PSSI Menanti Wasit dari Jepang dan Korsel

PSSI tetap melanjutkan program penggunaan wasit asing untuk pertandingan Liga 1 Indonesia 2017. Setelah yang datang dari Australia, Kyrgyzstan dan Iran, kini PSSI masih menunggu wasit dari Jepang dan Korea Selatan.Menurut Sekjen Ratu Tisha Destria, tidak ada penghentian program ini, yang ada hanya penjadwalan sesuai kebutuhan. "Tidak ada penundaan program wasit asing. Yang kami lakukan adalah penyesuaian waktu dengan proses penyelesaian administrasi," ujar Ratu Tisha seperti dikutip dari laman PSSI, Jakarta, Rabu (30/8).PSSI sendiri kini masih menunggu kesediaan wasit dari Jepang, Korea Selatan, Uzbekistan, Australia, Iran dan Kyrgyzstan untuk memimpin laga Liga 1.BACA JUGA: Pemain Bali United Ini Batal Dipanggil Timnas IndonesiaSelain memimpin pertandingan, wasit-wasit asing ini juga berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan wasit lokal dalam sebuah kegiatan khusus yang difasilitasi oleh PSSI.Tak cuma mendatangkan wasit asing, PSSI nantinya juga mengirim beberapa wasit nasional untuk memimpin pertandingan dan berbagi pengalaman dan pengetahuan di luar negeri.Sementara terkait perizinan kerja wasit asing di Indonesia, PSSI telah melakukan koordinasi dan bergerak sesuai arahan arahan dari Kementerian Ketenagakerjaan dan pihak Direktorat Jenderal Imigrasi, Kementerian Hukum dan HAM.Adapun prosedur perizinan tenaga kerja asing di sepak bola dan beberapa olahraga lain, telah disepakati dalam rapat yang digelar pada Senin (28/8) yang melibatkan Kementerian Ketenagakerjaan, Ditjen Imigrasi, Kementerian Pemuda dan Olahraga, BOPI, PSSI, PBVSI dan PERBASI.Dalam rapat itu diputuskan bahwa wasit asing yang memimpin liga harus berada di Indonesia maksimal selama dua pekan. Wasit asing itu akan melakukan uji coba memimpin pertandingan yang penyelenggaraannya di bawah naungan PSSI. Penugasan wasit tersebut berdasarkan mandat dari federasi tempat asalnya dan sebagai bentuk kerja sama dalam ruang lingkup Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).Adapun di sektor sepak bola setidaknya ada tiga subyek yang dipekerjakan sebagai tenaga kerja asing (TKA) yaitu pemain, pelatih atau ofisial dan wasit.Secara umum prosedur perizinan tenaga kerja asing dibagi dalam beberapa tahap. Khusus untuk pemain, prosedur awalnya adalah pengajuan rencana penggunaan pemain asing oleh klub kepada PSSI untuk administrasi melalui Transfer Matching System (TMS).Sementara pelatih atau ofisial dan wasit, langsung mengajukan permohonan pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) kepada Kementerian Tenaga Kerja. Permohonan RPTKA ini yang mengajukan adalah pihak yang memberi kerja TKA. Untuk perekrutan pemain, bagi klub yang sudah memenuhi TMS maka harus melanjutkan ke tahap permohonan RPTKA ini.Prosedur selanjutnya adalah pengajuan Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) kepada Kementerian Tenaga Kerja. Pengajuan IMTA ini tentunya setelah RPTKA sudah disah

Wasit Asing Bawa Alat Tugas Komunikasi Sendiri dari Negaranya

Memang harus diakui, soal detail wasit asing lebih baik dibanding wasit lokal. Tengok, saat wasit asing asal Australia bertugas mereka menggunakan alat komunikasi di lapangan antaralain microphone dan earphone.Mengagetkannya, alat tersebut mereka bawa sendiri dari negaranya, karena pihak PT.Liga Indonesia Baru (PT.LIB) tak melengkapi alat bantu bertugas tersebut kepada mereka.Alat ini cukup efektif mereka gunakan saat memimpin partai Persib Bandung kontra PS TNI di Stadion Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Sabtu (5/8).[suggestedarticle]Meski sempat diprotes wasit lokal, performa mereka memberikan pelajaran kepada sepak bola Indonesia tentang pentingnya totalitas dalam memimpin laga, termasuk alat bantu yang harus digunakan untuk kelancaran tugas.Padahal, alat komunikasi seperti itu sudah biasa digunakan dalam pertandingan internasional dan liga-liga Eropa dan beberapa negara maju di Asia.Namun untuk di kompetisi Indonesia, hal tersebut merupakan yang pertama kali. Yang membuat kagum adalah wasit-wasit tersebut ternyata membawa sendiri alat itu dari negara asalnya.Shaun Robert Evans, wasit tengah dalam laga tersebut menjelaskan bahwa alat komunikasi itu sengaja dibawa karena dan dua rekannya yang lain, berinisiatif membawa perlengkapan wasit modern tersebut."Kami semua sudah terbiasa menggunakan alat komunikasi ini pada level kompetisi internasional, Asia dan liga domestik," katanya kepada awak media di Bandung. Selain Evans dua orang asisten yang lain adalah Wilson Kenneth Brown dan George Lankrindis.Wasit asing ini setidaknya mengajarkan pentingnya memodernisasi perlengkapan untuk memimpin pertandingan. Padahal seharusnya kelengkapan tugas berupa alat seperti ini disediakan oleh pengelola kompetisi.

Jangan Kaget! Bayaran Wasit Asing 4 Kali Lipat Wasit Lokal

Mulai pertandingan Persib Bandung vs PS TNI di Stadion Si Jalak Harupat, Sabtu (5/8), PSSI menerjunkan wasit asing untuk laga Liga 1 Indonesia 2017. Diperkirakan wasit asing mendapatkan bayaran empat kali lipat dari wasit lokal.Sebanyak enam wasit didatangkan pada gelombang pertama yang berasal dari Australia dan Kyrgyzstan. Kemudian gelombang kedua berganti yang bertugas adalah wasit dari Jepang dan Iran.Sampai saat ini PSSI belum mengungkapkan jumlah bayaran untuk wasit asing yang bertugas. Sementara untuk wasit lokal, menurut Anggota Komite Wasit PSSI, Yesayas Leihitu, wasit Indonesia yang bertugas di Liga 1 mendapatkan bayaran Rp 5 juta per pertandingan.Jumlah tersebut belum berubah sejak 2007. Sementara untuk asisten wasit menerima Rp 2,5 juta per pertandingan. Untuk Wasit Liga 2 menerima sebesar Rp 3,5 juta. Biaya wasit ini ditanggung oleh operator Liga 1 Indonesia, yakni PT Liga Indonesia Baru.[suggestedarticle]Lantas, berapa bayaran yang bisa diterima wasit asing di negaranya? Jika dibandingkan dengan wasit lokal, bayaran mereka mencapai empat kali lipat.Tengok, di Australia wasit A-League mendapatkan bayaran sekitar Rp 18 juta untuk sekali memimpin pertandingan. Plus uang saku untuk akomodasi dan penginapan sekitar Rp 4,6 juta. Mereka juga mendapatkan dana atau sebagai uang muka sebesar Rp 66,6 juta di awal musim.Jadi jangan heran kalau kualitas wasit asing dalam memimpin pertandingan bisa lebih baik di banding wasit lokal. Mereka juga secara berkala mendapatkan pengetahuan tambahan untuk wasit dan tes kesehatan.
1502099101667 false