Ungkapan Hati Greysia Polii, Ingin BWF Lindungi Atletnya


  •    Widya Amelia
  •    23/03/21 - 00:07
  •    3.358

Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Badmintonindonesia.org/Widya Amelia)
Greysia Polii/Apriyani Rahayu (Badmintonindonesia.org/Widya Amelia)

Greysia Polii berharap Badminton World Federation (BWF) menciptakan rasa aman bagi atlet-atlet badminton. Hal ini disampaikan Greysia terkait kasus tim Indonesia yang dipaksa mundur dari All England 2021.
 
Greysia mengatakan BWF seharusnya ada untuk atlet Indonesia di saat mereka dipaksa meninggalkan stadion Utilita Arena Birmingham dan diperlakukan seperti pesakitan.
 
Beberapa atlet Indonesia mengalami hal tidak menyenangkan saat diminta segera meninggalkan stadion. Seperti Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan yang tak sempat stretching usai melewati pertandingan sengit rubber game melawan wakil tuan rumah, Sean Vendy/Ben Lane. 

Para pemain pun tak dibolehkan menggunakan shuttle bus menuju hotel, dan setibanya di hotel mereka tidak boleh menggunakan fasilitas lift, melainkan harus melewati tangga. Situasi memanas apalagi sebelumnya BWF menunda pertandingan karena ada peserta yang positif Covid-19. BWF kemudian meminta peserta melakukan tes mandiri, saat hasilnya negatif, pertandingan pun dilanjutkan seperti biasa. 

“Kami sebagai orang asing yang ke sana (Inggris) menuruti NHS (National Health Service), kami harus nurut. Tapi BWF sebagai pelindung atletnya, asetnya, harus bisa bertanggungjawab dan merespon kejadian yang kami langsung dikeluarkan dari stadion, harus ada perbincangan dua arah,” ungkap Greysia dalam acara penyambutan tim All England 2021 di bandara Soekarno-Hatta.

“Kenapa langsung putuskan sendiri tanpa ada pembicaraan ke tim Indonesia? BWF adalah penengah, ada NHS, ada pemerintah (Inggris) dan ada kami atletnya yang harus mereka lindungi,” lanjut pasangan main Apriyani Rahayu ini. 

Greysia pun bersyukur banyak pihak akhirnya membantu tim Indonesia dan melindungi para atlet dalam menghadapi musibah ini. Menurutnya, semua pihak punya kapasitas masing-masing dalam menyelesaikan kasus ini. 

“Ada pelindung kami yaitu bangsa Indonesia, terima kasih bangsa Indonesia yang sudah melindungi kami. Perjuangan untuk kami sangat luar biasa,” tuturnya. 

Sebelumnya dalam bincang-bincang bersama Bolalob, Greysia tak bisa membayangkan kalau ini terjadi pada atlet yang bukan berasal dari negara bulutangkis. 

“Puji Tuhan kita Indonesia ada asosiasi, ada PBSI ada masyarakat Indonesia. Bagaimana kalau atlet Amerika Serikat, seperti Zhang Beiwen atau mereka yang berdiri sendiri. Mereka mau minta dibela ke mana? Nggak ada perlindungan, sedangkan atlet itu harus dilindungi oleh BWF, BWF harus ada tanggungjawab untuk menjaga atletnya tanpa kecuali, seadil mungkin,” jelas Greysia. 

Greysia bersyukur menjadi atlet Indonesia yang mendapat dukungan luar biasa dari rakyat Indonesia sampai Presiden Jokowi pun angkat bicara. 

Kejadian ini juga membawa Greysia ke Olimpiade London 2012, saat itu Greysia dan pasangan mainnya, Meiliana Jauhari didiskualifikasi karena dianggap ‘main sabun’. Saat itu ia merasa sendirian dan tidak ada pihak yang memberikan perhatian atas kejadian itu, sementara ia menilai BWF punya andil besar di kasus ini karena peraturan pertandingan berasal dari BWF. 

“Good job banget buat pemerintah Indonesia dan masyarakat yang mendukung kami. Walaupun nanti hasilnya seperti apa, tapi setidaknya kita merasa pulang ke rumah kita ada rumah, masalahnya saya pernah merasakan pulang tapi nggak ada rumah. Kayak merasa, ini rumah saya bukan sih? Apa saya pindah ke negara lain?” ujar Greysia. 

Dalam unggahan Instagram miliknya, Greysia menyayangkan tindakan BWF. Greysia menilai bahwa sejak Olimpiade London 2012, BWF belum berubah dari sikap tidak melindungi atletnya.


Terakhir diubah:  23/03/21 - 00:39






Video Trending



Berita Terkait


1617791938919

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?