Pemain Indonesia Diharapkan Jangan Asal Terima Tawaran Klub Luar Negeri


  •    Robert
  •    19/01/21 - 20:00
  •    8.737

Syahrian Abimanyu (JDT)
Syahrian Abimanyu (JDT)

Situasi sulit tengah dialami oleh pesepakbola Indonesia ditengah pandemi virus corona saat ini. Sejak bulan Maret 2020 atau sudah hampir satu tahun lamanya kompetisi profesional Liga 1 dan 2 harus terhenti.

PSSI dan PT Liga Indonesia Baru nampak kesulitan dalam menggelar pertandingan bahkan tanpa kehadiran penonton. Izin keramaian dari pihak Kepolisian nampak sulit didapatkan karena mereka menilai masih tingginya kasus COVID-19 di tanah air.

Baca Juga :


Banyak pemain profesional di Indonesia sibuk melakukan acara fun football dengan komunitas, pertandingan amatir (tarkam), namun ada juga yang sibuk mempersiapkan diri dan menjaga agar tubuh tetap siap jika musim kembali dimulai kelak. Apresiasi patut diberikan kepada tim seperti Tira Persikabo yang terus menggelar latihan dengan para pemainnya di masa vakum seperti ini.

Beberapa pemain memilih untuk menerima tantangan di luar negeri, dimana kompetisi mereka sudah berjalan. Seperti Ryuji Utomo (Penang), Syahrian Abimanyu (Johor Darul Takzim) dan Todd Rivaldo Ferre (Lampang FC).

Ada juga langkah lebih jauh diambil pemain muda Indonesia, seperti Bagus Kahfi yang bergabung dengan klub Belanda, FC Utrecht dan juga Brylian Aldama dengan klub Kroasia, HNK Rijeka. halaman 2 dari 4
Menanggapi hal ini pelatih asal Brasil, Jaino Matos memiliki opini yang menilai pemain Indonesia tidak boleh asal menerima tawaran dari klub luar negeri. Belum tentu kualitas liga dan sepakbola di negara lain lebih bagus ketimbang di Indonesia.

"Saya enam tahun di Malaysia sebelum ke Indonesia, diantara itu saya sempat di Qatar. Kemampuan individu pemain Malaysia masih dibawah pemain Indonesia," buka Jaino kepada Bolalob.

Salah satu pendiri Diklat Persib ini juga menyoroti situasi yang dihadapi oleh Febri Hariyadi yang batal bergabung dengan Sabah FC. Menurutnya jika Febri mengambil keputusan untuk gabung ke Sabah akan menjadi sebuah kemunduran.

Baca Juga :


Jaino menilai tak banyak klub di Malaysia yang memiliki skuat, pelatih dan fasilitas berkualitas seperti Johor Darul Takzim.

"Saya sebutkan soal kualitas liga, pemain lokal dan asing. Karena Febri pemain bintang Timnas Indonesia dan Persib Bandung. Kalau dia pindah ke Sabah adalah sebuah kemunduran.

"Berbeda dengan Abi, dari Madura United ke JDT itu luar biasa dan akan menjadi kemajuan bagi dirinya."

"Tapi intinya secara teknis kualitas Liga Indonesia lebih baik ketimbang Malaysia. Untuk pemain kita jika ingin berkembang harus bermain di liga yang lebih kuat dai Indonesia. Liga Thailand, mereka punya liga dan timnas yang bagus. Berbeda dengan Vietnam timnasnya kuat tapi kualitas liganya tidak kuat." halaman 3 dari 4
Jaino juga berharap para pemain muda Indonesia meniru hal yang dilakukan oleh mantan Bek Persib, Yanto Basna yang bermain di PT Prahcuap FC. Ia menjalani musim ketiganya di Thailand dan terus menjadi andalan tim yang dibelanya.

"Liga Thailand adalah yang terbaik di Asia Tenggara. Di Asia hanya ada empat yang terbaik yaitu Liga Jepang, Korea Selatan, Arab Saudi dan Qatar."

"Kita bisa melihat banyaknya pemain Thailand di Liga Jepang saat ini dan mereka tak hanya duduk di bangku cadangan saja."

Baca Juga :


Jaino menyampaikan bahwa dengan situasi vakumnya kompetisi di Indonesia harusnya bisa menjadi momentum untuk para pemain muda dalam meningkatkan kualitas mereka. Jangan hanya berdiam diri dan putus asa, para pemain muda harus memiliki mimpi untuk bisa bermain di Eropa. Jika para pemain terus mempersiapkan diri dimasa seperti ini, tak hanya Timnas dan klub yang beruntung, mereka pun bisa membuka jalan untuk mengembangkan karirnya di luar Indonesia.

Sejak tahun 2019 Jaino fokus untuk mewujudkan mimpinya dalam mengembangkan akademi sepakbola serta pelatihan para pemain profesional dari konsep yang unik dan berbeda. Ia menjadi General Manager di Oceano Football Center.

Tempat dimana para profesional dilatih untuk meningkatkan segala aspek yang mereka miliki melalui metode Integrated Cognitive Functional Football Training. Metode yang menganalisa segala keperluan seorang pemain di segala aspek. halaman 4 dari 4
Terakhir diubah:  20/01/21 - 07:31





Video Trending



Berita Terkait


1615021203023

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?