Weekend Review

Pemain Asing Bela Sepak Bola Indonesia dan Bicara soal Bom Surabaya

Bek Madura United asal Brasil Fabiano Rosa Beltrame (35 tahun) menilai pemain asing yang mengkritik Liga Indonesia adalah pemain yang gagal. Fabiano sendiri mengaku senang dan bersyukur bermain di Indonesia."Kalau kamu baca berita, di mana-mana ada pengaturan skor. Mungkin, pemain yang berbicara seperti itu, mereka yang tidak sukses di Indonesia dan selalu ingin mengkritik. Orang tetangga saya di Brasil tidak kenal saya. Tapi di sini, orang sangat kenal saya," ujar Fabiano, seperti dilansir Bolasport.[suggestedarticle=3]Fabiano memulai kariernya di Indonesia pada 2005. Sebelum itu, ia membela klub Brasil Sao Jose pada 2001-2005. Selama 13 tahun berkarier di Tanah Air, Fabiano pernah bermain untuk Persmin Minahasa, Persija Jakarta, dan Arema Cronus."Ya, saya sudah berpikir untuk pensiun di Indonesia. Maksimal delapan tahun lagi, saya memutuskan untuk pensiun," ungkap Fabiano."Saya sudah 14 tahun di sini meskipun belum mendapatkan paspor. Tetapi, saya kira saya sudah seperti warga Indonesia dan saya mau tetap di sini," lanjut Fabiano.[pagebreak]Soal Bom Surabaya[/pagebreak]Kecintaan akan Indonesia membuat Fabiano sedih ketika mengetahui adanya insiden ledakan bom bunuh diri di Surabaya, pada Minggu (13/5/2018). Menurut Fabiano, saat peristiwa itu terjadi, anak dan istrinya berada di Surabaya, sementara Fabiano masih berada di Jakarta etelah melakoni pertandingan Liga 1 melawan Persija Jakarta, di Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (12/5/2018)."Anak dan istri saya tinggal di Surabaya. Saya sangat kaget, khawatir dan sedih mendengar kabar bom tersebut. Saya pun segera menelepon keluarga. Bersyukur anak istri dalam keadaan baik," aku Fabiano."Karena apa pun pilihan keyakinan dan agama, kami semua harus menghormati hal tersebut. Itulah yang saya lihat di Indonesia selama ini. Harapan saya hal ini jangan pernah terjadi lagi, karena kebersamaan adalah sesuatu yang indah. Semoga damai selalu bersama kita semua," sambung Fabiano.

Indonesian Digital Association Rilis Kampanye #BersatuIndonesiaku

Kampanye digital ini membawa pesan persatuan Indonesia dan semangat Bhinneka Tunggal Ika   Dengan makin gencarnya isu radikalisme dan terorisme di Indonesia, penggunaan kanal digital sebagai jalur utama penebaran teror dan doktrin makin mengkhawatirkan bagi persatuan bangsa. Indonesian Digital Association (IDA), sebuah asosiasi bagi para pelaku industri digital Indonesia, menginisiasi kampanye#BersatuIndonesiaku yang disebar di berbagai kanal media sosial, yang bertujuan untuk memerangi paham radikalisme dan terorisme di kanal digital.[suggestedarticle=3]   Paham radikalisme kini makin kuat mengincar generasi muda Indonesia yang sudah aktif di dunia digital, dan kini sudah piawai dalam menggunakan kanal media sosial dan situs berita fiktif sebagai corong propaganda. Sebagai perhimpunan yang bertujuan menjadi penggerak; pemandu; dan pengawas industri digital Indonesia, IDA merilis kampanye #BersatuIndonesiaku dalam upaya menyebarkan kesadaran masyarakat Indonesia untuk lebih bijak dalam menggunakan kanal media sosial, dengan pesan persatuan Indonesia dan semangat keberagaman Bhinneka Tunggal Ika.   “Media mainstream dan media sosial kini tengah dihadapkan dengan penyebaran pesan hoax yang terstruktur dan meluas. Masyarakat perlu menghadapi fenomena ini dengan pesan yang positif, dan berlandaskan spirit Bhinneka Tunggal Ika dari Indonesia. Inilah yang menjadi titik awal ide kampanye #BersatuIndonesiaku, yang harapannya dapat mengedukasi masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi isu di media sosial, khususnya dalam isu radikalisme dan terorisme,” ujar Ronny W Sugiadha, Ketua IDA.   Selaku asosiasi yang didirikan dan membawahi publisher-publisher digital besar di Indonesia seperti Kompas.com, KASKUS, Tribunnews, Detik.com, Kapanlagi Youniverse, MetroTVNews, Okezone, IDNtimes, DailySocial.id, Kumparan, VIVA, Tempo.co , Tirto.id, Opini.id dan puluhan publisher digital lainnya, IDA melihat edukasi kepada masyarakat menjadi luar biasa penting untuk menghentikan penyebaran paham radikalisme dan terorisme melalui kanal digital.    IDA menghimbau masyarakat pengguna media sosial untuk menjalankan semangat dari kampanye ini dengan langkah-langkah sederhana seperti: tidak menjalin keterikatan (follow, like, atau comment) dengan akun-akun yang tidak jelas kepemilikannya, tidak menyebarkan berita yang tidak bisa divalidasi, melaporkan akun-akun yang secara jelas berpihak pada terorisme, dan menyebarkan konten positif mengenai Indonesia dan keberagaman.   Sejalan dengan ide awal dari kampanye #BersatuIndonesiaku, setiap anggota dari IDA sepakat untuk tidak mempublikasi dan berafiliasi dengan kelompok pendukung radikalisme dan terorisme, dengan tidak mengundang mereka sebagai narasumber.   “Kami berharap kampanye #BersatuIndonesiaku dapat memberikan serangkaian dampak positif bagi pemanfaatan media sosial di masyarakat Indonesia. Kami, sebagai pelaku industri digital Indonesia, ingin masyarakat semakin bijak dalam mencari dan menyebarkan informasi di berbagai kanal online, guna meredam suara radikalisme dan terorisme di Tanah Air dan dunia,” ujar Steve Christian, CEO KLY.

Terkait Teror Bom, Bintang Timur Surabaya: Tindakan Biadab!

Tim futsal Bintang Timur Surabaya, mengutuk keras aksi teror bom yang telah mengepung kota Surabaya selama dua hari belakangan.Tiga bom meledak di tiga gereja pada Minggu (13/4) pagi di Surabaya. Sedangkan malam hari kota tetangga Surabaya, Sidoarjo, digegerkan dengan ledakan di Rusunawa Wonocolo. Sementara Senin (14/5) ini bom kembali meledak di Mapolrestabes Surabaya.[suggestedarticle=3]"Kami berduka cita atas korban yang meninggal dari musibah ini. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," kata Dimas Bagus Kurniawan, pemilik BTS. "Terorisme yang terjadi ini, merupakan tindakan biadab yang hanya mengatasnamakan agama," ujar Dimas.Dimas sendiri mengabarkan bahwa para pemain, staf kepelatihan dan manajemen Bintang Timur Surabaya yang berdomisili di Sidoarjo dan Surabaya aman.Selain itu, segenap manajemen Bintang Timur Surabaya mengajak warga ibukota Jawa timur tersebut untuk tidak takut terhadap serangan teror yang terjadi.   Teror bom di Surabaya belum berhenti pasca ledakan di 3 gereja pada Minggu (13/5) kemarin. Bom susulan juga terjadi tadi malam di Sidoarjo serta Pagi tadi sekitar pkl 08:50 di Polrestabes Surabaya. Bintang Timur Surabaya mengucapkan duka mendalam untuk keluarga korban yang ditinggalkan semoga diberikan kekuatan. Hindari jalan tengah kota untuk sementara yo rek! Tetap berdoa&semoga teroris-teroris segera dimusnahkan dari muka bumi ini. Tetap waspada yo lur 🙏🏼 #suroboyowani #kamibersamapolri #bintangtimursurabaya #salamsatunyaliwani A post shared by Bintang Timur Surabaya (@bintangtimur.surabaya) on May 13, 2018 at 10:52pm PDT

Indonesia Berduka, Bambang Pamungkas Serukan Persatuan

Pesepak bola legendaris Indonesia, Bambang "Bepe" Pamungkas, angkat bicara mengenai insiden ledakan bom bunuh diri, di Surabaya, Minggu (13/5/2018) pagi WIB. Menurut Bambang, peristiwa itu mendukakan seluruh masyarakat Indonesia.Peristiwa bom meledak pertama terjadi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, di Jalan Ngagel Madya, sekitar pukul 06:30 WIB. Pada sekitar pukul 07:15 WIB, bom meledak di Gereja Kristen Indonesia (GKI), di Jalan Raya Diponegoro. Terakhir, bom meledak di di Gereja Pantekosta, di Jalan Arjuno, pada sekitar pukul 07:53 WIB. Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas peristiwa bom di #Surabaya pagi ini. Duka Surabaya, duka Indonesia, duka kita semua. Rapatkan barisan agar #SurabayaKuat, #IndonesiaKuat, dan #KitaSemuaKuat#IndonesiaBisa ✊🏻 — •Bambang Pamungkas• (@bepe20) May 13, 2018 Sejumlah aksi solidaritas dan kemanusiaan juga dilakukan pelaku sepak bola Indonesia. Pertandingan Liga 1 antara Arema FC dan PSM Makassar, misalnya, tetap berlangsung beberapa jam setelah peristiwa ledakan terjadi.Sebelum kick-off, para pemain, ofisial, dan suporter mengheningkan cipta untuk korban ledakan bom bunuh diri Surabaya. Para pemain juga mengenakan pita hitam sebagai bentuk duka cita dan solidaritas.[suggestedarticle=3]“Harapannya sepak bola menjadi media yang tepat untuk memperjuangkan nilai humanisme. Atas nama kemanusiaan, semua pihak harus bersatu melawan segala bentuk teror tersebut," ujar Media Officer Arema, Sudarmaji.
1526211602075 false