5 Momen Dramatis dalam Sejarah Akhir Musim LaLiga


  •    Kukuh Wahyudi
  •    13/07/20 - 14:00
  •    1.568

Deportivo juara LaLiga 1999/2000.
Deportivo juara LaLiga 1999/2000. (LaLiga)

LaLiga 2019/20 mulai measuki fase akhir. Sebanyak 20 kontestan tinggal menyisakan 2-3 pertandingan lagi.

Bila mengacu pada catatan poin di klasemen sementara, Real Madrid yang notabene pemuncak klasemen menjadi tim dengan kans terbesar untuk menjadi juara. Mengacu pada koleksi poin mereka di angka 80 dan hanya menyisakan tiga laga (termasuk vs Granada), mereka hanya butuh dua kemenangan lagi untuk mengunci gelar.

Namun, bukan berarti Barcelona yang berada di peringkat kedua dengan 79 poin harus segera menyerah. Dua laga tersisanya bisa menjadi tiket meraih trofi andaikan Madrid terpeleset.

Momen salip menyalip seperti itu kerap terjadi di LaLiga. Mengacu pada rilis dari LaLiga, berikut momen-momen akhir musim paling dramatis dalam tiga dekade terakhir:




1993/94 – Barça menyalip Depor di pertandingan terakhir
Barcelona menggagalkan Real Madrid meraih gelar juara di musim 1991/92 dan 1992/93, tapi pertandingan terakhir musim 1993/94 lebih dramatis. RC Deportivo bersaing untuk meraih gelar LaLiga pertama mereka setelah memimpin klasemen selama berbulan-bulan dan butuh menang atas Valencia di kandang untuk memastikan gelar juara. Depor, yang gugup dalam pertandingan itu, menyia-nyiakan beberapa peluang, dan skor masih 0-0 di jeda pertandingan. Di belahan Spanyol lainnya, di Camp Nou, Barcelona berhasil menang 5-2 atas Sevilla. Johan Cruyff dan timnya berkumpul di pinggir lapangan untuk mendengarkan radio disaat pemain sayap Depor, Nando, dijatuhkan di kotak penalti. Donato, yang biasa mengambil tendangan penalti, sudah digantikan oleh pemain lainnya, sehingga bek Miroslav Đukić, maju sebagai eksekutor. Tapi tendangannya dapat dihalau oleh kiper Valencia, José Luis González. Barça langsung melakukan selebrasi, dan itu adalah akhir musim yang pahit bagi Depor dan Đukić. halaman 2 dari 4
1999/2000 – Depor menahan Barça untuk mengunci gelar juara
Deportivo kembali mendapatkan peluang untuk memenangi gelar di musim 1999/2000, dan mulai memimpin klasemen sejak pekan ke-12. Dengan lima pertandingan tersisa, Depor unggul dua poin dari Barcelona serta Zaragoza, Alavés, Valencia, dan Real Madrid pun masih mungkin untuk memenangi gelar musim itu. Dalam dua pertandingan tersisa, persaingan gelar juara hanya milik Barça dan Depor dan keduanya mendapat hasil imbang 0-0 melawan Real Sociedad dan Racing Santander. Dan gelar juara musim itu lagi-lagi ditentukan di pertandingan terakhir. Kali ini, Depor berhasil mengunci gelar juara. Donato mencetak gol di menit ketiga untuk menenangkan mental tim, dan penyerang Roy Makaay berhasil menggandakan keunggulan sebelum jeda pertandingan. Barça tertekan dan tertahan imbang 2-2 oleh RC Celta hingga akhir pertandingan. Selebrasi diadakan di kandang Depor, Stadion Riazor dan selebrasi musim tersebut semakin dramatis mengingat kegagalan mereka di beberapa tahun sebelumnya.

2006/07 – Reyes masuk sebagai pemain pengganti dan mencetak sejarah
Barcelona dan Real Madrid bersaing sengit di musim 2006/07, dengan Sevilla dan Valencia juga bersaing untuk meraih gelar. Hasil imbang 3-3 di El Clásico bulan Maret – pertandingan dimana Lionel Messi yang berusia 19 tahun mencetak hattrick – memastikan gelar juara diperebutkan hingga akhir. Dengan dua pertandingan tersisa, Barça asuhan Frank Rijkaard dikejutkan oleh gol penyeimbang Raúl Tamudo yang dikenal dengan ‘Tamudazo’ untuk memberikan keunggulan pada Real Madrid. Real Madrid juga dikejutkan oleh Mallorca di pertandingan terakhir, dimana Mallorca berhasil mencetak gol pembuka, sedangkan Barça sudah menang 5-1 atas Tarragona, tim yang juga sudah dipastikan degradasi. Kembali ke Bernabéu, pelatih Los Blancos saat itu, Fabio Capello, mengganti David Beckham dengan José Antonio Reyes, yang berhasil mencetak dua gol untuk membawa Madrid menang 3-1 dan meraih gelar LaLiga dengan cara yang dramatis.

2013/14 – Sundulan Godín membawa Atlético juara
Musim 2013/14 memberikan kejutan lainnya, dimana Barcelona, Real Madrid, dan Atlético de Madrid secara bergantian memimpin klasemen. Atlético adalah tim yang paling konsisten, dimana pelatih Diego Simeone mengatakan mereka menjalani “pertandingan demi pertandingan”. Ketiga tim sama-sama pernah kalah: Barça kalah dari Granada, Atlético kalah dari Levante, dan Real Madrid juga kalah dari Celta. Gelar juara musim itu ditentukan di pertandingan terakhir, dimana Atlético di puncak klasemen unggul tiga poin dari Barça di peringkat dua, dan Atlético harus tandang ke Camp Nou dan akan menjadi juara asalkan mereka tidak kalah. Alexis Sánchez membawa Barça unggul, akan tetapi sundulan Diego Godín membuat skor imbang. Gol Lionel Messi di menit-menit akhir dianulir, dan Atlético akhirnya merengkuh gelar pertama mereka sejak musim 1995/96.

2016/17 – Ronaldo membawa Madrid juara
Real Madrid memulai musim dengan meyakinkan dan diunggulkan untuk menjadi juara LaLiga musim 2016/17, musim dimana Ronaldo mencetak banyak gol. Namun, Barça tak mudah menyerah, dan hattrick Messi dalam kemenangan 3-2 di El Clásico membawa Barça masih bersaing ketat dengan Madrid. Pelatih Los Blancos, Zinedine Zidane, terus merotasi timnya. Mereka tetap meraih kemenangan walaupun menurunkan tim kedua yang berisikan nama-nama besar seperti James Rodríguez, Álvaro Morata, dan Mateo Kovačić. Tetapi Messi nampaknya sedang dalam misi pribadi untuk menggagalkan Madrid juara. Messi mencetak gol kemenangan melawan Atlético de Madrid, dan mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 atas Sevilla. Real Madrid memiliki pertandingan krusial, serta kemenangan 4-1 atas Celta membawa mereka unggul tiga poin di pertandingan terakhir. Gol ke-14 Ronaldo dalam sembilan pertandingan LaLiga membantu Madrid menang 2-0 di Málaga, dan memastikan gelar pertama Real Madrid setelah lima musim. halaman 4 dari 4
2013/14 – Sundulan Godín membawa Atlético juara
Musim 2013/14 memberikan kejutan lainnya, dimana Barcelona, Real Madrid, dan Atlético de Madrid secara bergantian memimpin klasemen. Atlético adalah tim yang paling konsisten, dimana pelatih Diego Simeone mengatakan mereka menjalani “pertandingan demi pertandingan”. Ketiga tim sama-sama pernah kalah: Barça kalah dari Granada, Atlético kalah dari Levante, dan Real Madrid juga kalah dari Celta. Gelar juara musim itu ditentukan di pertandingan terakhir, dimana Atlético di puncak klasemen unggul tiga poin dari Barça di peringkat dua, dan Atlético harus tandang ke Camp Nou dan akan menjadi juara asalkan mereka tidak kalah. Alexis Sánchez membawa Barça unggul, akan tetapi sundulan Diego Godín membuat skor imbang. Gol Lionel Messi di menit-menit akhir dianulir, dan Atlético akhirnya merengkuh gelar pertama mereka sejak musim 1995/96.

2016/17 – Ronaldo membawa Madrid juara
Real Madrid memulai musim dengan meyakinkan dan diunggulkan untuk menjadi juara LaLiga musim 2016/17, musim dimana Ronaldo mencetak banyak gol. Namun, Barça tak mudah menyerah, dan hattrick Messi dalam kemenangan 3-2 di El Clásico membawa Barça masih bersaing ketat dengan Madrid. Pelatih Los Blancos, Zinedine Zidane, terus merotasi timnya. Mereka tetap meraih kemenangan walaupun menurunkan tim kedua yang berisikan nama-nama besar seperti James Rodríguez, Álvaro Morata, dan Mateo Kovačić. Tetapi Messi nampaknya sedang dalam misi pribadi untuk menggagalkan Madrid juara. Messi mencetak gol kemenangan melawan Atlético de Madrid, dan mencetak dua gol dalam kemenangan 3-0 atas Sevilla. Real Madrid memiliki pertandingan krusial, serta kemenangan 4-1 atas Celta membawa mereka unggul tiga poin di pertandingan terakhir. Gol ke-14 Ronaldo dalam sembilan pertandingan LaLiga membantu Madrid menang 2-0 di Málaga, dan memastikan gelar pertama Real Madrid setelah lima musim.






Video Trending



Berita Terkait


1596427201979

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?