Dua Pebulu Tangkis Terdakwa Match Fixing Resmi Ajukan Banding


  •    Kukuh Wahyudi
  •    11/01/21 - 21:00
  •    1.410

Dua pebulu tangkis Indonesia tak terima disanksi BWF.
Dua pebulu tangkis Indonesia tak terima disanksi BWF. (PBSI)

Dua dari delapan pebulu tangkis Indonesia yang menjadi terdakwa dalam kasus pengaturan hasil pertandingan atau match fixing resmi mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS) di Swiss.

Mereka adalah Agrippina Prima Rahmanto Putra dan Mia Mawarti. Keduanya datang ke PBSI dan ditemui oleh Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI Eddy Sukarno.

"Karena mereka masih sebagai warga PBSI, maka ketika mereka meminta bantuan dan perlindungan, tentu kami bantu dan dampingi," kata Eddy dalam keterangan resmi PBSI.

Agri yang dijatuhi vonis BWF berupa hukuman enam tahun tidak boleh berkecimpung di bulutangkis dan denda 3.000 dolar AS, menganggap dirinya justru sabagai korban. Pasalnya, dia merasa tidak pernah melakukan pengaturan skor saat di turnamen Vietnam Terbuka 2017 seperti yang dituduhkan pihak BWF.

Baca Juga :


"Kesalahan saya adalah karena tidak melaporkan (ajakan Hendra Tandjaya) terjadinya perjudian tersebut ke BWF. Namun sebagai pemain, saya pun tidak mengetahui kalau tidak melapor itu adalah melanggar Etik BWF. Saya pun tidak tahu harus melapor ke siapa, yang saya tahu, pelanggaran Etik BWF itu hanya soal perjudian saja," tutur Agrippina yang kini berseragam Berkat Abadi Banjarmasin, Kalimantan Selatan terebut.

Sementara untuk kasus Mia, dia dituduh karena menyetujui dan menerima uang sebesar Rp10 juta dari hasil perjudian, tidak melaporkan terjadi perjudian kepada BWF, dan tidak hadir dalam wawancara atau undangan investigasi oleh BWF. Mia pun diskorsing 10 tahun tidak boleh terlibat dalam pertandingan dan denda 10.000 dolar AS.

"Terhadap hukuman itu, saya mengajukan banding agar Pengadilan CAS membatalkan keputusan BWF," ujar Mia yang kini membela klub Semen Baturaja, Palembang itu.

Menurut Mia uang yang diterima dengan Hendra tersebut sejatinya merupakan uang saku untuk dirinya selama mengikuti kejuaraan. Mia pun tidak mengetahui bahwa uang tersebut berasal dari hasil perjudian yang dilakukan oleh Hendra.

"Lalu dalam hal tuduhan saya menyetujui retired di New Zealand Open 2017 pada partai ganda putri, juga sama sekali tidak benar. Bahkan saya berdebat dengan Hendra di tengah lapangan. Saya tidak mau retired tapi Hendra sebagai ofisial meminta ke wasit agar pertandingan dihentikan dengan menyebut saya tidak mungkin melanjutkan pertandingan karena cidera. Padahal saya tidak cidera," tutur Mia.

Soal, tidak melaporkan terjadi perjudian kepada BWF, Mia pun tidak mengetahui kalau tidak melaporkan ke BWF adalah sebagai pelanggaran kode etik.

"Selain itu, BWF tidak pernah melakukan investigasi langsung kepada saya, sehingga saya tidak dapat menjelaskan apa yang terjadi sesungguhnya. Dengan demikian putusan BWF dilakukan secara sepihak tanpa mendengar penjelasan dan pembelaan dari saya sebagai korban," ucap Mia. halaman 2 dari 2





Video Trending



Berita Terkait


1613981980344

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?