Dibantu Pelatih Asal Korea, PV Sindhu Bikin Simulasi Olimpiade Sendiri


  •    Widya Amelia
  •    17/05/21 - 14:40
  •    598

PV Sindhu, pemain tunggal putri India (BWFBadminton.com)
PV Sindhu, pemain tunggal putri India (BWFBadminton.com)

Batalnya turnamen Singapore Open 2021 menjadi pukulan bagi para atlet badminton, termasuk PV. Sindhu, juara dunia 2019 asal India. Hal ini membuat para atlet tidak punya ajang pemanasan jelang Olimpiade Tokyo 2020 yang akan dilangsungkan Juli mendatang.

Meski Sindhu tak berlatih bersama rekan-rekannya yang akan berangkat ke Olimpiade Tokyo 2020, namun pemain tunggal putri ini tak mengkhawatirkan persiapannya menuju event akbar tersebut.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Sindhu memutuskan untuk latihan di Gachibowli Stadium untuk menyesuaikan diri dengan kondisi stadion berukuran besar seperti di Musashino Sport Plaza, venue yang akan dipakai untuk cabor badminton di Olimpiade Tokyo 2020. 

Sindhu mempercayakan program latihannya kepada pelatihnya asal Korea, Park Tae Sang, yang disebutknya bakal membuat simulasi dan menciptakan suasana pertandingan di dalam latihan. 

Baca Juga :


“Kami pikir Singapore Open akan jadi turnamen terakhir sebelum olimpiade, tapi sekarang kami tidak punya pilihan. Jadi saya akan bermain dengan pemain dengan tipe permainan yang beda-beda, coach Park mencoba untuk ciptakan suasana bertanding untuk saya di latihan,” kata Sindhu seperti dikutip The Indian Express

“Tiap pemain punya gaya main sendiri, seperti Tai Tzu (Ying) atau Ratchanok (Intanon). Coach Park selalu ada untuk membimbing saya, mempersiapkan saya untuk hal ini,” lanjut peraih medali perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016 ini.  halaman 2 dari 3
Meski sudah sering bertemu dengan lawan-lawannya, namun Sindhu menilai akan ada perbedaan setelah mereka tak bertanding selama sekian bulan.

“Pasti ada yang beda dari permainan kami, ada yang baru. Jadi saya harus siap untuk itu,” sebutnya. 

Sebagai atlet, banyaknya turnamen yang dibatalkan tentu membuatnya kecewa. Namun ia menilai ini dilakukan demi menjaga keselamatan para atlet. 

“Kalau turnamen tetap berjalan, kami tidak tahu apakah kami akan aman. Mungkin kami pikir kami aman, tapi kami tidak pernah bisa memastikan karena kami tidak tahu dari mana virus ini datang,” tuturnya. 

Baca Juga :


Sindhu juga menyebut kasus yang menimpa Indonesia di All England 2020 lalu. Ia juga menyadari bahwa panita penyelenggara turnamen punya tugas yang berat untuk memastikan atlet mengikuti protokol Covid-19 di event sekelas olimpiade dan ini jadi tantangan untuk semuanya.
 
“Semua negara punya aturan Covid-19 sendiri. Di Thailand, kami dites setiap dua sampai tiga hari sekali. Di All England satu tim harus mundur karena ada satu kasus di penerbangan mereka, dan kita harus bisa menerima hal ini,” jelas Sindhu. 

“Bahkan di olimpiade, saya dengar atlet akan dites setiap hari. Sebelum kami berangkat, kami harus lolos tes PCR dan saat tiba harus dites lagi, jelas ini tidak mudah untuk dijalankan,” lanjutnya. 

Sindhu berharap di olimpiade tak terjadi kasus Covid-19 seperti di turnamen-turnamen sebelumnya, di mana para atlet terpaksa mundur dari turnamen. halaman 3 dari 3








Video Trending



Berita Terkait


1626182401814

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?