Tom Henning Ovrebo Buka-bukaan soal Chelsea Vs Barcelona 2009


  •    Tjatur Wiharyo
  •    19/02/18 - 15:40
  •    2784

(Bridge Views)



Semifinal Liga Champions 2008-2009 menyajikan drama Chelsea vs Barcelona. Setelah menahan Barcelona 0-0 pada leg pertama di Camp Nou, Chelsea akhirnya tersingkir secara dramatis karena meraih hasil 1-1 pada leg kedua, di Stamford Bridge, 6 Mei 2009.

Pada leg kedua itu, Chelsea unggul lebih dulu melalui Michael Essien pada menit kesembilan. Chelsea mendapatkan keuntungan ketika bek Barcelona, Eric Abidal, diganjar kartu merah pada menit ke-66. Namun, Chelsea akhirnya kalah akibat gol Andres Iniesta pada menit ke-90+3.

Mengacu statistik, sepanjang laga leg kedua itu, Chelsea melepaskan empat tembakan akurat dari 13 usaha, dengan penguasaan bola 71 persen. Sementara itu, Barcelona melepaskan satu tembakan akurat dari 14 percobaan.

Kekalahan dramatis Chelsea pada 6 Mei 2009 itu juga tak lepas dari sejumlah keputusan wasit asal Norwegia, Tom Henning Ovrebo. Keputusan kontroversial itu antara lain memberikan tendangan bebas di luar kotak penalti untuk pelanggaran yang dilakukan bek Barcelona Dani Alves kepada Florent Malouda di dalam kotak penalti pada menit ke-23.


Pada menit ke-81 dan ke-95, bola mengenai tangan Gerard Pique dan Samuel Eto'o. Kedua kejadian itu terjadi di dalam kotak penalti, tetapi Chelsea tak mendapatkan hadiah penalti.

Kenangan tentang drama Chelsea vs Barcelona dan Ovrebo pada Mei 2009 itu kembali hangat menjelang pertandingan leg pertama 16 besar Liga Champions 2017-2018 antara Chelsea dan Barcelona, di Stamford Bride, Selasa (20/2/2018). Berkaitan dengan itu, Ovrebo yang kini tinggal di Oslo, bicara terang-terangan tentang "insiden" 6 Mei 2009 kepada Marca.

halaman 2 dari 2
Tanya-Jawab Tom Henning Ovrebo Selengkapnya  


Berikut ini adalah kutipan wawancara Ovrebo dan Marca tersebut.

Apa yang Anda lakukan sekarang?
Saya tidak menjadi wasit lagi, meski ketika kolega membutuhkan saran terutama soal aspek mental, saya berusaha membantu. Namun, saya tak terlibat secara rutin.

Kenapa? Wasit top sering dimintai pendapat setelah mereka pensiun.
Saya baik-baik saja. Saya sudah bertahun-tahun bekerja (sebagai wasit) pada akhir pekan, menjadi wasit di mana saja. Sekarang, saya ingin punya waktu luang lebih banyak. Itu saja.

Mari kita langsung saja. Apakah Anda bangga dengan penampilan Anda pada 6 Mei 2009?
Tidak. Tidak sama sekali. Sungguh, itu bukan hari terbaik saya. Namun, kesalahan-kesalahan itu bisa dilakukan oleh wasit dan kadang kala juga dilakukan pemain atau pelatih. Ada hari di mana Anda tidak berada pada level yang seharusnya. Namun, saya tidak bisa bangga akan kinerja saya pada laga itu.

Apakah Anda melihat pertandingan itu secara penuh setelahnya?
Saya melihat pertandingan berulang kali dan saya belajar dari kesalahan. Namun, pertandingan itu terjadi bertahun-tahun lalu dan saya tidak perlu memperbaiki apa pun karena saya sudah tidak menjadi wasit. Saya hanya ingat pertandingan itu lagi ketika jurnalis seperti Anda mengingatkan saya lama jauh hari setelah itu terjadi. Saya tidak keberatan membicarakan itu karena itu adalah bagian dari karier saya.

Chelsea mengklaim mereka seharusnya mendapatkan empat penalti (pada 6 Mei 2009). Menurut Anda, apa kesalahan Anda yang paling serius?
Ada beberapa kesalahan dan setiap orang punya pendapat sendiri. Namun, saya tegaskan, para pemain dan pelatih juga bersalah dan tak ada yang terjadi. Saua bangga karena memiliki karier yang panjang, sempat merasakan berada di level elit Eropa, dan menjadi salah satu yang terbaik setidaknya di negeri saya. Itulah kenapa Anda tidak bisa mengingat saya atau karier saya hanya karena pertandingan itu, sekalipun, sayangnya, beberapa orang seperti Anda, mengingat saya karena pertandingan itu.

Itu adalah pertandingan semifinal Liga Champions...
Ya. Tentu saja itu adalah laga leg kedua semifinal dan semua orang tahu soal peristiwa yang mengejutkan itu. Hanya dari sudut pandang itulah bisa dipahami bahwa banyak orang mengingat saya karena satu hari di Stamford Bridge itu.

Anda ingat tentang handsball Gerard Pique dan Samuel Eto'o?
Tentu saja dan ya, itu adalah handsball. Saya mengambil keputusan di lapangan dan menurut saya, tak tak menarik untuk tahu soal apa yang saya pikirkan mengenai hal-hal yang sudah saya putuskan. Di sisi lain, saya mengerti bahwa orang berpikir lain mengenai keputusan-keputusan yang saya buat. Diskusi tentang itu tak akan ada habisnya.

Michael Ballack sempat memprotes Anda dengan sangat marah. Kenapa Anda tidak memberinya kartu merah?
Setelah pertandingan, mudah mengatakan kenapa Anda mengambil keputusan ini dan bukan keputusan lain. Bagi saya, yang penting adalah belajar dari kesalahan. Saya mengambuil keputusan tidak memberinya kartu merah. Itu saja. Sulit menjelaskan kenapa sejumlah keputusan diambil di lapangan dan bukan lainnya. Mungkin, itu karena tekanan atau pada saat itu, mungkin saja, Ballack melakukan protes di belakang saya dan saya tidak melihatnya. Bisa ada banyak alasan di balik setiap keputusan.

Apakah Anda merasakan tekanan, mengenai handsball Samuel Eto'o sesaat sebelum laga usai?
Tidak. Saya terbiasa menghadapi tekanan. Saat itu, Anda hanya melihat peristiwa itu secara berbeda. Itu saja.

Ovrebo mulai menjadi wasit sejak September 1992. Sejak 1994 hingga 2010, ia menjadi wasit berlisensi FIFA. Sepanjang berkarier sebagai wasit, Ovrebo memimpin 376 pertandingan. Dalam 376 laga itu, Ovrebo mengeluarkan 1004 kartu kuning, 31 kartu kuning kedua, dan 38 kartu merah.

Ovrebo, yang juga berprofesi sebagai psikolog, mendapatkan penghargaa wasit terbaik di Norwegia pada 2001, 2002, 2003, 2005, dan 2006. 
Terakhir diubah:  20/02/18 - 00:39







Berita Terkait


1533398907620

End of content

No more pages to load