(Foto: bolalob)

5 Bintang Yang Paling Ditunggu Aksinya di Piala Afrika 2017

Piala Afrika 2017 akan dihelat di Gabon pada 14 Januari hingga 5 Februari. Jelang turnamen, ada lima pemain bintang yang aksinya layak untuk dinanti di turnamen dua tahunan tersebut.

Meski tidak ada Nigeria yang gagal lolos dari babak kualifikasi, turnamen ini tetap menarik untuk disaksikan. Tim-tim tangguh seperti Ghana, Kamerun, dan Aljazair akan bersaing untuk merebut gelar dari tangan Pantai Gading.

Bintang-bintang asal Afrika yang berkiprah di Eropa pun akan tampil di Piala Afrika 2017. Berikut adalah lima bintang yang aksinya paling ditunggu di Piala Afrika 2017.

1. Pierre-Emerick Aubameyang (Gabon)



Hingga paruh musim Bundesliga 2016/17, nama Aubameyang masih bertengger di puncak daftar pencetak gol terbanyak. Total Aubameyang sudah mencetak 16 gol dalam 16 pertandingan. Jumlah ini tiga gol lebih banyak dari penyerang Koeln, Anthony Modeste yang berada di peringkat kedua. Aubameyang terbukti tetap tajam di level tim nasional. Ia sudah mengoleksi 21 gol dalam 52 pertandingan bersama Gabon. Aksi Aubameyang akan menjadi daya tarik tersendiri di Piala Afrika 2017.

2. Serge Aurier (Pantai Gading)



Aurier kerap kali menjadi sorotan karena perilaku kontroversialnya di luar lapangan. Namun di luar itu, pemain berusia 24 tahun tersebut merupakan bek kanan yang tangguh. Musim ini ia sudah tampil dalam 11 pertandingan bersama Paris Saint-Germain. Kiprahnya bersama Pantai Gading layak untuk ditunggu di Gabon nanti.

3. Andre Ayew (Ghana)



Pindah ke West Ham United, penampilan Andre Ayew tidak segemilang seperti saat di Swansea City. Namun Ayew tetaplah merupakan salah satu pemain bintang di Afrika saat ini. Ayew sudah memperkuat Timnas Ghana sejak tahun 2007 dengan 12 caps dalam 71 pertandingan. Dua kali gagal di final Piala Afrika, Ayew tentu bertekad membawa Ghana menjadi juara tahun ini.

4. Riyad Mahrez (Aljazair)



Mahrez merupakan sosok kunci atas keberhasilan Leicester City meraih gelar juara Premier League 2015/16. Penampilan apiknya di level klub bahkan membawanya terpilih menjadi pemain terbaik Afrika 2016. Mahrez kini berpeluang melanjutkan kiprah gemilangnya ke level tim nasional. Aljazair terakhir kali menjadi juara Piala Afrika pada tahun 1990. Kini harapan ada di pundak Mahrez untuk membawa Aljazair menjadi juara setelah 27 tahun.

5. Sadio Mane (Senegal)



Setelah hancur-lebur di Piala Afrika 2012 dan 2015, suporter Senegal kini menaruh harapan di pundak Sadio Mane. Performa apik bersama Liverpool tentu diharapkan menular ke tim nasional. Musim ini, Mane sudah menyumbangkan sembilan gol dalam 19 pertandingan bersama Liverpool. The Reds tentu merasa kehilangan Mane, tapi aksinya bersama Senegal akan sangat ditunggu oleh pencinta sepak bola.
editTerakhir diubah:  11/01/17 - 15:49

PERASAAN KAMU MEMBACA ARTIKEL INI

  • Sebarkan

KOMENTAR


Rekomendasi



Berita Terkait


Juventus Pertimbangkan Gaet Bintang Leicester City
Juventus mulai menatap bursa transfer musim panas. Si Nyonya Tua dikabarkan tertarik untuk mendatangkan gelandang Leicester City, Riyad Mahrez.Pemain berusia 26 tahun tersebut melejit namanya saat membawa The Foxes meraih gelar juara Premier League. Meski performanya cenderung menurun musim ini, Juventus tetap tertarik mendatangkan Mahrez.[suggestedarticle]Seperti yang dilansir oleh Calciomercato.it, Direktur Juventus, Giuseppe Martotta mengincar pemain sayap. Selain Mahrez, Juventus juga mempertimbangkan Federico Bernardeschi dan Douglas Costa.Mahrez musim lalu mencetak 17 gol dan menyumbang 11 assist di Premier League musim lalu. Musim ini ia membuat empat gol dan satu assist di Premier League. Performa apik justru diperlihatkan Mahrez di Liga Champions dimana ia membuat empat gol dari tujuh pertandingan.
visibility  687 kali
Bantahan Pemain Leicester tentang Pemecatan Ranieri
Sempat muncul kabar bahwa pemecatan manajer Leicester City, Claudio Ranieri dilakoni oleh beberapa para pemain The Foxes.Para pemain dikabarkan terlibat dalam hal pemecatan sang manajer, usai tampil buruk di musim ini walau mereka berstatus sebagai juara Liga Primer pada musim lalu.Namun pemain seperti Jamie Vardy pun buka suara tentang isu tidak enak ini. Dirinya menegaskan tak ada intervensi dari pemain untuk masa depan Ranieri di klub.   I must have written and deleted my words to this post a stupid amount of times! I owed Claudio to find the right and appropriate words! Claudio has and always will have my complete respect! What we achieved together and as a team was the impossible! He believed in me when many didn't and for that I owe him my eternal gratitude. There is speculation I was involved in his dismissal and this is completely untrue, unfounded and is extremely hurtful! The only thing we are guilty of as a team is underachieving which we all acknowledge both in the dressing room and publicly and will do our best to rectify. I wish Claudio the very very best in whatever the future holds for him. Thank You Claudio for everything. Sebuah kiriman dibagikan oleh Jamie Vardy (@vardy7) pada Peb 25, 2017 pada 11:33 PST "Saya harus menulis dan menghapus tulisan ini dari postingan ini dalam beberapa kali! Saya berhutang budi pada Claudio untuk menemukan kata yang tepat dan layak untuknya!," ujar Vardy pada postingan di akun Instagramnya."Claudio selalu memiliki rasa hormat dari saya! Apa yang kami raih bersama dan sebagai tim adalah hal yang musthail! Dia percaya pada saya ketika semua orang tidak dan saya berhutdang banyak padanya.""Ada spekulasi mengenai saya terlibat dalam pemecatannya dan itu sangat tidak benar, tak memiliki sumber dan sangat menyakitkan!"Hal terpenting adalah kita tim ini yang tak tampil dengan baik dimana kita tau apa yang terjadi di ruang ganti dan akan terus berusaha sebaik mungkin. Saya berharap Claudio memiliki masa depan yang baik. Terima kasih Claudio untuk semuanya."[suggestedarticle]Beberapa pemain The Foxes pun mengucapkan rasa terima kasih kepada sang manajer: pic.twitter.com/DNUdVhJmSb — Wes Morgan (@Wes5L1nk) February 25, 2017   Big respect to this great man who helped us achieve history , you helped me build myself as a player and gave me the courage I needed , you believed in me from day one . Huge Thank you for everything. God bless Sebuah kiriman dibagikan oleh RM26 London Leicester Paris (@riyadmahrez26.7) pada Peb 25, 2017 pada 7:37 PST   I would like to thank Claudio for everything he's done for Leicester City Football Club, and for me personally. He deserves massive respect and huge credit for what he achieved here with us. Thanks boss. Sebuah kiriman dibagikan oleh Kasper Schmeichel (@kasperschmeichel) pada Peb 24, 2017 pada 12:58 PST
visibility  1171 kali
5 Alasan Leicester City Alami Performa Buruk di Musim 2016/17
Kekalahan 3-0 dari Manchester United dalam lanjutan Liga Primer Inggris matchday ke-24, Minggu (5/2) malam WIB membuat mereka hanya unggul satu poin di atas tim penghuni zona merah Hull City.Performa skuat asuhan Claudio Ranieri musim ini menurun drastis dibandingkan dengan musim lalu ketika mereka mengejutkan banyak kalangan dengan mampu menjadi juara Liga Primer. Pertahanan menjadi kendala utama The Foxes dengan sudah kemasukan 40 gol, lebih banyak ketimbang musim lalu secara keseluruhan (36).Lebih parah lagi Leicester sekarang melewatkan 13 laga tandang di Liga Primer tanpa sekalipun mampu meraih kemenangan, jauh lebih banyak daripada tim-tim lainnya.Berikut beberapa alasan mengapa Leicester tampil buruk musim ini usai meraih gelar juara liga:1. Kehilangan sosok N'Golo Kante di lini tengahSejak awal musim Leicester resmi kehilangan sosok jenderal di lini tengah dalam diri N'Golo Kante. Dalam 37 laga bersama Kante, The Foxes sukses meraih total 80 poin, bandingkan tanpa Kante mereka hanya meraih 63 poin dari 63 laga.Keahlian Kante dalam menghalau serangan lawan terbukti dengan jumlah statistik tekel yang dia miliki. Dalam dua musim di Liga Primer, Kante menjadi pemain yang paling banyak melakukan tekel sukses ketimbang pemain lain.2. Pemain baru tak bisa unjuk gigiDi musim panas manajemen klub merekrut 10 wajah baru guna membantu mereka mengarungi musim dengan status juara bertahan.Nama - nama seperti Ron-Robert Zieler, Luis Hernández, Ahmed Musa hingga Islam Slimani yang memecahkan rekor transfer klub sebesar 28 juta pound.Namun para pemain baru tak bisa membantu kinerja Liecester untuk lebih baik lagi. Pemain seperti Nampalys Mendy lebih banyak berkutat dengan cedera, bahkan Luis Hernandez sudah dilepas ke Malaga di bursa transfer musim dingin ini.Ahmed Musa belum mencetak gol dalam 11 pertandingan di liga. Padahal Ranieri masih memakai 12 nama yang membantu mereka meraih gelar juara musim lalu, namun hal itu tak berbuah manis.3. Performa menurun Jamie Vardy dan Riyad MahrezMusim lalu Mahrez total melakukan 131 dribble yang sukses, hingga pekan ke-23 dirinya hanya membuat 49 kali dribble. Menjadi angka yang drastis. Vardy sendiri sempat gagal mencetak gol dalam 23 pertandingan bersama Leicester musim ini.Musim lalu Vardy berhasil mencetak 24 gol sepanjang musim, saat ini hanya lima gol yang sukses dicetaknya.4. Membagi fokus ke Liga ChampionsAura kompetisi Eropa menjadikan dongeng tersendiri bagi Ranieri dan anak asuhnya. Mereka bisa menyabet tiga kemenangan di awal babak ptuaran grup, empat kemenangan, satu hasil imbang dan satu kali kalah membuat mereka lolos dengan predikat juara grup G diatas Porto.Para pemain Leicester nampak tampil berbeda ketika turun di ajang ini.5. Pemain sudah terlanjur puas pada titel ligaBanyak kabar yang menyebutkan bahwa skuat Leicester mulai tak suka dengan keputusan yang dibuat oleh Ranieri. Entah itu dari segi taktik yang diterapkan ataupun seleksi pemain di setiap pertandingan.Kasper Schmeichel menjadi salah satu pemain yang berani mengungkapkan kekecewaannya musim ini."Musim ini dari atas sampai bawah seperti tak cukup baik," ujar Schmeichel."Banyak faktor yang ada tapi musim ini tak bagus sejeak awal. Waktunya bagi kita dari atas hingga bawah untuk berdiri dan terus berusaha karena kita bisa terdegradasi."Tak ayal muncul isu bahwa Ranieri akan dipecat dari King Power Stadium. Masa depan Ranieri dan Leicester akan ditentukan dalam 14 laga kedepan.
visibility  5478 kali
Ini Rahasia Pelatih Hugo Broos Membawa Kamerun Juara Piala Afrika 2017
Setelah menanti selama 15 tahun, akhirnya Kamerun kembali sukses menjadi juara Piala Afrika 2017, setelah menang di final secara dramastis atas Mesir 2-1, Minggu (5/2) atau Senin dinihari WIB. Lalu, apa rahasia Kemarun hingga kembali sukses?Keberanian pelatih Hugo Broos menjadi penentu awal kebangkitan Kamerun dalam persaingan sepak bola Afrika antara negara kali ini. Hal pertama yang dilakukan pelatih asal Belgia ini, mencoret para pemain tua dari jajaran timnas Kamerun dan digantikan dengan darah muda yang segar.Sejak ditunjuk menjadi pelatih timnas Kamerun, Fenruari 2016, Broos dikritik media lokal karena tak memanggil pemain berpengalaman. Malah ia merekrut para pemain muda, di mana ada yang belum pernah masuk timnas.Tapi, langkah berani Broos itu kemudian berbuah manis, setelah skuadnya mempersembahkan trofi ketika pemain pengganti Vincent Aboubakar mencetak gol penentu juara. Sebelumnya sundulan Nicolas Nkoulou berhasil menyamakan gol Mesir yang dicetak Mohamed Elneny.BACA JUGA: Kamerun Juara Piala Afrika 2017, Kalahkan Mesir di Final"Ketika saya datang ke Kamerun setahun lalu, saya mendapati sekelompok pemain tua dan tak punya motivasi. Saya harus mengubahnya," kata Broos kepada wartawan."Para pemain bermain tanpa antusiasme, tidak bermain demi tim nasional melainkan karena diharuskan, karena pelatih mengundang mereka," sambung dia. "Oleh karena itu saya sedikit mengubah tim, memasukkan beberapa pemain muda dan saya kira itu berhasil," tambah Broos.Mesir diperkuat para pemain berpengalaman, seperti duo Ahmed Fathi dan kiper Essam El Hadary yang sudah tujuh kali memperkuat negaranya pada Piala Afrika, sedangkan Kamerun hanya memiliki Nkoulou yang pernah bermain pada babak knockout Piala Afrika sebelum turnamen edisi ini.Di tengah absennya para pemain senior seperti Joel Matip, Aurelien Chedjou dan Eric-Maxim Choupo Moting, para pemain muda seperti Christian Bassogog dan Fabrice Ondoa bersama dengan bek tengah berpengaruh Michael Ngadeu Ngadjui, telah membuktikan mereka mampu mengemban tugas."Membalas wartawan adalah hal paling bodoh yang bisa dilakukan seorang pelatih," sambung Broos, ketika ditanya apakah dia senang telah membuktikan media massa selama ini salah tentang dia. "Saya bekerja untuk mendapatkan hasil, dan saya senang sekali telah menjuarai Piala Afrika," tutur Broos."Ini awal yang baik. Saya tidak memasalahkan pers mengkritik pemain-pemain saya, yang saya minta adalah mereka adil dan objektif. Saya harap setelah kami juara, hubungan kami dengan media akan membaik," tutupnya.
visibility  732 kali
1486356554750 tag