Hiburan dan Romantika Perserikatan di Piala Presiden 2018

Sepak bola Indonesia pernah memiliki kompetisi yang bersifat kedaerahan. Jauh sebelum era profesional, sepak bola Indonesia dipenuhi dengan semangat fanatisme tiap daerah.Kita semua tahu bagaimana PSSI berdiri. 19 April 1930 menjadi tonggak sejarah, sepak bola Indonesia yang juga ikut berjuang menghadirkan kemerdekaan lewat jalur olah raga.Dahulu kekuatan sepak bola Indonesia memang dikenal dan terpusat di Pulau Jawa. Tak heran, klub-klub sepak bola dari tanah Jawa pun beridir. Tak hanya klub bikinan bangsa Belanda, tapi juga klub milik pribumi juga turut hadir.Gairah sepak bola di Indonesia memang sudah merasuki bangsa Indonesia sejak era 1920-an. Di Batavia (sekarang Jakarta), ada klub Rood-Wit Football en Cricket yang jadi stimulus berkembangnya sepak bola di kota pelabuhan itu.Tentu saja gairah sepak bola yang dihadirkan Rood-Wit bagi masyarakat Batavia meluas ke kota-kota lain. Bahkan, tahun 1915 sudah ada Makassar Voetball Bond (MVB) yang kini dikenal dengan PSM Makassar.Persaingan antar kota itu mulai terjadi pada tahun 1930, saat para pemuda dan tokoh terpelajar Indonesia mendirikan bond (perkumpulan) sepak bola yang membawa nama daerah.[suggestedarticle=3]Saat itu, ada VIJ (Voetballbond Indonesia Jacatra) dari Tanah Abang, Jakarta yang lahir pada tahun 1928. VIJ kini dikenal dengan nama Persija Jakarta.Sebelumnya tahun 1923 ada Vorstenlandsche Voetbal Bond (VBB) yang sekarang menjadi Persis Solo, hadir menjadi bond sepak bola bagi pribumi. Lalu lahir Persebaya Surabaya pada 1927.Belum lagi PSIM Mataram yang hadir di daerah Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1929. Bond dari kota besar di Pulau Jawa lebih dahulu memainkan pertandingan sepak bola dalam format kompetisi.Sejak 1931, PSSI menggelar kompetisi antar daerah. Istilah Kampeonturnoi dipakai oleh PSSI untuk wadah persaingan sepak bola di Indonesia. Banyaknya anggota membuat format kompetisi terbagi dari Districtwestrij (daerah) dan Stedenwestrij (nasional).Dari distrik inilah beberapa persaingan terjadi. Tak hanya kota besar saja, ada tim kota lain yang juga berjuang mendapatkan jatah di steden.Ada saatnya PSIT Tjirebon atau Persitas Tasikmalaja tak mau mengalah dari Persib Bandung. Begitu juga dengan PPVIM Meester Cornelis (Jatinegara) tak ingin takluk dengan VIJ yang merupakan rival di Batavia Area.Mari kita melangkah ke Stedenwesterij. VIJ, Persib, Persis, SIVB (Persebaya), atau PSIM kerap menguasai persaingan di level atas. Dari steden itu, persaingan sudah mulai terbentuk.VIJ selalu bersaing dengan Persis Solo. Selain itu Persis juga punya rivalitas dengan PSIM sejak lama. Terutama jika kita berbicara teritori keduanya yang memang berdekatan.Persis juga memiliki rivalitas dengan SIVB. Keempat tim itu memang selalu panas jika sudah menyangkut persaingan di kompetisi. Namun, semua itu menjdi hiburan masyarakat Indonesia yang sudah mulai demam bola.Beranjak ke Indonesia merdeka. Tim-tim kuat era Perserikatan awal PSSI pun kembali bertemu dengan kekuatan yang berbeda. VIJ sudah merubah namanya menjadi lebih Indonesia, yakni Persija Jakarta. Tak hanya itu, Persija juga berisi pemain-pemain bintang kelas atas Indonesia.Persib Bandung punya generasi emas bersama dengan Omo dan Wowo. Persis Solo, punya Darmadi yang namanya melambung di Kota Solo. Lalu PSIM terus membangun kekuatan setelah hanya meraih sekali juara di Perserikatan awal, tahun 1932.Lalu pada tahun 1950, kekuatan sepak bola pun membuka tim-tim dari daerah lain, seperti dari Sumatera yang mulai membangun kekuatan sepak bolanya. Kota Medan punya PSMS yang berdiri pada 21 April 1950.Sayanganya seiring berjalannya waktu, Solo dan Yogyakarta mulai tertinggal. Kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Makassar, dan Medan menjadi poros sepak bola baru Indonesia.Selama empat era, yakni 1950-an, 1960-an, 1970-an, hingga 1980-an, poros tersebut terus 'berseteru' di kancah sepak bola Indonesia. Kelima tim itu banyak menyumbang pemain untuk timnas Indonesia.Pertarungan klasik antar daerah itu sempat meredup pada era 1990-an, tepatnya pada 1994. Penggabungan tim Perserikatan dengan klub dari Galatama (Liga Sepakbola Utama), menjadi salah satu faktornya.Penggabungan untuk membentuk Liga Indonesia itu membuat peta persaingan baru dengan antara Perserikatan dengan Galatama. Persebaya bisa bertarung dengan Arema Malang, lalu Persija bisa bertemu dengan Pelita Jaya Jakarta dan Persib Bandung bersaing berebut simpati masyarakat Jawa Barat dengan Bandung Raya.Waktu terus berjalan ke arah modernisasi. Tim-tim Perserikatan itu pun berubah menjadi klub dan meninggalkan gaya lama. Badan hukum pun dibentuk untuk mengelola semua elemen tim.Namun persaingan terus berlanjut, terutama untuk klub klasik yang sudah menjadi bagian sepak bola Indonesia sejak lama.Klub Perserikatan pernah mencapai era jayanya pada kompetisi Liga Indoensia periode 1994 hingga 2007. Sebanyak sembilan klub eks Perserikatan meraih gelar juara dan membenamkan klub eks Galatama.Era Indonesia Super League, klub eks Galatama dan klub modern mulai muncul dan memberi perlawanan kepada klub Perserikatan. Bahkan, klub besar seperti Persebaya, PSIS Semarang, dan PSMS sempat terdegradasi.Kompetisi saat ini pun dipenuhi klub-klub baru nan modern. Hal itu memang tidak salah, karena era industri terkini tak bisa ditolak oleh sepak bola Indonesia. Klub-klub baru seperti Bali United, Borneo FC, Kalteng Putra, Madura United sampai Mitra Kukar menjadi warna lain sepak bola Indonesia. Tak hanya modern, tapi pengelolaan mereka juga terbilang professional.Bali United menjadi contoh klub yang mandiri. Tak hanya mengandalkan dana dari penjualan tiket saja, tapi Serdadu Tridatu juga mempunyai bisnis lain untuk menghidupi klub. Sebut saja merchandise, media sosial, hingga kegiatan sponsorship lainnya.[pagebreak]Piala Presiden Sajikan Hiburan dalam Bentuk Reuni Perserikatan[/pagebreak]Piala Presiden 2018 sajikan hiburan dalam bentuk reuni PerserikatanTapi tahun ini, klub Perserikatan mulai menunjukkan tajinya. Persebaya, PSMS, dan PSIS kembali merasakan kompetisi kasta atas usai promosi ke Liga 1. Ketiganya berenuni dengan kawan lama Perserikatan yang masih bertahan di kompetisi atas sepak bola Indonesia.Piala Presiden 2018 sebagai ajang pramusim seakan menjadi wadah reuninya kembali klub eks Perserikatan. Tercatat ada sembilan klub Perserikatan yang mengikuti turnamen tersebut.Sembilan tim itu adalah, Persebaya Surabaya, Persela Lamongan, Perseru Serui, Persib Bandung, Persija Jakarta, PSIS Semarang, PSM Makassar, PSMS Medan, dan PSPS Riau.Tim-tim tersebut bermain dengan atraktif dan menghibur. Inilah poin dari hadirnya klub eks Perserikatan di Piala Presiden. Fanatisme dan gairah penonton kembali terlihat dengan reuni Perserikatan.Magnet tim Perserikatan seperti Persebaya, Persib, dan Persija menjadi daya tarik tersendiri. Berkat Piala Presiden romatika Perserikatan beserta pendukungnya kembali hadir.Bayangkan saja, 50.000 penonton hadir di Stadion Gelora Bung Tomo untuk melihat aksi Persebaya kontra Madura United. Lalu ingat pula persaingan Persib Bandung dan PSM Makassar di Grup C. Laga tersebut pun juga menyedot perhatian masyarakat Indonesia.Dulu, keduanya memang rival klasik. Era Wowo melawan Ramang, sampai Ajat Sudrajat versus Anshar Razak pun terngiang dalam ingatan dan cerita kedua pendukung klub tersebut saat ini.Masyarakat lagi-lagi disuguhkan pertandingan klasik di perempat final saat PSMS dan Persebaya bertemu. Kita bisa lihat beberapa tahun ke belakang saat keduanya pernah bertarung hebat di kompetisi 1971.Saat itu Ronny Paslah dkk, berhasil finish di atas Persebaya yang saat itu diperkuat Harry Tjong, Rusdi Bahalwan, dan Jacon Sihasale. Pada Piala Presiden 2018 kenangan duel tersebut kembali terngiang.Hasilnya, pertarungan ketat terjadi. Bajul Ijo dan Ayam Kinantan saling kejar skor di waktu normal, yakni 3-3. Pertandingan pun memasuki babak adu penalti. Anak-anak Medan pun melaju ke semifinal usai menang adu penalti 5-4.Langkah PSMS untuk ke final, terhalang oleh Persija Jakarta. Keduanya merupakan 'kawan lama' yang kerap bertemu dalam pertandingan penentu. Dalam kompetisi Perserikatan PSSI, baik Jakarta dan Medan selalu punya gengsi sendiri. Jakarta mengandalkan permainan teknik sedangkan Medan punya gaya rap-rap yang keras.Rivalitas keduanya sudah terjadi sejak era 1950-an. Era itu Persija terbilang tim kuat. Begitu juga dengan PSMS Medan yang mulai menyusun kekuatan di peta sepak bola Indonesia.Persija di Piala Presiden 2018 kali ini lebih superior dibanding PSMS. Klub yang identik dengan warna merah dan putih itu menang agregat 5-1. Pada leg pertama, Persija menang 4-1 dan leg kedua menang 1-0.Laga tersebut juga menjadi unjuk gigi Marko Simic, penyerang anyar Persija Jakarta. Hattricknya di leg pertama dan satu gol di leg kedua, membuat masyarakat Indonesia deman 'Super Simic'.Macan Kemayoran menjadi wakil klub Perserikatan yang melaju ke final. Persija menantang hadangan klub modern, Bali United. Serdadu Tridatu punya kekuatan yang menakutkan dengan tanpa kekalahan pada setiap pertandingannya.Final yang diadakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), menjadi puncak pertunjukan Piala Presiden 2018. Tidak bisa dipungkiri, final Piala Presiden 2018 adalah pertandingan terbaik dan menghibur di awal tahun 2018. Persija yang bermain di rumah mendapat dukungan penuh Jakmania dan warga Jakarta. Sedangkan Bali United tak gentar dan mendatangkan Semeton Dewata (pendukung Bali) ke ibu kota.Kedua tim bermain mengibur, begitu juga dengan kedua pendukung yang saling adu kreativitas. Jakmania membuat koreografi 'Glory' sebelum pertandingan, dan Semeton selalu militan meneriakan yel-yel penyemangat meski jumlahnya kalah banyak dari pendukung tuan rumah.Menariknya, tak ada gesekan berarti dari keduanya. Itulah yang membuat pertandingan berjalan seru dan menghibur. Persija melalui Super Simic membuat tribune SUGBK bergetar berkat dua gol spektakulernya. Sundulan dan salto Simic menjadi gol terindah yang tercipta di final.Belum lagi aksi selebrasi Novri Setiawan yang menghibur. Membuat suasana final layaknya pesta sepak bola Indonesia. Persija pun menang dengan skor 3-0 sekaligus membuat dahaga sepak bola Jakarta terobati dengan trofi juara yang terakhir kali mereka rasakan tahun 2001 di SUGBK.Lebih dari itu, Piala Presiden 2018 dan Persija berhasil membuat romantika Perserikatan hadir ke tengah-tengah masyarakat. Sebuah tim penuh sejarah yang melewati persaingan sengit di Piala Presiden.Romantika dalam kenangan Perserikatan akan sulit dilupakan. Sebuah hiburan yang tertuang di turnamen pramusim selalu dikenang oleh masyarakat. Bukan karena modernitasnya, tapi cerita sejarah dan gairah yang tertuang di Piala Presiden 2018.

Persebaya Surabaya Belum Terima Hadiah Juara Liga 2 2017

Pihak manajemen Persebaya Surabaya mengungkapkan, belum menerima hadiah juara Liga 2 musim 2017 dari pengeloa liga tersebut, PT Liga Indonesia Baru (PT.LIB). Hal ini diungkapkan manajer Persebaya, Chairul Basalamah yang meminta pihaknya PT LIB untuk segera melunasinya. Persebaya pun sempat berkomunikasi dengan direktur utama PT. LIB, Berlinton Siahaan. Namun, yang apa yang didapatinya tidak sesuai dengan harapannya. "Sudah tanya juga ke Pak Berlinton, tapi tetap tidak jelas. Ini jangan sampai jadi preseden buruk yang setiap tahun terjadi," kata Chairul seperti dikutip Goal.com, Rabu (14/2/2018).[suggestedarticle=3]Lebih dari itu, pihaknya pun enggan membicarakan ini ke publik andai PT LIB bicara dengan baik-baik. Penyakit ini pun telah terjadi berulang-ulang, bahkan menurutnya, LIB meminta agar uang hadiah tersebut diikhlaskan."Selama masih bisa komunikasi, ya ayo. Tapi, ini tidak ada komunikasi, jadi seperti kami mengejar-ngejar padahal ini kan hak kami. Dari awal sudah dijanjikan ada hadiahnya, ya harusnya tidak bisa seperti ini," ucap Chairul. [pagebreak]Penyakit Lama[/pagebreak]"Penyakit ini sudah pernah terjadi dan teman-teman (klub) yang lama juga mengatakan memang seperti ini. Bahkan menjadi bahan guyonan mereka bilang ikhlaskan saja. Menurut saya, ini tidak baik untuk liga," tutur Chairul.Tidak hanya Persebaya, PT LIB pun masih menunggak kepada peserta Liga 1 musim lalu. Mereka belum melunasi uang subsidi klub serta hak siar dan rating kepada semua kontestan kompetisi kasta teratas tersebut. LIB pun sempat beralasan, pihaknya terkendala dengan sponsor. Alhasil, mereka meminta klub bersabar dengan situasi yang terjadi ini. (Bobotoh.id)
1518741001961 false