang sah dari para pemain, pelatih dan staf, dan karena itu mempromosikan sepakbola profesional untuk mencapai pembangunan berkelanjutan.

Presiden CFA, Chen Xuyuan, juga menyuarakan fokusnya untuk menciptakan lingkungan yang sehat secara finansial untuk sepak bola China sejak pelantikannya tahun lalu.

“Klub kami hampir tidak dapat mencapai pembangunan berkelanjutan. Pemiliknya telah banyak berinvestasi tetapi tidak mendapat banyak uang, dan ini bisa merusak sepak bola Tiongkok.”




CFA langsung memberlakukan aturan ketat soal gaji pemain dengan batasan (Salary cap).



Gaji tinggi harus ditutup agar klub mencegah kehancuran finansial, dengan rekrutmen luar negeri ke Liga Super China dalam jendela transfer musim dingin mendatang terbatas dengan penghasilan £ 2 juta (Rp 35 miliar) per tahun setelah pajak. Selain itu, plafon 10 juta yuan (Rp 20 miliar) ditetapkan untuk gaji pemain China.

Klub juga tidak akan diizinkan menghabiskan lebih dari 1,1 miliar yuan (Rp 2.2 triliun) untuk dana operasi mereka sepanjang musim, dengan gaji tidak melebihi 60 persen dari jumlah itu.

Ambisi dan modal besar tentu tak akan berjalan dengan lancar jika tidak adanya perencanaan yang baik dan tepat tentunya. halaman 5 dari 5






Video Trending



Berita Terkait


1591628401507

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?