Kelanjutan Kasus All England, Indonesia Akan Gugat BWF ke CAS?


  •    Widya Amelia
  •    25/03/21 - 23:32
  •    9.424

All England
All England

Badminton World Federation (BWF) telah menyampaikan permintaan maaf secara resmi kepada Indonesia lewat surat yang dikirim Presiden BWF Poul Erik Hoyer kepada Menpora Zainudin Amali. Akan tetapi, Indonesia masih akan mempertanyakan kejelasan dan langkah nyata yang diambil BWF dalam menindaklanjuti kasus tim Indonesia yang dipaksa mundur dari All England 2021.

Dalam acara Mata Najwa yang disiarkan langsung pada Rabu (24/3) malam, Ketua National Olympic Committee (NOC) Indonesia, Raja Sapta Oktohari mengatakan bahwa BWF tidak dapat bersembunyi di bawah regulasi suatu negara, dalam kasus ini adalah Inggris, tempat penyelenggaraan All England 2021. NOC juga memiliki wacana untuk menggugat BWF ke Badan Arbitrase Olahraga Dunia (CAS).

“Gugatan itu adalah bentuk tekanan kita pada BWF yang sampai hari ini, mohon maaf quote unquote, masih belum mengaku kalau ini kesalahan mereka. Kalau maaf-maafan saya komunikasi sama teman-teman atlet, setelah lebaran bisa maafan, harus ada yang bertanggungjawab, nggak bisa bersembunyi di bawah regulasi satu negara,” kata pria yang disapa Okto ini.

“BWF bukan hanya minta maaf, tapi harus jelaskan, di mana salahnya, kenapa bisa salah dan konsekuensinya apa. Ini harus disuarakan supaya tidak terjadi lagi,” lanjutnya. 

Baca Juga :


Sementara itu, dalam acara yang dipandu Najwa Shihab ini, Menpora menyatakan bahwa Indonesia masih menunggu penjelasan BWF kepada asosiasi (PBSI). 

“Tetap dibutuhkan penjelasan sehingga kita tahu persis di mana salahnya, di dalam surat itu tertera memang ada kesalahan, tapi untuk menghindari ini terjadi lagi ke depan, harus ada clear dari BWF, saya kira ini proporsional,” sebut Zainudin.

“Apakah kita akan melakukan gugatan atau tidak, saya pikir kita harus duduk lagi bareng NOC dan PBSI,” sebutnya.

Ketua Umum PP PBSI Agung Firman Sampurna menggarisbawahi bahwa PBSI menerima permintaan maaf yang disampaikan BWF. Namun, meminta kejelasan dari BWF tetap dilakukan untuk menghindari hal yang sama terjadi di turnamen-turnamen berikutnya. 

“Pertama harus diluruskan dulu bahwa permintaan maaf ini kami apresiasi, secara formal, tapi ada masalah substansinya, penjelasan ini penting supaya tidak terjadi lagi ke depannya. Soal apakah akan gugat ke CAS, itu soal lain lagi,” sebut Agung.
 
“Dan tidak selesai hanya dengan minta maaf saja, minta maafnya bagus, mereka mengakui salah, tapi kita ingin ke depan ada regulasi yang lebih jelas,” sambungnya.  halaman 2 dari 2
Wartawan senior sekaligus pengamat bulutangkis, Daryadi, mengatakan bahwa keputusan untuk menggugat BWF atas kasus ini sebaiknya dipikirkan sebaik mungkin.

“Perlu dipertimbangkan masak-masak sebelum gugatan itu dilayangkan. Karena ketika pemain Indonesia diminta mundur dari All England bukan tanpa dasar. Tapi hal itu tertuang dalam prospektus All England 2021 di halaman delapan poin keempat," kata Daryadi kepada Bolalob.

“Seandainya akan menggugat, tim hukum NOC harus lebih cermat lagi untuk membaca prospektus. Ada pasal yang mengikat di prospektus, bukan pasal karet yang bisa ditarik ulur. Takutnya sampai pengadilan arbitrase, di sana disuruh baca pasal ini. Karena bisa dibilang ini adalah pegangan BWF,” sambungnya. 

Daryadi mengatakan bahwa kasus di All England terjadi di luar perkiraan BWF dan telah menimpa tim sebesar Indonesia.

“Tidak ada yang mengira bahwa semua akan berakhir seperti ini, ketika tim Indonesia dizholimi, dampaknya benar-benar dahsyat,” ujar komentator pertandingan bulutangkis ini.

Selanjutnya, ada tiga turnamen lagi sebelum olimpiade, yaitu India Open, Malaysia Open dan Singapore Open. Daryadi berpandangan ada baiknya PBSI lebih selektif salam mengirim pemain ke turnamen-turnamen yang mendekati olimpiade, kecuali mereka yang butuh poin untuk lolos seperti ganda campuran Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja.

“Jangan terlalu bernafsu mengirim pemain, kecuali Hafiz/Gloria yang masih perlu poin ke olimpiade.  Sementara pemain lain yang poinnya relatif aman, sebaiknya main aman saja. Jangan sampai niatnya mau cari poin untuk seeded (unggulan) atau pemanasan ke olimpiade, tapi justru jadi blunder. Pelajaran di All England sangat mahal,” jelas Daryadi. 

Daryadi menambahkan, jika memang tetap memutuskan untuk berangkat, maka opsi charter pesawat bisa diambil karena selanjutnya lokasi turnamen tidak sejauh Birmingham. Intinya, Daryadi menambahkan bahwa semua harus lebih berhati-hati di masa pandemi seperti ini. 





Video Trending



Berita Terkait


1617791938919

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?