(Foto: bolalob)

Ini Harapan Pelatih SMAN 13 Medan Untuk Talenta Futsal Sumut

Tim futsal SMAN 13 Medan membuktikan bahwa Sumatera Utara juga mempunyai bakat-bakat potensial futsal Indonesia dengan menjuara Grand Champion Pocari Sweat Futsal Championship 2016.

Setelah Syahidansyah Lubis, belum ada lagi talenta-talenta Sumatera Utara yang mampu menembus ke Liga Futsal Profesional atau bahkan timnas futsal. Dedek Dermawan, pelatih SMAN 13 Medan berharap bakat-bakat futsal di Sumut bisa dilirik oleh tim-tim liga pro.

"Saya berharap para pemain Sumut akan lebih banyak yang main di liga. Saya dorong mereka untuk tampil di level yang lebih tinggi seperti liga futsal pro. Selama ini Medan selalu jalan di tempat," ujar Dedek kepada Bolalob.

"Kalau bisa para pemain saya juga nantinya bisa berkuliah dan main di pulau Jawa biar banyak pengalaman. Siapa tahu bisa bermain di liga pro," lanjut Dedek.

Selain itu Dedek berharap momen ini bisa dijadikan motivasi untuk pengurus Asosiasi Futsal Provinsi Sumut untuk menciptakan pelatih-pelatih dari kursus kepelatihan serta menjalankan kompetisi level usia.

PERASAAN KAMU MEMBACA ARTIKEL INI

  • Sebarkan

KOMENTAR


Rekomendasi



Berita Terkait


Hiburan dan Romantika Perserikatan di Piala Presiden 2018
Sepak bola Indonesia pernah memiliki kompetisi yang bersifat kedaerahan. Jauh sebelum era profesional, sepak bola Indonesia dipenuhi dengan semangat fanatisme tiap daerah.Kita semua tahu bagaimana PSSI berdiri. 19 April 1930 menjadi tonggak sejarah, sepak bola Indonesia yang juga ikut berjuang menghadirkan kemerdekaan lewat jalur olah raga.Dahulu kekuatan sepak bola Indonesia memang dikenal dan terpusat di Pulau Jawa. Tak heran, klub-klub sepak bola dari tanah Jawa pun beridir. Tak hanya klub bikinan bangsa Belanda, tapi juga klub milik pribumi juga turut hadir.Gairah sepak bola di Indonesia memang sudah merasuki bangsa Indonesia sejak era 1920-an. Di Batavia (sekarang Jakarta), ada klub Rood-Wit Football en Cricket yang jadi stimulus berkembangnya sepak bola di kota pelabuhan itu.Tentu saja gairah sepak bola yang dihadirkan Rood-Wit bagi masyarakat Batavia meluas ke kota-kota lain. Bahkan, tahun 1915 sudah ada Makassar Voetball Bond (MVB) yang kini dikenal dengan PSM Makassar.Persaingan antar kota itu mulai terjadi pada tahun 1930, saat para pemuda dan tokoh terpelajar Indonesia mendirikan bond (perkumpulan) sepak bola yang membawa nama daerah.[suggestedarticle=3]Saat itu, ada VIJ (Voetballbond Indonesia Jacatra) dari Tanah Abang, Jakarta yang lahir pada tahun 1928. VIJ kini dikenal dengan nama Persija Jakarta.Sebelumnya tahun 1923 ada Vorstenlandsche Voetbal Bond (VBB) yang sekarang menjadi Persis Solo, hadir menjadi bond sepak bola bagi pribumi. Lalu lahir Persebaya Surabaya pada 1927.Belum lagi PSIM Mataram yang hadir di daerah Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1929. Bond dari kota besar di Pulau Jawa lebih dahulu memainkan pertandingan sepak bola dalam format kompetisi.Sejak 1931, PSSI menggelar kompetisi antar daerah. Istilah Kampeonturnoi dipakai oleh PSSI untuk wadah persaingan sepak bola di Indonesia. Banyaknya anggota membuat format kompetisi terbagi dari Districtwestrij (daerah) dan Stedenwestrij (nasional).Dari distrik inilah beberapa persaingan terjadi. Tak hanya kota besar saja, ada tim kota lain yang juga berjuang mendapatkan jatah di steden.Ada saatnya PSIT Tjirebon atau Persitas Tasikmalaja tak mau mengalah dari Persib Bandung. Begitu juga dengan PPVIM Meester Cornelis (Jatinegara) tak ingin takluk dengan VIJ yang merupakan rival di Batavia Area.Mari kita melangkah ke Stedenwesterij. VIJ, Persib, Persis, SIVB (Persebaya), atau PSIM kerap menguasai persaingan di level atas. Dari steden itu, persaingan sudah mulai terbentuk.VIJ selalu bersaing dengan Persis Solo. Selain itu Persis juga punya rivalitas dengan PSIM sejak lama. Terutama jika kita berbicara teritori keduanya yang memang berdekatan.Persis juga memiliki rivalitas dengan SIVB. Keempat tim itu memang selalu panas jika sudah menyangkut persaingan di kompetisi. Namun, semua itu menjdi hiburan masyarakat Indonesia yang sudah mulai demam bola.Beranjak ke Indonesia merdeka. Tim-tim kuat era Perserikatan awal PSSI pun kembali bertemu dengan kekuatan yang berbeda. VIJ sudah merubah namanya menjadi lebih Indonesia, yakni Persija Jakarta. Tak hanya itu, Persija juga berisi pemain-pemain bintang kelas atas Indonesia.Persib Bandung punya generasi emas bersama dengan Omo dan Wowo. Persis Solo, punya Darmadi yang namanya melambung di Kota Solo. Lalu PSIM terus membangun kekuatan setelah hanya meraih sekali juara di Perserikatan awal, tahun 1932.Lalu pada tahun 1950, kekuatan sepak bola pun membuka tim-tim dari daerah lain, seperti dari Sumatera yang mulai membangun kekuatan sepak bolanya. Kota Medan punya PSMS yang berdiri pada 21 April 1950.Sayanganya seiring berjalannya waktu, Solo dan Yogyakarta mulai tertinggal. Kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan menjadi poros sepak bola baru Indonesia.Selama empat era, yakni 1950-an, 1960-an, 1970-an, hingga 1980-an, poros tersebut terus 'berseteru' di kancah sepak bola Indonesia. Kelima tim itu banyak menyumbang pemain untuk timnas Indonesia.Pertarungan klasik antar daerah itu sempat meredup pada era 1990-an, tepatnya pada 1994. Penggabungan tim Perserikatan dengan klub dari Galatama (Liga Sepakbola Utama), menjadi salah satu faktornya.Penggabungan untuk membentuk Liga Indonesia itu membuat peta persaingan baru dengan antara Perserikatan dengan Galatama. Persebaya bisa bertarung dengan Arema Malang, lalu Persija bisa bertemu dengan Pelita Jaya Jakarta dan Persib Bandung bersaing berebut simpati masyarakat Jawa Barat dengan Bandung Raya.Waktu terus berjalan ke arah modernisasi. Tim-tim Perserikatan itu pun berubah menjadi klub dan meninggalkan gaya lama. Badan hukum pun dibentuk untuk mengelola semua elemen tim.Namun persaingan terus berlanjut, terutama untuk klub klasik yang sudah menjadi bagian sepak bola Indonesia sejak lama.Klub Perserikatan pernah mencapai era jayanya pada kompetisi Liga Indoensia periode 1994 hingga 2007. Sebanyak sembilan klub eks Perserikatan meraih gelar juara dan membenamkan klub eks Galatama.Era Indonesia Super League, klub eks Galatama dan klub modern mulai muncul dan memberi perlawanan kepada klub Perserikatan. Bahkan, klub besar seperti Persebaya, PSIS Semarang, dan PSMS sempat terdegradasi.Kompetisi saat ini pun dipenuhi klub-klub baru nan modern. Hal itu memang tidak salah, karena era industri terkini tak bisa ditolak oleh sepak bola Indonesia. Klub-klub baru seperti Bali United, Borneo FC, Kalteng Putra, Madura United sampai Mitra Kukar menjadi warna lain sepak bola Indonesia. Tak hanya modern, tapi pengelolaan mereka juga terbilang professional.Bali United menjadi contoh klub yang mandiri. Tak hanya mengandalkan dana dari penjualan tiket saja, tapi Serdadu Tridatu juga mempunyai bisnis lain untuk menghidupi klub. Sebut saja merchandise, media sosial, hingga kegiatan sponsorship lainnya.[pagebreak]Piala Presiden Sajikan Hiburan dalam Bentuk Reuni Perserikatan[/pagebreak]Piala Presiden 2018 sajikan hiburan dalam bentuk reuni PerserikatanTapi tahun ini, klub Perserikatan mulai menunjukkan tajinya. Persebaya, PSMS, dan PSIS kembali merasakan kompetisi kasta atas usai promosi ke Liga 1. Ketiganya berenuni dengan kawan lama Perserikatan yang masih bertahan di kompetisi atas sepak bola Indonesia.Piala Presiden 2018 sebagai ajang pramusim seakan menjadi wadah reuninya kembali klub eks Perserikatan. Tercatat ada sembilan klub Perserikatan yang mengikuti turnamen tersebut.Sembilan tim itu adalah, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persib Bandung, Persija Jakarta, PSIS Semarang, PSM Makassar, PSMS Medan, dan PSPS Riau.Tim-tim tersebut bermain dengan atraktif dan menghibur. Inilah poin dari hadirnya klub eks Perserikatan di Piala Presiden. Fanatisme dan gairah penonton kembali terlihat dengan reuni Perserikatan.Magnet tim Perserikatan seperti Persebaya, Persib, dan Persija menjadi daya tarik tersendiri. Berkat Piala Presiden romatika Perserikatan beserta pendukungnya kembali hadir.Bayangkan saja, 50.000 penonton hadir di Stadion Gelora Bung Tomo untuk melihat aksi Persebaya kontra Madura United. Lalu ingat pula persaingan Persib Bandung dan PSM Makassar di Grup C. Laga tersebut pun juga menyedot perhatian masyarakat Indonesia.Dulu, keduanya memang rival klasik. Era Wowo melawan Ramang, sampai Ajat Sudrajat versus Anshar Razak pun terngiang dalam ingatan dan cerita kedua pendukung klub tersebut saat ini.Masyarakat lagi-lagi disuguhkan pertandingan klasik di perempat final saat PSMS dan Persebaya bertemu. Kita bisa lihat beberapa tahun ke belakang saat keduanya pernah bertarung hebat di kompetisi 1971.Saat itu Ronny Paslah dkk, berhasil finish di atas Persebaya yang saat itu diperkuat Harry Tjong, Rusdi Bahalwan, dan Jacon Sihasale. Pada Piala Presiden 2018 kenangan duel tersebut kembali terngiang.Hasilnya, pertarungan ketat terjadi. Bajul Ijo dan Ayam Kinantan saling kejar skor di waktu normal, yakni 3-3. Pertandingan pun memasuki babak adu penalti. Anak-anak Medan pun melaju ke semifinal usai menang adu penalti 5-4.Langkah PSMS untuk ke final, terhalang oleh Persija Jakarta. Keduanya merupakan 'kawan lama' yang kerap bertemu dalam pertandingan penentu. Dalam kompetisi Perserikatan PSSI, baik Jakarta dan Medan selalu punya gengsi sendiri. Jakarta mengandalkan permainan teknik sedangkan Medan punya gaya rap-rap yang keras.Rivalitas keduanya sudah terjadi sejak era 1950-an. Era itu Persija terbilang tim kuat. Begitu juga dengan PSMS Medan yang mulai menyusun kekuatan di peta sepak bola Indonesia.Persija di Piala Presiden 2018 kali ini lebih superior dibanding PSMS. Klub yang identik dengan warna merah dan putih itu menang agregat 5-1. Pada leg pertama, Persija menang 4-1 dan leg kedua menang 1-0.Laga tersebut juga menjadi unjuk gigi Marko Simic, penyerang anyar Persija Jakarta. Hattricknya di leg pertama dan satu gol di leg kedua, membuat masyarakat Indonesia deman 'Super Simic'.Macan Kemayoran menjadi wakil klub Perserikatan yang melaju ke final. Persija menantang hadangan klub modern, Bali United. Serdadu Tridatu punya kekuatan yang menakutkan dengan tanpa kekalahan pada setiap pertandingannya.Final yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), menjadi puncak pertunjukan Piala Presiden 2018. Tidak bisa dipungkiri, final Piala Presiden 2018 adalah pertandingan terbaik dan menghibur di awal tahun 2018. Persija yang bermain di rumah mendapat dukungan penuh Jakmania dan warga Jakarta. Sedangkan Bali United tak gentar dan mendatangkan Semeton Dewata (pendukung Bali) ke ibu kota.Kedua tim bermain mengibur, begitu juga dengan kedua pendukung yang saling adu kreativitas. Jakmania membuat koreografi 'Glory' sebelum pertandingan, dan Semeton selalu militan meneriakan yel-yel penyemangat meski jumlahnya kalah banyak dari pendukung tuan rumah.Menariknya, tak ada gesekan berarti dari keduanya. Itulah yang membuat pertandingan berjalan seru dan menghibur. Persija melalui Super Simic membuat tribune SUGBK bergetar berkat dua gol spektakulernya. Sundulan dan salto Simic menjadi gol terindah yang tercipta di final.Belum lagi aksi selebrasi Novri Setiawan yang menghibur. Membuat suasana final layaknya pesta sepak bola Indonesia. Persija pun menang dengan skor 3-0 sekaligus membuat dahaga sepak bola Jakarta terobati dengan trofi juara yang terakhir kali mereka rasakan tahun 2001 di SUGBK.Lebih dari itu, Piala Presiden 2018 dan Persija berhasil membuat romantika Perserikatan hadir ke tengah-tengah masyarakat. Sebuah tim penuh sejarah yang melewati persaingan sengit di Piala Presiden.Romantika dalam kenangan Perserikatan akan sulit dilupakan. Sebuah hiburan yang tertuang di turnamen pramusim selalu dikenang oleh masyarakat. Bukan karena modernitasnya, tapi cerita sejarah dan gairah yang tertuang di di Piala Presiden 2018.
  771 kali
Djadjang Nurdjaman: PSMS Medan Kalah Kelas dari Sriwijaya FC
Pelatih PSMS Medan Djadjang "Djanur" Nurdjaman menilai kelas timnya memang berada di bawah Sriwijaya FC. Hal ini berkaitan dengan kekalahan PSMS 0-4 dari Sriwijaya FC, pada pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Presiden 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (17/2/2018). "Kami kalah cukup telak dari Sriwijaya, selamat untuk mereka. Saya akui bahwa Sriwijaya lebih baik, secara individu lebih baik dari kami. Kami hanya mampu melawan pada 45 menit pertama dan itu pun kami harus kebobolan satu gol dari bola mati," ungkap Djanur.Meski kalah, PSMS berhak pulang dengan kepala tegak, mengingat mereka tidak diunggulkan. Dengan pemain-pemain muda, mereka lolos dari fase grup yang dihuni Persib Bandung, Sriwijaya FC, dan PSM Makassar. Pada babak delapan besar, PSMS Medan menyingkirkan Persebaya Surabaya."Kami akan evaluasi dari hasil ini, banyak belajar, tapi saya pikir langkah kami sejauh ini bisa sampai di Senayan sudah cukup bagus dengan materi pemain yang kami miliki masih muda dan banyak belajar," tambah Djanur. (Goal)
  523 kali
Rahmad Darmawan: Lawan PSMS Medan, Sriwijaya FC Lambat Adaptasi
Pelatih Sriwijaya FC Rahmad "RD" Darmawan menilai timnya lambat panas, pada laga perebutan tempat ketiga Piala Presiden 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (17/2/2018). Menurut RD, hal itu tak lepas dari rotasi pemain yang dilakukannya untuk menjaga kondisi fisik tim.“Saya sadari masa pemulihan fisik kami dengan PSMS lebih sedikit, masa recovery kami enggak sampai dua hari. Jadi terlihat beberapa pemain tak maksimal di babak pertama. Saya coba menguji pemain baru, cuma masih belum menutup permainan seperti biasa,” ujar Rahmad Darmawan, seperti dilansir Goal.[suggestedarticle=3]Meski bermasalah dengan kondisi fisik pemain, Sriwijaya FC mampu memenangi laga melawan PSMS dengan skor 4-0. Gol dicetak oleh Mohamdou Ndiaye (46'), Hamka Hamzah (53'), Manuchekhr Dzhalilov (76'), dan Esteban Vizcarra (86').“Selepas babak kedua kami mulai bisa mengontrol permainan, dan pemain mulai santai, banyak melakukan passing, penetrasi passing, dan banyak membuka peluang dengan kombinasi one to play,” ulas Rahmad.“Selamat pada pemain yang telah memberikan seluruh kemampuan mereka dalam laga kali ini,” tambahnya.
  353 kali
Rebut Peringkat 3, RD Puas dengan Performa SFC di Piala Presiden 2018
Sriwijaya FC berhasil merebut gelar peringkat ketiga Piala Presiden 2018 usai mengalahkan PSMS Medan 4-0, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (17/2/2018). Meski menang, pelatih Rahmad Darmawan akui tim awali laga dengan lambat.Pelatih yang akran disapa RD mengatakan para pemainnya belum bisa nyetel dengan permainan dan strateginya. Namun perubahan di babak kedua membuat Srwijaya FC bisa mematikan pertahanan PSMS Medan.“Kita awali permainan dengan lambat karena pemulihan kita yang lambat. Saya rotasi lima pemain baru sebagai starter, tapi belum berjalan baik,” ujar RD dalam sesi jumpa pers usai pertandingan, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.[suggestedarticle=3]“Baru di babak kedua, kami bisa mengontrol permainan. Kita bisa bermain terbuka dan memanfaatkan set piece,” lanjut pelatih yang juga mantan pemain Persija Jakarta era 1980-an itu.Selain itu, RD pun cukup puas dengan perjalanan timnya selama Piala Presiden 2018. Tapi ada beberapa celah timnya yang harus diperbaiki.“Saya puas transisi dari menyerang ke bertahan. Tapi saya juga ingin transisi sebaliknya berjalan baik. Artinya harus ada perbaikan yang dilakukan. Secara keseluruhan saya puas,” tandasnya.Sriwijaya FC menang setelah bermain beringas di akhir babak pertama dan awal babak kedua. Empat gol Laskar Wong Kito dicetak oleh Mohamdou Ndiaye (46'), Hamka Hamzah (53'), Manuchekhr Dzhalilov (76'), dan Esteban Vizcarra (86').
  383 kali
Rekor Baru, Penjualan Tiket Piala Presiden Tembus Rp 5,8 Miliar
Tiket pertandingan final dan perebutan tempat ketiga Piala Presiden 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (17/2/2018), habis terjual. Uang yang didapat dari penjualan 66.713 tiket mencapai Rp5.893.740.000."Jumlah penjualan tiket, ini menjadi yang terbesar sepanjang sejarah Piala Presiden. Total jumlah penjualan tiket hari ini Rp5.893.740.000," ujar Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden Maruara Sirait, di sela-sela laga perebutan tempat ketiga antara PSMS Medan dan Sriwijaya FC.Pertandingan antara PSMS Medan dan Sriwijaya itu berakhir 4-0 untuk Sriwijaya FC. Gol dicetak oleh Mohamdou Ndiaye (45), Hamka Hamzah (53), Manuchekhr Dzhalilov (46), dan Esteban Vizcarra (86).Laga pamungkas antara Persija Jakarta dan Bali United akan berlangsung pada pukul 19:30 WIB.
  824 kali
Mantan Pelatih Persib Bandung Prediksi Persija Juara Piala Presiden 2018
Pelatih PSMS Medan, Djajang "Djanur" Nurdjaman memprediksi Persija Jakarta akan menjadi juara Piala Presiden 2018. Menurut Djajang, Persija layak meraih trofi tahun ini karena didukung skuat yang mumpuni.Djajang sudah merasakan ketangguhan Persija saat tim yang diasuhnya saat ini, PSMS Medan dua kali dikalahkan Persija di babak semifinal."Saya harus objektif, kalau melihat dua penampilan Persija di semifinal melawan kami Persija menunjukkan tim yang solid dan bagus. Secara tim mereka tidak banyak berubah hanya menambah satu striker dan bek, saya prediksi Persija menang," kata Djajang, Sabtu (17/2/2018).[suggestedarticle=3]Prediksi itu dilontarkan Djajang setelah PSMS Medan kalah 0-4 dari Sriwijaya FC, pada pertandingan tempat ketiga Piala Presiden, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (17/2/2018). Sementara itu, partai final akan mempertemukan Persija Jakarta dan Bali United. Laga ini juga digelar di SUGBK, Jakarta, Sabtu (17/2/2018), pukul 19:30 WIB.Sebagai catatan, Djajang pernah mempersembahkan gelar juara untuk Persib pada 2015.
  634 kali
Menang Telak 4-0, Sriwijaya Duduki Peringkat Ke-3 Piala Presiden 2018
Sriwijaya FC berhasil duduk sebagai peringkat ke-3 Piala Presiden 2018, setelah menang telak 4-0 atas PSMS Medan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (17/2). Kekalahan ini seperti mengulang laga babak penyisihan. Dimana PSMS Medan takluk 3-0 dari Sriwijaya FC saat itu.Diawal babak, jalannya pertandingan berjalan imbang. Kedua tim sama-sama bermain ofensif dengan saling melancarkan beberapa serangan.PSMS membuka peluang dari sisi kanan lewat sepakan terukur dari Sadney Urikhob pada menit ke-15, namun tendangan ke pojok kiri gawang Sriwijaya FC masih bisa ditepis oleh Teja Paku Alam.[suggestedarticle]Selang 10 menit kemudian, pemain muda Sriwijaya FC, Syahrian Abimanyu, mendapat umpan lambung dari sisi kanan pertahanan PSMS. Sayang, sundulan dari Abimanyu masih melambung tinggi di atas mistar gawang PSMS.Jelang akhir babak pertama, Sriwijaya FC berhasil memecahkan kebuntuan lewat sepak pojok yang diambil oleh Makan Konate, bola kemudian berhasil disundul Mahamadou N'Diaye untuk mengubah kedudukan menjadi 1-0 untuk Sriwijaya FC.Skor 1-0 pun bertahan hingga turun minum hingga wasit Mustofa Umarella meniupkan peluit akhir babak pertama.[suggestedarticle]Tujuh menit babak kedua berlangsung, Sriwijaya FC membuat seisi stadion bergemuruh. Kali ini Hamka Hamzah membuktikan ketajamannya lewat sundulan setelah berhasil memanfaatkan umpan dari bola mati pada menit ke-52. Sriwijaya pun memperlebar keunggulan mereka menjadi 2-0.Tertinggal dua gol, membuat PSMS melakukan pergantian pemain. Djadjang Nurdjaman langsung memasukkan dua pemain sekaligus. Yakni Amarzukih menggandikan Fredyan, dan Suhandi masuk menggantikan Abdul Aziz.Namun, tempo permainan dari PSMS Medan menurun dibandingkan awal babak. Hal ini dimanfaatkan oleh Sriwijaya FC yang semakin percaya diri setelah unggul dua gol.[suggestedarticle]Pada menit ke-75 Sriwijaya kembali mengubah papan skror menjadi 3-0 lewat gol dari Manuchekhr Dzhalilov memanfaatkan umpan Patrich Wanggai dari sisi kiri.Sriwijaya FC semakin tak terkejar. Esteban Viskara sukses mengakhiri pesta gol Sriwijaya 4-0 ke gawang PSMS Medan, melalui umpan manis dari sisi kiri pertahanan PSMS Medan, Esteban yang berdiri di kotak penalti sukses menyeploskan bola yang sempat mengenai bek PSMS, Reinaldo Lobo.PSMS Medan mencoba bangkit dengan melancarkan beberapa serangan menjelang akhir pertandingan. Namun, skor 4-0 untuk kemenangan Sriwijaya FC tidak berubah hingga wasit meniup peluit akhir pertandingan.Susunan PemainPSMS Medan: Abdul Rohim; Fredyan Wahyu, Muhammad Robby, Reinaldo Lobo, Jajang Sukmara; Legimin Raharjo, M. Alwi Slamat, Abdul Aziz, Sadney Urikhob, Frets Butuan; Wilfried YessohSriwijaya FC: Teja Pakualam; Alfin Tuasalamony, Hamka Hamzah, Mahamadou N'Diaye, Zalnando; Esteban Vizcarra, Syahrian Abimanyu, Zulfiandi; Konate Makan, Patrich Wanggai, Manuchekhr Dzhalilov
  817 kali
Jadwal Siaran Langsung Final Piala Presiden 2018, Sabtu (17/2)
Final dan perebutan peringkat ketiga Pala Presiden akan digelar Sabtu (17/2). Kedua laga tersebut akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno.Perebutan peringkat ketiga antara PSMS Medan melawan Sriwijaya FC akan mengawali partai puncak Piala Presiden 2018. Laga tersebut akan digelar pukul 15:30 WIB.Setelah laga PSMS melawan Sriwijaya FC, laga puncak Piaal Presiden 2018 antara Persija Jakarta melawan Bali United akan berlangsung. Kedua tim akan tampil pukul 19:30 WIB untuk menentukan siapa yang pantas menjadi juara.[suggestedarticle=3]Kedua pertandingan tersebut juga akan disiarkan di salah satu televisi nasional yaitu Indosiar. Siapa yang akan menjadi juara baru #PialaPresiden2018?Saksikan pertandingan antara Persija Jakarta melawan Bali United sore ini, pukul 18.30 WIB, LIVE dan eksklusif di Indosiar! pic.twitter.com/4DFOmt5kFu — Indosiar (@IndosiarID) February 17, 2018 [pagebreak]Jadwal Lengkap[/pagebreak]Berikut ini jadwal selengkapnya untuk perebutan peringkat ketiga dan gelar juara Piala Presiden 2018:Sabtu 17 Februari 2018PSMS Medan VS Sriwijaya FC - Stadion Utama Gelora Bung Karno - Pukul 15:30 WIBSabtu 17 Februari 2018Persija Jakarta VS Bali United - Stadion Utama Gelora Bung Karno - Pukul 19:30 WIB
  2410 kali
Djanur Terapkan Sepak Bola Modern Tanpa Hilangkan Gaya Rap-rap
Rap-rap menjadi gaya bermain khas dari PSMS Medan. Gaya bermain penuh pressing dan keras itu sudah turun temurun melekat dalam tim PSMS. Pelatih Djadjang Nurdjaman mencoba memodernisasi gaya rap-rap di timnya saat ini.Sebelumnya nama Djadjang Nurdjaman harum bersama Persib Bandung. Ia menyumbang juara Liga Super Indonesia pada tahun 2014 dan Piala Presiden 2015.Djanur (sapaan akrab Djadjang Nurdjaman) mencoba memodifikasi gaya bermain PSMS yang sudah kental dengan rap-rap. Namun, meski mencoba menerapkan gaya modern di PSMS, Djanur tak menghilangkan gaya lama Ayam Kinantan.[suggestedarticle=3]“Saya mencoba mengkombinasikan main bola build up dari belakang ke depan dengan ball possession. Tapi tidak menghilangkan cara bermain ala Medan,” jelas di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Jumat (16/2/2018).“Karena itu saya ingin membenahi permainan PSMS dengan gaya sepak bola sekarang dan sepak bola Medan tak kehilangan ciri khas,” tambah pelatih asal Majalengka, Jawa Barat itu.Djadjang bakal memimpin PSMS yang akan berhadapan denghan Sriwijaya FC dalam perebutan tempat ketiga Piala Presiden 2018, di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, Sabtu (17/2/2018).PSMS gagal melangkah ke final Piala Presiden 2018 usai dikalahkan Persija Jakarta dengan agregat sangat telak, yakni 1-5. Anak-anak Medan kalah dua leg dari Macan Kemayoran. Pada leg pertama PSMS takluk 1-4 dan leg kedua 0-1.
  626 kali
Sebanyak 4000 Tiket Final Piala Presiden 2018 Dijual di Loket SUGBK
Tiket final Piala Presiden 2018 tak hanya dijual secara online, tapi juga dengan cara langsung saat hari pertandingan. Namun, jumlah tiket yang dijual secara langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta.Final Piala Presiden akan mempertemukan Persija Jakarta kontra Bali United. Laga tersebut menyedot animo penonton, terutama dari Jakmania dan warga Jakarta sebagai tuan rumah.Dari data yang dihimpun Organizing Committee (OC) hingga Kamis malam pukul 23.30 WIB (17/2/2018), jumlah tiket yang akan dijual pada hari H, tidaklah terlalu banyak. Tercatat, hanya akan dijual 4.000 tiket. [suggestedarticle=3]Rinciannya, sebanyak 700 tiket kategori 1 barat A akan dilepas ke umum. Lalu 2.700 tiket kategori 1 barat B, dan 600 tiket kategori tengah timur.Penjualan tiket secara on the spot tersebut akan dilakukan pada Sabtu (17/02/2018) mulai pukul 10.00 WIB. Lokasinya penjualannya di ticket box di sebelah timur dan utara Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK).“Kami telah merencanakan sejak awal bahwa penjualan tiket tidak hanya dilakukan dengan cara online. Namun ada yang bisa dibeli secara manual pada hari pertandingan. Penjualan on the spot itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan penonton yang tak mendapatkan tiket via online,” jelas Ketua OC, Berlinton Siahaan.SUGBK tak hanya menggelar laga final Piala Presiden saja. Sebelum pertandingan puncak akan ada laga perebutan peringkat ketiga, antara PSMS Medan kontra Sriwijaya FC.
  619 kali
1518826201770 tag