(Foto: bolalob)

Juara PEFI 2016, Bintang Timur Surabaya Mampu Tampil Konsisten

Bintang Timur Surabaya berhasil menjuarai ajang Piala Emas Futsal Indonesia 2016 setelah mengalahkan PON Papua Barat dalam laga final yang digelar pada Minggu (7/8/2016) di GOR Ciracas, Jakarta Timur.

Pemilik tim futsal BTS, Dimas Kurniawan, mengapresiasi kerja keras skuatnya yang mampu tampil cukup baik mengalahkan lawan-lawan kuat di PEFI kali ini.

"Para pemain mampu tampil signifikan dan mereka mampu tampil konsisten sepanjang gelaran. Memang yang tersulit itu, mempetahankan performa bagus. Dan mereka berhasil melakukannya," kata Dimas kepada Bolalob.

Selain itu, gelar juara ini juga menjadi awalan yang baik buat Bintang Timur yang akan mempersiapkan tim jelang liga futsal 2017.
editTerakhir diubah:  08/08/16 - 15:31

PERASAAN KAMU MEMBACA ARTIKEL INI

  • Sebarkan

KOMENTAR


Rekomendasi



Berita Terkait


Persebaya Surabaya Datangkan Pemain Berdarah Brasil
Persebaya masih terus melakukan pembenahan jelang bergulirnya Liga 1 2018. Kali ini Persebaya melakukan uji coba kepada penyerang kelahiran Brasil bernama Pedro Henrique.Lahir di Sao Paulo Brasil, Pedro memiliki dua kewarganegaraan. Pemain yang lahir pada 1992 tersebut tercatat sudah membela tim nasional Timor Leste sebanyak empat kali.Persebaya mendatangkan Pedro, Senin (19/2) dan pemain yang pernah bergabung dengan klub Malaysia, PKNS itu langsung mengikuti latihan bersama tim.[suggestedarticle=3]Pedro masih akan menjalani seleksi untuk bisa direkrut oleh Persebaya untuk Liga 1 2018.“Masih kami lihat. Namanya Pedro Henrique asal Brasil dan belum pernah bermain di Indonesia,” ucap pelatih Persebaya, Angel Alfredo Vera.Persebaya sejauh ini memang masih belum memiliki pemain asing di posisi penyerang. Sejauh ini Persebaya baru memiliki dua pemain lokal, Ricky Kayame dan Rishadi Fauzi di lini depan.
  820 kali
Nelson Alom Ingin Terus Dipanggil Timnas Indonesia
Gelandang Persebaya Surabaya Nelson Alom mengikuti sesi latihan Timnas Indonesia U-23, di Lapangan ABC, Senayan, Jakarta, Senin (19/2/2018). Ia bicara soal atmosfer dan pengalaman bertemu junior-juniornya. Berikut ini adalah kutipan wawancaranya.Bagaimana sesi latihan hari ini?Pasti senang dan antusias juga ya karena pertama kali bergabung dengan teman-teman dan timnas senior bagi saya ini pengalaman yang berharga bagi saya.[suggestedarticle=3]Apakah ada kesulitan adaptasi?ya pasti susah sedikit, karena ade2 bermain sudah lama sedangkan saya baru bermain dan saya harus menyesuaikan dengan mereka. Insentas program latiah seperti apa?instensita tinggi, dan saya sangat senang tidak ada yang tidak semangat. semua pemain bersemangat.Apakah ada target pribadi?Pasti saya memberikan yang terbaik untuk Timnas. Saya ingin berikan yang terbaik agar dapat dipanggil terus. Ada kesan khusus apa selama berlatih di sini selama dua hari terakhir?Positif sekali bisa latihan disini dan kekeluargaan sangat tinggi.Bagaimana dengan pelatih?Baik sekali dan sengat ramah terhadap para pemain. Saya senang ikut latihan Timnas.
  1085 kali
Video - Lima Gol Terbaik Piala Presiden 2018
Dalam gelaran Piala Presiden 2018 sejumlah gol indah tercipta. Bolalob merangkum lima gol terbaik sepanjang Piala Presiden 2018.Persija Jakarta sudah dipastikan menjadi juara Piala Presiden 2018 setelah menang telak 3-0 atas Bali United di partai final. Gelar juara tersebut merupakan yang pertama untuk klub berjuluk Macan Kemayoran.Persija juga sempat mencetak sejumlah gol indah di Piala Presiden 2018 dan tiga diantaranya terpilih sebagai yang terbaik versi Bolalob.Berikut ini lima gol terbaik Piala Presiden versi Bolalob:5. Jaimerson Silva VS Bali United (Fase Grup)   [VIDEO] @jaimesilva03 💣🚀💥 A post shared by Go-Jek Traveloka Liga 1 (@liga1match) on Jan 29, 2018 at 6:12am PST Meski berposisi sebagai bek, Jaimerson berhasil mencuri perhatian dengan mencetak gol lewat sepakan bebas. Tembakan keras Jaimerson gagal dibendung Kiper Bali United, Wawan Hendrawan. 4. Marko Simic VS PSMS (Perempat Final)   [VIDEO] Gol pertama #SuperSimic boom 💣💥🔥 A post shared by Go-Jek Traveloka Liga 1 (@liga1match) on Feb 10, 2018 at 4:46am PST Simic menjadi momok yang menakutkan untuk penjaga gawang lawan. Tidak hanya menakutkan di kotak penalti, Simic juga andal dalam melakukan tembakan bebas.3. Ferinando Pahabol VS Madura United (Fase Grup)   [VIDEO] @feri_pahabol11 ⚽💥🚀 . Berapa nilai untuk gol ini? A post shared by Go-Jek Traveloka Liga 1 (@liga1match) on Jan 28, 2018 at 1:12am PST Pahabol berhasil melepaskan tembakan keras dari sisi kiri. Kiper Madura United, Satria Tama juga gagal menghalau tembakan Pahabol yang begitu deras.2. Marko Simic VS Bali United (Final)   [VIDEO] Gol salto dari @markosimic_77. Gol ke-11 yang juga menyamai rekor gol Piala Presiden yang dipegang oleh Cristian Gonzales. Akankah rekor itu pecah pada malam ini? #PialaPresiden #PersijaJakarta #BaliUnitedFC #SepakbolaIndonesia A post shared by Go-Jek Traveloka Liga 1 (@liga1match) on Feb 17, 2018 at 5:59am PST Pada laga tensi tinggi di final, Simic sukses menjadi pembeda lewat aksi akrobatiknya. Pemain asal Kroasia tersebut berhasil memanfaatkan peluang sekecil mungkin untuk bisa menjadi gol.1. Nelson Alom VS PSMS (Perempat Final)   [VIDEO] @alom_90. 3-3. Boom 💣💥💥💥 A post shared by Go-Jek Traveloka Liga 1 (@liga1match) on Feb 3, 2018 at 2:20am PST Pemain Persebaya, Nelson Alom berhasil meniru gol yang seringkali diciptakan legenda Manchester United, Paul Scholes. Tembakan dari luar kotak penalti yang bertenaga dan akurat sukses membobol gawang PSMS Medan.
  838 kali
Hiburan dan Romantika Perserikatan di Piala Presiden 2018
Sepak bola Indonesia pernah memiliki kompetisi yang bersifat kedaerahan. Jauh sebelum era profesional, sepak bola Indonesia dipenuhi dengan semangat fanatisme tiap daerah.Kita semua tahu bagaimana PSSI berdiri. 19 April 1930 menjadi tonggak sejarah, sepak bola Indonesia yang juga ikut berjuang menghadirkan kemerdekaan lewat jalur olah raga.Dahulu kekuatan sepak bola Indonesia memang dikenal dan terpusat di Pulau Jawa. Tak heran, klub-klub sepak bola dari tanah Jawa pun beridir. Tak hanya klub bikinan bangsa Belanda, tapi juga klub milik pribumi juga turut hadir.Gairah sepak bola di Indonesia memang sudah merasuki bangsa Indonesia sejak era 1920-an. Di Batavia (sekarang Jakarta), ada klub Rood-Wit Football en Cricket yang jadi stimulus berkembangnya sepak bola di kota pelabuhan itu.Tentu saja gairah sepak bola yang dihadirkan Rood-Wit bagi masyarakat Batavia meluas ke kota-kota lain. Bahkan, tahun 1915 sudah ada Makassar Voetball Bond (MVB) yang kini dikenal dengan PSM Makassar.Persaingan antar kota itu mulai terjadi pada tahun 1930, saat para pemuda dan tokoh terpelajar Indonesia mendirikan bond (perkumpulan) sepak bola yang membawa nama daerah.[suggestedarticle=3]Saat itu, ada VIJ (Voetballbond Indonesia Jacatra) dari Tanah Abang, Jakarta yang lahir pada tahun 1928. VIJ kini dikenal dengan nama Persija Jakarta.Sebelumnya tahun 1923 ada Vorstenlandsche Voetbal Bond (VBB) yang sekarang menjadi Persis Solo, hadir menjadi bond sepak bola bagi pribumi. Lalu lahir Persebaya Surabaya pada 1927.Belum lagi PSIM Mataram yang hadir di daerah Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1929. Bond dari kota besar di Pulau Jawa lebih dahulu memainkan pertandingan sepak bola dalam format kompetisi.Sejak 1931, PSSI menggelar kompetisi antar daerah. Istilah Kampeonturnoi dipakai oleh PSSI untuk wadah persaingan sepak bola di Indonesia. Banyaknya anggota membuat format kompetisi terbagi dari Districtwestrij (daerah) dan Stedenwestrij (nasional).Dari distrik inilah beberapa persaingan terjadi. Tak hanya kota besar saja, ada tim kota lain yang juga berjuang mendapatkan jatah di steden.Ada saatnya PSIT Tjirebon atau Persitas Tasikmalaja tak mau mengalah dari Persib Bandung. Begitu juga dengan PPVIM Meester Cornelis (Jatinegara) tak ingin takluk dengan VIJ yang merupakan rival di Batavia Area.Mari kita melangkah ke Stedenwesterij. VIJ, Persib, Persis, SIVB (Persebaya), atau PSIM kerap menguasai persaingan di level atas. Dari steden itu, persaingan sudah mulai terbentuk.VIJ selalu bersaing dengan Persis Solo. Selain itu Persis juga punya rivalitas dengan PSIM sejak lama. Terutama jika kita berbicara teritori keduanya yang memang berdekatan.Persis juga memiliki rivalitas dengan SIVB. Keempat tim itu memang selalu panas jika sudah menyangkut persaingan di kompetisi. Namun, semua itu menjdi hiburan masyarakat Indonesia yang sudah mulai demam bola.Beranjak ke Indonesia merdeka. Tim-tim kuat era Perserikatan awal PSSI pun kembali bertemu dengan kekuatan yang berbeda. VIJ sudah merubah namanya menjadi lebih Indonesia, yakni Persija Jakarta. Tak hanya itu, Persija juga berisi pemain-pemain bintang kelas atas Indonesia.Persib Bandung punya generasi emas bersama dengan Omo dan Wowo. Persis Solo, punya Darmadi yang namanya melambung di Kota Solo. Lalu PSIM terus membangun kekuatan setelah hanya meraih sekali juara di Perserikatan awal, tahun 1932.Lalu pada tahun 1950, kekuatan sepak bola pun membuka tim-tim dari daerah lain, seperti dari Sumatera yang mulai membangun kekuatan sepak bolanya. Kota Medan punya PSMS yang berdiri pada 21 April 1950.Sayanganya seiring berjalannya waktu, Solo dan Yogyakarta mulai tertinggal. Kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan menjadi poros sepak bola baru Indonesia.Selama empat era, yakni 1950-an, 1960-an, 1970-an, hingga 1980-an, poros tersebut terus 'berseteru' di kancah sepak bola Indonesia. Kelima tim itu banyak menyumbang pemain untuk timnas Indonesia.Pertarungan klasik antar daerah itu sempat meredup pada era 1990-an, tepatnya pada 1994. Penggabungan tim Perserikatan dengan klub dari Galatama (Liga Sepakbola Utama), menjadi salah satu faktornya.Penggabungan untuk membentuk Liga Indonesia itu membuat peta persaingan baru dengan antara Perserikatan dengan Galatama. Persebaya bisa bertarung dengan Arema Malang, lalu Persija bisa bertemu dengan Pelita Jaya Jakarta dan Persib Bandung bersaing berebut simpati masyarakat Jawa Barat dengan Bandung Raya.Waktu terus berjalan ke arah modernisasi. Tim-tim Perserikatan itu pun berubah menjadi klub dan meninggalkan gaya lama. Badan hukum pun dibentuk untuk mengelola semua elemen tim.Namun persaingan terus berlanjut, terutama untuk klub klasik yang sudah menjadi bagian sepak bola Indonesia sejak lama.Klub Perserikatan pernah mencapai era jayanya pada kompetisi Liga Indoensia periode 1994 hingga 2007. Sebanyak sembilan klub eks Perserikatan meraih gelar juara dan membenamkan klub eks Galatama.Era Indonesia Super League, klub eks Galatama dan klub modern mulai muncul dan memberi perlawanan kepada klub Perserikatan. Bahkan, klub besar seperti Persebaya, PSIS Semarang, dan PSMS sempat terdegradasi.Kompetisi saat ini pun dipenuhi klub-klub baru nan modern. Hal itu memang tidak salah, karena era industri terkini tak bisa ditolak oleh sepak bola Indonesia. Klub-klub baru seperti Bali United, Borneo FC, Kalteng Putra, Madura United sampai Mitra Kukar menjadi warna lain sepak bola Indonesia. Tak hanya modern, tapi pengelolaan mereka juga terbilang professional.Bali United menjadi contoh klub yang mandiri. Tak hanya mengandalkan dana dari penjualan tiket saja, tapi Serdadu Tridatu juga mempunyai bisnis lain untuk menghidupi klub. Sebut saja merchandise, media sosial, hingga kegiatan sponsorship lainnya.[pagebreak]Piala Presiden Sajikan Hiburan dalam Bentuk Reuni Perserikatan[/pagebreak]Piala Presiden 2018 sajikan hiburan dalam bentuk reuni PerserikatanTapi tahun ini, klub Perserikatan mulai menunjukkan tajinya. Persebaya, PSMS, dan PSIS kembali merasakan kompetisi kasta atas usai promosi ke Liga 1. Ketiganya berenuni dengan kawan lama Perserikatan yang masih bertahan di kompetisi atas sepak bola Indonesia.Piala Presiden 2018 sebagai ajang pramusim seakan menjadi wadah reuninya kembali klub eks Perserikatan. Tercatat ada sembilan klub Perserikatan yang mengikuti turnamen tersebut.Sembilan tim itu adalah, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persib Bandung, Persija Jakarta, PSIS Semarang, PSM Makassar, PSMS Medan, dan PSPS Riau.Tim-tim tersebut bermain dengan atraktif dan menghibur. Inilah poin dari hadirnya klub eks Perserikatan di Piala Presiden. Fanatisme dan gairah penonton kembali terlihat dengan reuni Perserikatan.Magnet tim Perserikatan seperti Persebaya, Persib, dan Persija menjadi daya tarik tersendiri. Berkat Piala Presiden romatika Perserikatan beserta pendukungnya kembali hadir.Bayangkan saja, 50.000 penonton hadir di Stadion Gelora Bung Tomo untuk melihat aksi Persebaya kontra Madura United. Lalu ingat pula persaingan Persib Bandung dan PSM Makassar di Grup C. Laga tersebut pun juga menyedot perhatian masyarakat Indonesia.Dulu, keduanya memang rival klasik. Era Wowo melawan Ramang, sampai Ajat Sudrajat versus Anshar Razak pun terngiang dalam ingatan dan cerita kedua pendukung klub tersebut saat ini.Masyarakat lagi-lagi disuguhkan pertandingan klasik di perempat final saat PSMS dan Persebaya bertemu. Kita bisa lihat beberapa tahun ke belakang saat keduanya pernah bertarung hebat di kompetisi 1971.Saat itu Ronny Paslah dkk, berhasil finish di atas Persebaya yang saat itu diperkuat Harry Tjong, Rusdi Bahalwan, dan Jacon Sihasale. Pada Piala Presiden 2018 kenangan duel tersebut kembali terngiang.Hasilnya, pertarungan ketat terjadi. Bajul Ijo dan Ayam Kinantan saling kejar skor di waktu normal, yakni 3-3. Pertandingan pun memasuki babak adu penalti. Anak-anak Medan pun melaju ke semifinal usai menang adu penalti 5-4.Langkah PSMS untuk ke final, terhalang oleh Persija Jakarta. Keduanya merupakan 'kawan lama' yang kerap bertemu dalam pertandingan penentu. Dalam kompetisi Perserikatan PSSI, baik Jakarta dan Medan selalu punya gengsi sendiri. Jakarta mengandalkan permainan teknik sedangkan Medan punya gaya rap-rap yang keras.Rivalitas keduanya sudah terjadi sejak era 1950-an. Era itu Persija terbilang tim kuat. Begitu juga dengan PSMS Medan yang mulai menyusun kekuatan di peta sepak bola Indonesia.Persija di Piala Presiden 2018 kali ini lebih superior dibanding PSMS. Klub yang identik dengan warna merah dan putih itu menang agregat 5-1. Pada leg pertama, Persija menang 4-1 dan leg kedua menang 1-0.Laga tersebut juga menjadi unjuk gigi Marko Simic, penyerang anyar Persija Jakarta. Hattricknya di leg pertama dan satu gol di leg kedua, membuat masyarakat Indonesia deman 'Super Simic'.Macan Kemayoran menjadi wakil klub Perserikatan yang melaju ke final. Persija menantang hadangan klub modern, Bali United. Serdadu Tridatu punya kekuatan yang menakutkan dengan tanpa kekalahan pada setiap pertandingannya.Final yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), menjadi puncak pertunjukan Piala Presiden 2018. Tidak bisa dipungkiri, final Piala Presiden 2018 adalah pertandingan terbaik dan menghibur di awal tahun 2018. Persija yang bermain di rumah mendapat dukungan penuh Jakmania dan warga Jakarta. Sedangkan Bali United tak gentar dan mendatangkan Semeton Dewata (pendukung Bali) ke ibu kota.Kedua tim bermain mengibur, begitu juga dengan kedua pendukung yang saling adu kreativitas. Jakmania membuat koreografi 'Glory' sebelum pertandingan, dan Semeton selalu militan meneriakan yel-yel penyemangat meski jumlahnya kalah banyak dari pendukung tuan rumah.Menariknya, tak ada gesekan berarti dari keduanya. Itulah yang membuat pertandingan berjalan seru dan menghibur. Persija melalui Super Simic membuat tribune SUGBK bergetar berkat dua gol spektakulernya. Sundulan dan salto Simic menjadi gol terindah yang tercipta di final.Belum lagi aksi selebrasi Novri Setiawan yang menghibur. Membuat suasana final layaknya pesta sepak bola Indonesia. Persija pun menang dengan skor 3-0 sekaligus membuat dahaga sepak bola Jakarta terobati dengan trofi juara yang terakhir kali mereka rasakan tahun 2001 di SUGBK.Lebih dari itu, Piala Presiden 2018 dan Persija berhasil membuat romantika Perserikatan hadir ke tengah-tengah masyarakat. Sebuah tim penuh sejarah yang melewati persaingan sengit di Piala Presiden.Romantika dalam kenangan Perserikatan akan sulit dilupakan. Sebuah hiburan yang tertuang di turnamen pramusim selalu dikenang oleh masyarakat. Bukan karena modernitasnya, tapi cerita sejarah dan gairah yang tertuang di Piala Presiden 2018.
  867 kali
Dipanggil Timnas Indonesia, Pemain Ini Malah Galau
Pelatih Tim nasional Indonesia Luis Milla baru saja merilis nama-nama yang akan dipanggil guna melakukan pemusatan latihan di Jakarta mulai pekan depan.Sebanyak 26 pemain dipanggil oleh Milla untuk menjalani pemusatan latihan (TC) tahap kedua dalam persiapan Asian Games 2018 pada 18-25 Februari mendatang.Terdapat tiga muka baru dari daftar skuad kali ini. Ketiganya ialah kiper Borneo FC, Muhammad Ridho, fullback Bali United, I Made Andhika Wijaya, dan gelandang Persebaya Surabaya, Nelson Alom.[suggestedarticle=3]Nama terakhir justru mengaku galau karena harus meninggalkan Persebaya, walau mantan gelandang Persipura Jayapura itu juga bangga bisa bergabung dengan timnas."Saya dua kali bicara sama Alom soal pemanggilan Timnas ini. Dia pastinya senang, cuma memang berat meninggalkan Persebaya kerena dia mengaku sedang menikmati dan lagi senang-senang dengan atmosfir bonek," ucap Manajer Persebaya, Chairul Basalamah. "Ya salah satunya karena tidak bisa ikut di Piala Gubenur Kaltim. Dia sangat senang bermain dengan dukungan bonek, di Balikpapan sudah ada ribuan bonek yang siap mendukung Persebaya," ucapnya. "Saya rasa, dia salah satu gelandang terbaik yang ada di Indonesia saat ini dan bisa bersaing dengan pemain lainnnya di Timnas," ucap pria yang akrab dipanggil Abud ini. Milla sempat memantau permainan Alom bersama Persebaya di ajang Piala Presiden 2018.
  25734 kali
Bintang Timur Surabaya Presale Pembelian Tiket PFL 2018
Meski laga pekan ketiga Pro Futsal League 2018 grup B baru seminggu lagi, namun tuan rumah Bintang Timur Surabaya sudah membuka penjualan tiket untuk menonton pertandingan yang digelar pada 23-24 Februari mendatang di GOR UNESA, Surabaya.Penjualan tiket secara presale ini dibuka pada 16-23 Februari mendatang di Baskhara Futsal Arena, Jl. Manyar Jaya Praja 1 No. 47, Surabaya, dengan harga Rp. 15 ribu. Bahkan pihak BTS memberikan promo penawaran khusus bagi pembeli 15 lembar tiket presale.[suggestedarticle=3]Untuk tiket on the spot atau yang dibeli langsung saat hari pertandingan, penyelenggara mematok harga Rp. 25 ribu per harinya.Laga pekan ketiga PFL 2018 ini dipastikan akan dipadati penonton dan berlangsung seru karena empat bintang timnas Thailand yaitu Jetsada Cudech dan Chaivat Jamgrajang (IPC Pelindo) serta Kritsada Wongkaeo dan Suphawut Thueanklang (Black Steel) sudah akan hadir membela timnya masing-masing.
  518 kali
Persebaya Surabaya Belum Terima Hadiah Juara Liga 2 2017
Pihak manajemen Persebaya Surabaya mengungkapkan, belum menerima hadiah juara Liga 2 musim 2017 dari pengeloa liga tersebut, PT Liga Indonesia Baru (PT.LIB). Hal ini diungkapkan manajer Persebaya, Chairul Basalamah yang meminta pihaknya PT LIB untuk segera melunasinya. Persebaya pun sempat berkomunikasi dengan direktur utama PT. LIB, Berlinton Siahaan. Namun, yang apa yang didapatinya tidak sesuai dengan harapannya. "Sudah tanya juga ke Pak Berlinton, tapi tetap tidak jelas. Ini jangan sampai jadi preseden buruk yang setiap tahun terjadi," kata Chairul seperti dikutip Goal.com, Rabu (14/2/2018).[suggestedarticle=3]Lebih dari itu, pihaknya pun enggan membicarakan ini ke publik andai PT LIB bicara dengan baik-baik. Penyakit ini pun telah terjadi berulang-ulang, bahkan menurutnya, LIB meminta agar uang hadiah tersebut diikhlaskan."Selama masih bisa komunikasi, ya ayo. Tapi, ini tidak ada komunikasi, jadi seperti kami mengejar-ngejar padahal ini kan hak kami. Dari awal sudah dijanjikan ada hadiahnya, ya harusnya tidak bisa seperti ini," ucap Chairul. [pagebreak]Penyakit Lama[/pagebreak]"Penyakit ini sudah pernah terjadi dan teman-teman (klub) yang lama juga mengatakan memang seperti ini. Bahkan menjadi bahan guyonan mereka bilang ikhlaskan saja. Menurut saya, ini tidak baik untuk liga," tutur Chairul.Tidak hanya Persebaya, PT LIB pun masih menunggak kepada peserta Liga 1 musim lalu. Mereka belum melunasi uang subsidi klub serta hak siar dan rating kepada semua kontestan kompetisi kasta teratas tersebut. LIB pun sempat beralasan, pihaknya terkendala dengan sponsor. Alhasil, mereka meminta klub bersabar dengan situasi yang terjadi ini. (Bobotoh.id)
  740 kali
Belum Ada yang Istimewa dari Bintang Timur Surabaya
Bintang Timur Surabaya (BTS) bisa dikatakan salah satu tim favorit Grup B untuk lolos ke final four Pro Futsal League (PFL) 2018.Kekuatan BTS hampir tidak berbeda jauh dari tim yang musim lalu finish diperingkat ketiga PFL 2017, masih ada Septyan Dwi Chandra dan Andriansyah Agustin yang memimpin rekan-rekan mereka berlaga di PFL 2018 ini. Mereka bahkan mendapat tambahan pemain baru yang berkualitas pada diri Jhon Gotlief, Reza Yamani, dan Eko Sutrisno.Barisan pemain ini membuat BTS layak bersaing dengan Black Steel Manokwari, IPC Pelindo II Jakarta, dan Permata Indah Manokwari di Grup B ini. Performa mereka di empat pertandingan awal pun cukup bagus dengan meraih 3 kemenangan beruntun sebelum akhirnya kalah dipertandingan terakhir.Meski demikian, secara penampilan belum ada yang istimewa dari BTS di awal musim 2018 ini. Kemenangan mereka atas SDR FC Binjai, FKB 25 FC, dan Kancil BBK Pontianak lebih karena kemampuan individu pemainnya yang luar biasa.Belum ada yang berubah dari segi taktik yang masih sering mengandalkan kemampuan individu para pemainnya. Mereka pun akan mendapat ujian disisa pertnaidngan paruh musim yang akan menghadapi Black Steel, Permata , dan IPC. Jika secara tim belum ada peningkatan akan sangat sulit bagi BTS meraih poin dari para pesaingnya.[suggestedarticle=3]Para pemain harus bisa meminimalisir kesalahan dan harus lebih kreatif dalam menyerang. Tim pelatih harus mampu memaksimalkan setiap kemampuan yang dimiliki para pemainnya untuk tampil luar biasa di laga-laga penting kedepannya.Berikut hasil BTS hingga matchday 4 Grup B PFL 2018.Matchday 1, Sabtu, 27 Januari 2018Bintang Timur Surabaya 6-1 SDR FC BinjaiMatchday 2, Minggu, 28 Januari 2018FKB 25 FC 5-6 Bintang Timur SurabayaMatchday 3, Sabtu, 10 Februari 2018Kancil BBK Pontianak 4-5 Bintang Timur SurabayaMatchday 4, Minggu, 11 Februari 2018Bintang Timur Surabaya 1-2 Mataram FC NTB
  1085 kali
Beban Ingin Menang Buat Bintang Timur Surabaya Kurang Fokus Sepanjang Laga
Kekalahan menyakitkan diterima Bintang Timur Surabaya pada laga melawan Mataram di pekan kedua Pro Futsal League 2018 lalu. Dua gol di menit Akhir dari Mataram FC membuat mereka selain gagal menang, juga takluk 1-2.Asisten pelatih Kharismawan mengakui skuatnya belum bisa berkonsentrasi penuh hingga akhir laga. Ini membuat beberapa kali tim selalu kebobolan di menit akhir. Puncaknya mereka harus takluk lewat dua gol menit akhir atas Mataram.[suggestedarticle=3]"Timi ini terkadang di menit-menit akhir jadi bumerang. Ini sudah terjadi sejak pekan pertama menghadapi Futsal Kota Bandung. Di menit akhir kami selalu kehilangan fokus. Ini harus jadi evaluasi dan harus lebih fokus karena pertandingan belum usai," ungkap Kharis kepada Bolalob.Kharis menduga skuat BTS sedikit terbebani dengan keinginan untuk menang. "Mungkin mereka terlalu terbebani dan keinginan untuk menang jadi lebih main aman. Tahun lalu kami tertinggal dulu dan bisa membalikan. Tahun ini kebalikannya. Tentu fokus untuk memperbaiki hal ini adalah bertahan dan fokus hingga menit akhir," tandasnya.Di pekan ketiga BTS akan berlaga di depan pendukungnya sendiri pada 23-24 Februari mendatang di GOR UNESA, Surabaya.
  506 kali
Tergabung di Grup Maut, Persebaya Justru Termotivasi
Persebaya Surabaya akan berada di Grup B ajang Piala Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) 2018.Seperti sebelumnya, Piala Gubernur Kaltim 2017 juga akan menggunakan format home tournament dan terbagi dalam dua grup. Masing-masing grup dihuni empat tim.Bajul Ijo akan bersama Persiba Balikpapan, Madura United, dan Sriwijaya FC, dimana laga Grup B akan digelar di Stadion Batakan, Balikpapan.Persebaya semakin termotivasi dengan menghadapi dua tim bertabur bintang macam Sriwijaya FC dan Madura United.[suggestedarticle]Sebagai tim promosi dari Liga 2, Persebaya sadar jika kedua lawan yang akan dihadapi memiliki materi pemain dengan kualitas di atas rata-rata."Justru kami merasa tertantang setelah berada satu grup dengan mereka (Sriwijaya dan Madura United). Mereka tim kuat, dan itu sangat bagus untuk menguji kesolidan dan mental bermain tim kami, terutama untuk pemain pemain muda kami," kata manajer tim, Chairul Basalamah, Senin (12/2).Babak penyisihan grup akan berlangsung 23-28 Feberuari. Sedangkan partai semifinal dan final akan dilangsungkan pada 2 dan 4 Maret. Juara turnamen ini akan diganjar hadiah Rp1 miliar.
  1358 kali
1518514202317 tag