Pasukan Vietnam Dinilai Jauh Lebih Baik Dibandingkan Pemain Naturalisasi Malaysia


  •    Kukuh Wahyudi
  •    18/06/21 - 13:00
  •    8.845

Guilherme de Paula, salah satu pemain naturalisasi Malaysia.
Guilherme de Paula, salah satu pemain naturalisasi Malaysia. (FAM)

Federasi sepak bola Malaysia (FAM) terus mendapatkan sorotan tajam dari masyarakatnya. Hal itu dikarekanakan kebijakan menaturalisasi pemain asing yang tak berefek positif di Kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Asia.

FAM didesak untuk fokus pada pengembangan pemain di tingkat akar rumput, daripada mengambil jalan pintas dengan mencoba peruntungan dari kinerja pemain naturalisasi.

Meski Malaysia lolos ke babak ketiga kualifikasi Piala Asia, para penggemar mengkritik penampilan tim yang lesu melawan UEA dan Vietnam, terutama penampilan Guilherme de Paula kelahiran Brasil (34 tahun), Liridon Krasniqi asal Kosovo (29), dan Mohamadou Sumareh asal Gambia (26).

Mantan pemain timnas, Datuk M Karathu, mengatakan tindakan pemberian status kewarganegaraan kepada pemain kurang menonjol di Liga Malaysia (M-League) tidak banyak membantu perkembangan timnas berjulukan Harimau Malaya itu.

Baca Juga :


Karathu yang bermain untuk timnas sekitar tahun 1960-an hingga 1070-an juga mempertanyakan berapa banyak pemain impor asing di liga lokal sekarang yang benar-benar mumpuni untuk berlaga di level tertinggi di Asia.

“Sebagian besar pemain impor asing di M-League termasuk yang tidak bisa bermain di liga papan atas di Amerika Selatan dan negara-negara Eropa. Daripada membeli pemain asing ini, lebih baik membeli pemain dari Vietnam.

Lihat saja karakter dan semangat juang yang ditunjukkan pemain Vietnam di babak Kualifikasi (Piala Dunia 2022/Piala Asia 2023), jika dibandingkan dengan pemain kami yang kebanyakan ‘berjalan’ saat pertandingan, dan mendapat kartu kuning secara tidak sengaja. Diberi kesempatan mewakili negara, mereka harus berkomitmen sepanjang 90 menit pertandingan,” kata Karathu seperti dilansir dari Berita Harian.

Ia mengatakan lebih lanjut bahwa FAM harus menganalisis statistik dan kinerja, serta sikap dan komitmen yang ditunjukkan oleh setiap pemain di timnas.

“Proses pembangunan di dalam negeri perlu dirombak, FAM perlu merogoh kocek lebih dalam untuk pengembangan ini, begitu juga asosiasi sepak bola negara, mereka perlu fokus pada pengembangan pemain di tingkat akar rumput. Hanya satu atau dua akademi saja tidak cukup untuk meningkatkan kualitas. kualitas tim nasional," tuturnya.

“Sementara para pemain tidak boleh puas dengan pendapatan tinggi yang ditawarkan oleh M-League. Mereka harus berjuang untuk kesempatan bermain di Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Arab, yang level permainan sepak bolanya dianggap sangat tinggi," ucap Karathu lagi. halaman 2 dari 2









Video Trending



Berita Terkait


1626512402584

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?