Perjuangan Atlet Kanada, Cari Hotel dan Penerbangan Termurah Demi Bisa Bertanding


  •    Widya Amelia
  •    22/07/21 - 09:42
  •    1.444

Jason Anthony Ho-Shue, pemain Kanada (BWFBadminton.com)
Jason Anthony Ho-Shue, pemain Kanada (BWFBadminton.com)

Jason Anthony Ho-Shue mesti kerja keras demi bisa mewujudkan mimpinya untuk bertanding di Olimpiade Tokyo 2020. Di Kanada, badminton memang tidak sepopuler di negara lain seperti Indonesia dan China, sehingga atlet harus berjuang untuk mengikuti pertandingan. 

Di tahun pertama kuliah, Ho-Shue juga bekerja part time di bagian IT sebuah Rumah Sakit. Latihan badminton dilakukannya pada malam hari. 

"Saya kerja dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore, lalu saya pergi ke kuliah. Malamnya baru latihan badminton dari jam delapan malam sampai jam sepuluh. Jadi memang berat, karena saya harus mengerjakan tugas kuliah di malam hari juga, lalu saya bangun pagi jam lima," cerita Ho-Shue, dilansir situs Badminton World Federation (BWF).

Baca Juga :


Kegiatan yang luar biasa padat ini dilakukan Ho-Shue selama setahun lebih. Ia mengakui jika kondisi ini membuatnya kelelahan terus menerus, ia juga sering kurang tidur dan tidak punya kesempatan untuk menambah jam latihan badminton. 

Sebagai pemain pro, Ho-Shue harus mengurus semua persiapan keberangkatan menuju turnamen. Mulai dari penerbangan, hotel dan sebagainya. 

"Saya harus memastikan anggarannya cukup, saya berusaha untuk dapat tiket pesawat termurah. Saya tidak tinggal di hotel ofisial turnamen karena biasanya jauh lebih mahal. Jadi saya tinggal di hotel lokal yang jaraknya lebih jauh, biasanya kami cari di Airbnb," tutur Ho-Shue. 

"Saya juga main di Liga Denmark dan gunakan uangnya untuk perjalanan menuju Olimpiade," kata pasangan main Nyl Yakura ini. halaman 2 dari 2
Meskipun sulit, Ho-Shue tetap berusaha mewujudkan mimpinya menuju Olimpiade. Apalagi ia punya cita-cita ingin membanggakan sang ayah yang juga mencintai badminton. 

"Saat ayah saya meninggal dunia, rasanya berat sekali. Saya tidak tahu apakah saya mau lanjut di badminton atau tidak. Badminton adalah olahraga yang sangat kami cintai, saya tidak mau menyerah," ujarnya.

Baca Juga :


Saat namanya muncul dalam pemain yang lolos ke Olimpiade, Ho-Shue menulis status di akun Facebook miliknya. 

"10 tahun lalu, ayah saya meninggal dunia saat main badminton tepat di hadapan saya. Saya mencoba bangkit dan bertekad tidak berhenti dari badminton, saya membuat janji pada ayah saya bahwa ia akan melihat saya di panggung tertinggi. Sekarang saya seorang olympian, 10 tahun saya membawa beban ini dan rasanya sangat luar biasa akhirnya saya bisa melepas beban ini. Sampai jumpa di Tokyo, Ayah,". 

Ho-Shue sebetulnya berpeluang untuk lolos ke Olimpiade di dua nomor. Ia unggul dari rekannya, Brian Yang di peringkat Race to Tokyo. Keduanya bertemu di final Pan Am Championships yang menjadi kualifikasi terakhir. 

Ho-Shue mengalami cedera lutut di babak semifinal, namun ia memutuskan untuk tetap bertanding di final melawan Yang. Namun Ho-Shue tidak dapat memaksakan kondisinya dan akhirnya menyerah dari Yang.


BOMSALA! Sepatu Futsal Paling Empuk, Terbaru dari Calci - Wahsabi x Uta Ramadhyan



Terakhir diubah:  22/07/21 - 11:35






Video Trending



Berita Terkait


1627531666219

End of content

No more pages to load



Kamu dapat 6


Apa Ini?