Diklat Persib: Program Pembinaan Sistematis Pertama di Indonesia


  •    Robert
  •    23/01/21 - 13:10
  •    4.477

Jaino Matos dan Yoyo S Adiredja saat di Diklat Persib (Istimewa)
Jaino Matos dan Yoyo S Adiredja saat di Diklat Persib (Istimewa)

Pertanyaan besar mengenai apa yang harus diperbaiki dalam tata kelola sepakbola Indonesia adalah tentu masalah pembinaan pemain muda. Selain kualitas liga domestik yang akan mempengaruhi prestasi Timnas Indonesia, tentu pembinaan adalah salah satu efek lain.

Banyak pekerjaan rumah dan sinkronisasi yang harus dilakukan PSSI sebagai federasi sepakbola di Indonesia bersama dengan para pengurus di tingkat daerah.

Bakat di Indonesia sudah diakui dunia, banyak pelatih asing yang menyebut Indonesia memiliki talenta besar untuk bisa bersaing di dunia luar. Perlahan tapi pasti beberapa pemain muda Indonesia mulai bernai keluar dari zona nyaman dan berkiprah di luar negeri.

Baca Juga :


Nama-nama seperti Yanto Basna (PT Prachuap), Egy Maulana Vikri (Lechia Gdansk), Witan Sulaemen (FK Radnik), Bagus Kahfi (FC Utrecht), Brylian Aldama (HNK Rijieka) hingga yang terbaru Asnawi Mangkualam yang hijrah ke Liga Korea.

Namun jauh sebelum adanya program-program pembinaan pemain muda yang ada saat ini, Persib Bandung menjadi pionir dalam mengembangkan pemain muda melalui sistem Diklat-nya.

Setidaknya ada 17 nama yang lulus dari Diklat Persib dan menjadi pemain Timnas Indonesia atau setidaknya bermain di level nasional hingga saat ini. halaman 2 dari 5
Kami berbincang dengan salah satu pendiri, Diklat Persib yakni pelatih asal Brasil, Jaino Matos mengenai pengalaman dan kenangannya saat membangun pusat pelatihan di Persib.

"Pada akhir tahun 2012, di Jakarta saya ketemu Glenn Sugita (Direktur utama Persib), selama 30 menit kita bertemu dan langsung nyambung," kenang Jaino kepada Bolalob.

"Beliau adalah mantan atlet tenis dan dia sangat jelas mengetahui pentingnya pembinaan dan ia memiliki ambisi untuk membangun sistem pembinaan untuk Persib. Dan ia meminta saya bergabung dengan Persib Bandung dan mendirikan Diklat Persib.

"Dalam misi ini ada sosok krusial lain yakni Yoyo S Adiredja (Mang Yoyo), ia memiliki prinsip hidup yang sama dengan saya. Begitu juga dengan komitmen, disiplin. Kami mendirikan Diklat Persib yang mengutamakan hal teknis seperti talenta 'Jabar' (Jawa Barat) yakni mengenai pola permainan. Namun semua dimulai dari pembentukan sikap yang ketat.

Baca Juga :


Di Diklat Persib, Jaino mengutamakan sikap dan hal detail lain yang semuanya diatur oleh pelatih. Mereka ingin sikap disiplin sudah ditanamkan sejak pemain muda bergabung.



"Kita percaya sebelum anak muda jadi pemain bola yang hebat wajib jadi manusia yang pantas dulu dari sikap dasar sampai kelakuan di dalam lapangan, mulai dari rambut pendek, kondisi kukunya, datang ke lapangan latihan wajib pakai seragam lengkap, jaket dan celana panjang," ujar Jaino.

"Semua pemain harus ikut semua latihan. Mulai dari latihan fisik , latihan apa pun, selalu siap. Saya ingat berkali-kali saya suruh Alfath Fatier (Bek Persija Jakarta saat ini) pulang ke mess lagi ambil kaos kaki putih, karena dia pakai sepatu tanpa kaos kaki."

"intinya mereka harus belajar membawa dirinya, belajar tangung jawab, sebagai calon pemain professional, harus hormat kepada profesi dan dirinya. Kesungguhan dan keseriusan di dalam lapangan hijau, fondasinya jelas, baru kita maju jelas," papar Jaino. halaman 3 dari 5
Angkatan Pertama Diklat Persib

Sebanyak 28 pemain terpilih pada Oktober 2013 di angkatan pertama Diklat Persib. Termasuk tiga pemain yang berusia 15 tahun ketika itu, yakni Gian Zola Nasrulloh, Jujun Saepuloh, dan I Komang Gede Ardia Putra. Tapi dalam perjalanannya, ada tiga pemain lagi yang tercoret dari seleksi timnas Indonesia U-19 ditarik ke Diklat ini, yaitu Angga Febryanto, Ahmad Subagja Basith, dan Untung Wibowo.



Para pemain itu dipersiapkan untuk mengikuti kompetisi Indonesia Super League (ISL) U-21 2014. Menariknya, ketika itu rata-rata pemain masih masuk dalam kategori pemain U-19. Namun

Di ISL 2014 U21 rata-rata usia tim Persib adalah 18.3 tahun yang termuda diantara tim lain. Zola dan Jujun menjadi pemain inti di usia baru 15 Tahun. Jaino menegaskan bahwa karena gelar juara bukan tujuan pada saat itu, Persib muda ingin memoles mental, fisik dan kemampuan pemain.

"Ada kompetisi U-18 di kota Bandung disitu ada Henhen, Sutanto Tan dan Alfath Fatier, angkatan pertama mulai dibentuk, di seleksi terbuka , mulai hadir Hanif & Zola (Zola masih umur nya 15) tapi sudah langsung gabung Persib U21," ujar Jaino.

"Febri Hariyadi, Abdul Aziz, Ryuji Utama, Jujun Saepulloh, I Gusti Rustiawan, Komang Adi, selama dua bulan perlahan kami mempersiapkan Angkatan pertama ini.

"Bersama Mang Yoyo , kita mencarikan mess, kebutuhan harian pemain, sampai saya pergi ke soreang menggunakan mobil yang sangat tua untuk membeli matras di mess

"Saya juga ingat ketika pergi ke semarang bertemu orang tua David maulana untuk membawanya ke Bandung, mempersiapkan kontrak mereka semua, berdua Mang Yoyo kita yang persiapkan satu-satu, jika fondasi nya sudah solid, kita mulai proses teknis, full scientific approach program, melalui data, ini pertama kali di dalam sejarah juga, dengan membawa GPS ke dalam sepakbola.

"Jadi semua program berdasarkan data, kolaborasi kuat dengan UPI Bandung, kita rutin membawa tim ke UPI untuk jalani tes fisik, dari hasil tes tersebut kita bias mengetahui kemajuan setiap individu dan tim.

Mantan pelatih Borneo FC dan Perseru Serui ini masih ingat dengan jelas pengorbanan para pemain yang dibayar dengan gaji kecil.

"Honor mereka antara 400 ribu sampai 1 juta, awal nya sangat berat , karena untuk pertama kali dalam sejarah sepakbola Indonesia, klub membangun sistem pembinaan pemain muda.

"Banyak halangan yang kita hadapi setiap hari, karena semua pemain muda ini mengidolakan dan prioritaskan tim senior, jadi untuk itu kita bangun Diklat persib, kita harus atasi banyak kendala setiap hari ,banyak sekali, tanpa pikir panjang, kita melawan semua demi kemajuan setiap anak itu.

"Tapi semua keringat kita terbayar dengan melihat mereka sekarang, mereka dulu hanya digaji Rp 400 ribu per-bulan, sekarang bisa beli rumah untuk Ibu, berangkatkan orang tua untuk Umroh, punya istri dan anak.

"Semua perasaan dan hal itu tidak bisa dinilai dengan uang, saya pribadi mengharap anak-anak muda di seluruh Indonesia, bisa terinspirasi oleh cerita ini, semua harus berkorban dulu, nangis sebelum bahagia. halaman 4 dari 5
Besarnya Potensi Pemain Muda Indonesia

Sebagai pelatih asal Brasil, negara yang menjadi acuan dunia dalam hal sepakbola, Jaino melihat Indonesia memiliki bakat besar, namun semuanya harus diasah dan diatur dengan benar.



"Intinya potensi sepakbola Indonesia sangat besar dan nyata, tapi harus di belakang ada orang yang bener-benar berkomitmen dan punya visi.

"Tanpa Pak Glen and Pak Yoyo, Diklat Persib tidak akan berdiri, efek diklat di hidup mereka menjadi kunci, kita diklaim mengorbitkan nama-nama seperti Zola, Febri, Hanif, Abdul Aziz, Alfat dan lain lain.

Baca Juga :


"Tapi 1000% yakin saat mereka di diklat adalah moment paling krusial di dalam perjalanan hidup mereka , bukan cuma di sepakbola, tapi secara pribadi dan jelas di hidup sepakbola, momen mediasi untuk mereka jadi yang sekarang kejadian di Diklat Persib, selama ada Mang Yoyo Persib akan terus orbitkan pemain berpotensi.

Nama-nama terbaru mulai muncul dari Diklat Persib yang dipromosikan ke tim utama. Sebut saja ada Beckham Putra, Kakang Rudianto hingga Aqil Savik.

Butuh keseriusan dan tekad untuk bisa bersama-sama membangun sepakbola Indonesia melalui pembinaan pemain muda yang sistematis dan tidak asal-asalan. halaman 5 dari 5








Video Trending



Berita Terkait


1623834002727

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?