Berjuang Dalam Keterbatasan Demi Mimpi Emas Paralimpiade


  •    Widya Amelia
  •    12/04/21 - 11:20
  •    251

Leani Ratri Oktila dan tim para badminton Indonesia di Dubai Para Badminton International 2021 (dok. pribadi)
Leani Ratri Oktila dan tim para badminton Indonesia di Dubai Para Badminton International 2021 (dok. pribadi)

Harapan Leani Ratri Oktila menjadi atlet badminton profesional pupus saat cobaan berat menghantamnya. Atlet kelahiran 6 Mei 1991 ini bermimpi menjadi pebulutangkis profesional, ia berlatih dari kecil, namun ia mengalami kecelakaan motor yang membuat tangan dan kakinya patah dan membuatnya tidak bisa melakukan pergerakan dengan sempurna.

Kejadian ini menjadi pukulan berat untuknya karena ia tidak dapat melanjutkan karier di badminton. Namun banyak pihak memberikan dukungan dan meyakinkannya kalau ia masih tetap berprestasi di tengah keterbatasan.
 
“Puji Tuhan saya tidak putus asa, yang ada di benak saya waktu itu adalah Tuhan ingin saya istirahat. Karena memang sebelum kecelakaan saya bisa dibilang hampir tidak pernah ada di rumah ha ha ha,” kata Leani kepada Bolalob.

Baca Juga :


“Saya memutuskan untuk tetap bermain di para badminton karna support dari orang sekitar dan terutama karena hebatnya organisasi yang menaungi saya yaitu NPC (National Paralympic Committee) yang meyakinkan saya, bahwa saya bisa tetap berprestasi walaupun dengan keadaan seperti sekarang,” lanjut Leani yang menargetkan emas Paralimpiade Tokyo 2020.
 
Leani memulai kiprahnya di para badminton sejak tahun 2012 di Pekan Paralimpik Nasional di Riau. Sejak saat itu, Leani terus mengharumkan nama Indonesia di kiprah internasional. Ia bercerita soal tantangan dalam menjalani profesi sebagai atlet para badminton. 

“Tantangan secara pribadi sih kurang lebih sama dengan atlet badminton pada umumnya, mesti melawan rasa malas, jenuh, rindu sama keluarga,” ujar Leani.

“Tapi menurut saya itu tantangan terberat itu ada di pelatih karena harus melatih atlet yang program latihannya nggak bisa sama dengan atlet lain, karena atlet disabilitas pasti beda programnya,” kata atlet yang mengidolakan Carolina Marin ini. halaman 2 dari 3
Leani juga menceritakan kesedihannya saat Asian Paragames 2020 di Filipina terpaksa dibatalkan akibat pandemi Covid-19. 

“Sepertinya itu hal yang paling menyedihkan sepanjang karier saya. Saya dan teman-teman sudah berlatih maksimal untuk persiapan tapi ternyata diundur karena pandemi,” tutur peraih penghargaan Female Para-Badminton Player of The Year 2018 ini. 

“Hal yang paling mengesankan selama saya menjadi atlet para badminton adalah melihat kebahagiaan orangtua saya yang bahkan sampai menangis karena bangga atas prestasi saya,” lanjutnya. 

Di Asian Para Games 2018, Leani menyumbang dua medali emas dan satu medali perak untuk Indonesia. Dua emas datang dari nomor ganda putri dan ganda campuran, serta satu perak dari nomor tunggal putri. Leani dikucuri bonus dengan total Rp. 2,7 Miliar oleh pemerintah atas prestasinya di pesta olahraga se-Asia yang berlangsung di Jakarta dan Palembang tersebut. 

Baru-baru ini, Leani juga mencetak prestasi di ajang Dubai Para Badminton International 2021 dengan meraih dua gelar dari nomor tunggal putri SL4 dan ganda putri SL3-SU5. 

Berpasangan dengan Khalimatus Sadiyah di ganda putri, Leani Leani mengalahkan Lenaig Morin/Faustine Noel dari Perancis dengan skor 21-15, 21-16. Di ganda campuran, Leani dan Harry Susanto meraih medali perak usai dikalahkan Lucas Mazur/Faustine Noel (Perancis), dengan skor 12-21, 21-19, 19-21. halaman 3 dari 3





Video Trending



Berita Terkait


1620015601528

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?