Diprediksi Dominasi Olimpiade Tokyo, Tim Badminton Jepang Alami Kendala Persiapan


  •    Widya Amelia
  •    11/06/21 - 14:20
  •    647

Kento Momota pemain tunggal putra Jepang (BWFBadminton.com)
Kento Momota pemain tunggal putra Jepang (BWFBadminton.com)

Meski punya kekuatan merata di lima nomor, namun tim badminton Jepang mengaku banyak mengalami kendala dalam persiapan menuju Olimpiade Tokyo 2020

Dilansir dari situs Badminton World Federation (BWF), Jepang diprediksi bisa saja mengikuti rekor China yang menyapu bersih medali emas di Olimpiade London 2012. 

Namun persiapan tim Jepang terganggu pandemi Covid-19. Selain gagal bertanding di sejumlah turnamen yang dibatalkan oleh BWF, Jepang juga terpaksa absen di leg Asia pada Januari lalu karena Kento Momota terdeteksi Covid-19 dan satu tim pun batal berangkat ke Thailand. 

Jepang juga kesulitan mengatur jadwal latihan bersama karena kondisi pandemi membuat pusat latihan nasional tim Jepang harus ditutup. Para atlet menjalani latihan di klub perusahaan masing-masing. 

Baca Juga :


"Karena pandemi, banyak turnamen yang dibatalkan, khususnya setelah All England, pemain hanya bisa latihan di klub. Tentu kami terus berkomunikasi dengan pelatih di klub, setiap hari ada laporan dan pengecekan," ujar Park Joo Bong, Kepala Pelatih Tim Jepang.
 
"Pemain kami absen tanding di waktu yang cukup lama, feeling di turnamennya yang kami khawatirkan," ujar Park kepada BWF.

Kabar soal batalnya olimpiade juga mengganggu persiapan tim Jepang, namun mereka memilih untuk tetap fokus pada persiapan olimpiade, apapun yang akan terjadi ke depannya. 

"Kami tetap bersiap ke olimpiade, walau banyak berita tentang olimpiade batal, tapi olimpiade kali ini di Jepang, di rumah kami sendiri. Kami harus tetap siap-siap dan tetap yakin agar motivasi tidak menurun," ujar Park. 

Di tahun 2021, tim Jepang baru mengikuti All England 2021 dan hasilnya fantastis, mereka merebut empat dari total lima gelar juara. Namun Park merasa banyak turnamen yang tidak diikuti pemainnya dan ia khawatir ini akan berpengaruh kepada pemainnya dalam membaca perkembangan lawan. 

"Hampir setahun pemain kami tidak bertanding, kami tidak bisa memantau sejauh mana perkembangan lawan. Tentu saya nonton tv, turnamen Thailand Open, tapi kalau pemain main sendiri di lapangan itu beda dengan menonton di tv," jelas Park. 

"Pembatalan turnamen di akhir-akhir sebelum keberangkatan juga membuat kami lelah secara mental," tambahnya. 

Akan tetapi, Park mengatakan ia mengambil sisi positif dari kondisi ini. Para pemain bisa lebih banyak waktu istirahat dan pemulihan dan penyegaran mental. 

"Kami juga banyak waktu untuk menyusun program, ide baru, program apa yang terbaik untuk tim kami. Misalnya training di luar lapangan, saya juga berdiskusi bersama NBA (Asosiasi Badminton Jepang) mengenai program terbaik ke depannya, termasuk bersama pelatih fisik dan ahli gizi," beber Park. 

Saat ini Jepang punya dua wakil yang bertengger di peringkat satu dunia, yaitu Kento Momota (tunggal putra) dan Yuki Fukushima/Sayaka Hirota (ganda putri). Di nomor tunggal putri, Nozomi Okuhara dan Akane Yamaguchi masing-masing menempati peringkat tiga dan lima dunia. 

Sedangkan di ganda putra, Jepang punya dua wakil kuat yaitu Hiroyuki Endo/Yuta Watanabe dan Takeshi Kamura/Keigo Sonoda. Ganda putri berpeluang untuk ciptakan all Japan final seperti yang terjadi di dua kejuaraan dunia terakhir pada tahun 2018 dan 2019, di mana Fukushima/Hirota bertarung dengan junior mereka yang merupakan pasangan rangking dua dunia, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara. 

Di ganda campuran, Jepang punya pasangan Yuta Watanabe/Arisa Higashino yang merupakan juara All England tahun 2021 dan 2018. halaman 2 dari 2


Terakhir diubah:  11/06/21 - 17:43






Video Trending



Berita Terkait


1622544865172

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?